Tuesday, June 2, 2015

Dan hidup itu bukan cuma LARI


Bulan Maret-April 2015 kemarin itu hidup saya bener-bener rada jauh dari melarikan diri. Mau lari aja kudu nyuri-nyuri waktu di pagi hari sebelum ada SMS atau WA masuk “Mbak di mana? Ditanyain si Bapak soal.....” #Yelahhh.... Walhasil lari 10kilo di Pocari Run 2015 ngga sanggup rasanya, padahal course-nya mulus, cuaca enak ngga terlalu panas dan water station terjamin. Angka di timer-nya pas saya finish aja banyak banget hehehe....

Ya udah lah, saya mah pasrah. Nah, sekitar momen itu juga sahabat saya ada yang nanya, “Loe lagi sibuk dan excited ngapain nih? Selain lari, maksudnya....kalo soal lari, gw ngga pingin tawu.” Dia udah tutup mata dan kuping untuk urusan lari ini.

Iya ya... saya sibuk ngapain ya, selain mikirin lari (belum tentu lari jugag sih) dan ‘lari’ dari si Bapak yang pelupa tapi punya proyek seabrek-abrek itu. Ngga mungkin saya ceritain ttg proyek si Bapak karena sahabat saya langsung nyosor lagi, “Eh iya, selain soal kerjaan loe juga...”.

You are what you repeatedly do. Bener ngga ya... kayaknya sih iya. Tapi masak gw mau bilang sama sahabat gw itu bahwa most of my time are spent on work (8am to 7pm) dan perjalanan pulang pergi (2 hours x 2). Pastinya ngga menarik lah. Saya juga bingung tuh ngapain aja di kantor, rasanya ngga sempet “kerja” beneran. Urusannya ngomong ini-itu, rapat sana-sini, minta tulung anu-inu sampe saya ngga ngenalin diri saya sendiri yang sebenernya ngga seneng banyak ngomong. I wish I was not that bawel and rempong. I wish people understand what they are suppose to do. I wish I could find a better way to get things done.  Kayak di film-film gitu lho, di mana suatu tim itu ngga perlu banyak berkata-kata, udah langsung bisa bekerja. Wkwkwkwk...

Atau itu mungkin karena definisi kerja buat saya sekarang seharusnya bukan “ngerjain sesuatu”, tapi “bikin orang ngerjain sesuatu jauh lebih baik dari standar saya dan orang itu hepi ngerjainnya”. Somehow, a manager is like a messenger, interpreter, motivator and arbitrateur all in one. Lho, baru nyadar ya?  Hahaha... kata orang bayaran saya dah termasuk paket jadi messenger (penyampai pesan ya, bukan pengantar dokumen), interpreter (penyampai pesan ya, bukan penerjemah karena sama-sama pake bahasa Indonesia), motivator (penyampai pesan ya, bukan cuman menghibur dan muji-muji), and arbitrateur (penyampai pesan juga ya, supaya pada damai aman sejahtera) dan jadi debt collector kerjaan. Ya udah, diterima aja.

Oh iya, balik ke pertanyaan tadi.

Saya ngapain aja ya? Apa (masih) excited nonton drama Korea (atau baca sinopsisnya kalu ga sempet nonton) termasuk jawaban? Baca multi buku dan random bisa dikategorikan kesibukan yang exciting kah? Lunch-date di luar ruangan kantor seminggu sekali sembari hang out ama temen, gimana?  Posting foto di Path dan Twitter? Atau yang agak “lurus” deh, baca Al Qur’an setiap hari? Bingung deh jawabnya. Pertanyaan itu sederhana tapi seperti ditanya “Loe itu orang seperti apa?” Idih, serius ama yak saya ini.

Tapi aku mah gitu orangnya. Suka kepikiran.

Apa yang saya lakuin itu harusnya ngga cuma tujuan, jenis, dan recehannya yang penting tapi juga adakah dampak baik yang terjadi. Saya lari, trus apakah saya jadi lebih sehat, bugar, bahagia sehingga jadi orang yang lebih baik buat orang sekitar? Saya ngerjain proyek si Bapak, trus apakah saya mampuin diri untuk nggak ngomel doang dan ambil hikmahnya: jadi tau hal baru, lebih ikhlas, dapet berkah kenalan lebih banyak orang, kerja lebih trengginas, dan paham nilai utama bahwa “repot untuk Indonesia” itu layak dikerjakan? Saya nonton drama Korea, trus apa itu bisa bikin saya menghargai dan menerapkan budaya Indonesia yang baik-baik? Saya baca buku ini-itu, gonta-ganti setiap minggu, trus apa itu bikin saya menulis dengan lebih efisien dan mampu ngirimin pesan yang mengena di hati? Saya baca Al-Qur’an, trus apa saya sudah mampu memahami dan mengamalkannya (beneran lho, kita hidup wajib baca manualnya. Gadget aja ada manualnya).

You are what you do, how you do it and what impact you make from doing it. Kalo nonton acara Kick Andy yang menghadirkan orang-orang fenomenal yang berusaha “membuat dunia jadi lebih baik” rasanya tertonjok hehehe. Soalnya saya ngga ngapa-ngapain, gitu. Cetek banget hari-harinya. Tapi trus saya juga inget kalo mau “sibuk” tuh yang  sederhana aja dulu, ngga usah muluk-muluk, tapi dikerjain terus-menerus. Setidaknya ada dampak ke diri sendiri. Harusnya.

Jadi, jawaban saya apa dong ke sahabat saya itu? Karena hidup bukan cuma lari dan kerja maka ide jawabannya ada di sini nih www.onedayonejuzz.org. Nothing new, but I hope it was meaningful enough because it is for me. It challenges me to put first things first and not let the busy-ness distract me from what I believe in. Sekalian ngajak fastabiqul khairat, berlomba-lombalah atau bersegeralah dalam berbuat kebaikan. Termasuk berbuat baik untuk suami-anak, keluarga besar, teman, diri sendiri.

Alhamdulillah, sekarang saya mulai bisa lari lagi karena big project repot untuk Indonesia-nya udah kelar. Gantian dong big projectnya. Baca Qur’an? Ya iya lah.

Thursday, February 12, 2015

Starting with the End (Part II)



Saya ngga berani bicara ttg kematian dari sisi kesiapan secara rohani dan spiritual. Jauh banget dari kapasitas saya. Saya mau ngobrolin sisi logistiknya aja berdasarkan pemahaman saya yang sangat terbatas gimana kalo kita mesti menghadapi cobaan dan kehilangan anggota keluarga.

Terkait orang-orang terdekat di keluarga inti, sebelumnya saya tidak pernah berpikir:  gimana kalo meninggalnya mendadak? Tapi gimana juga kalo sakitnya berkepanjangan? Apakah saya mampu, kuat hati dan memiliki ilmu yang cukup untuk mendampingi mereka di saat yang paling penting di akhir hidupnya?  Apa yang seharusnya saya katakan kepada orang yang sedang kesakitan dan merasa tidak nyaman? Apakah kata-kata “Sabar ya, Allah SWT menyayangimu” itu cukup? Doa apa yang tepat untuk menenangkan batin yang sedang ketakutan? Bagaimana jika saya yang panik? Bagaimana jika niat saya ditolak ybs? Bagaimana jika saya sedang bersenang-senang di suatu tempat –ngga ada feeling apa-apa-- ketika hal mendadak itu terjadi? Saya sungguh nggak tau. And we are extremely terrified  by things we don’t know.

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana menjadi seorang caregiver jika ada anggota keluarga yang sakit berat dan membutuhkan perawatan intensif jangka panjang, atau perawatan paliatif. Apakah saya akan punya cukup energi dan kesabaran untuk melakukannya dengan baik  meskipun1000% berniat dengan tulus dan ikhlas.  Apakah saya bisa untuk berpikir dan berperilaku positif serta tetap bersemangat and not getting sick myself? Gimana caranya saya bisa memfasilitasi keinginan sang pasien sehingga meningkatkan kualitas hidupnya secara lahir batin? Saya yakin banget hal itu ngga gampang. Baru baca tentang orang yang merawat anjingnya yang mengidap penyakit dementia (Canine Dysfunctional Disorder) kaya gini aja udah mewek. Itu baru anjing lho, dan anjingnya saya juga nggak kenal. Such a tough girl.

Kalau hal ini terjadi pada keluarga inti, sejauh apa saya bisa menyokong secara keuangan? Sudah memadai kah asuransi kesehatan yang dimiliki? Saya teringat teman sekolah saya di Amrik yang orang tuanya berusia di atas 70 tahun tapi sehat, energik, dan produktif. Dia bilang, "Our healthcare system do them so much favor". Alhamdulillah, setidaknya kita sudah punya BPJS. Seluruh biaya operasi ayah saya dan proses endoskopi+kolonoskopi ibu mertua ditanggung oleh BPJS. Sedangkan biaya kesehatan saya ditanggung oleh asuransi kantor. 

Tapi tidak bisa dipungkiri, kemarin saya tetep deg-degan. Saya belum mempersiapkan dana darurat untuk kebutuhan seperti ini. There’s no logic without logistics. Pasti kita perlu biaya untuk transportasi, biaya kontrol dokter dan obat yang tidak ditanggung, biaya untuk makanan tambahan/supplement, serta yang tidak kalah penting adalah biaya “psikologis”. Terkadang dalam keadaan sedih, bingung, murung, dan lelah, kita cenderung membuat keputusan secara impulsif. Makan ngga dipikirin dan dipilih-pilih, mau murah atau mahal, makanan sehat atau junk food, yang penting makan. Ada barang ketinggalan di rumah, daripada puyeng harus balik atau menunda penggunaan mendingan beli baru. Dalam kondisi merasa “kepepet” dan “emergency” seperti itu, kita jadi lebih permisif untuk melakukan hal-hal yang kita anggap akan melegakan dan membuat kita merasa lebih baik.

Saya juga masih kurang ilmu tentang prosesi jenazah dan pemakaman, tentang yang diwajibkan + disunnahkan dan yang diharamkan.  Sumpah... kursus mengenai topik ini ada di paling bawah “Self development course this year”.  Kepikirannya tentang kursus luar negeri melulu, sedangkan materi yang penting seperti pengurusan jenazah ngga jadi prioritas sampai mungkin kelak akan jadi “mendesak”. Hiks. 

Trus, pemakaman baiknya di mana ya? Sewanya itu untuk selamanya atau sewa pakai sampai berapa waktu? Pernah baca artikel  Jangan Mati di Jakarta” belom? Yah, begitu lah, ngga kepikiran deh. Oia, sampe sekarang nih, mau jadi anggota Yayasan Bunga Kamboja aja nggak jadi-jadi. Padahal agennya duduk di sebelah kubikel saya di kantor. Padahal preminya amat sangat terjangkau. Parahh kan? Karena sebagian dari diri saya masih menolak kenyataan yang rasanya terlalu jauh dan pahit untuk diakui.

Lebih lanjut lagi, saya nggak tahu gimana cara pengelolaan hutang dan harta warisan; apa bedanya pelaksanaan hukum negara dengan hukum Islam. Sebaiknya gimana menyelesaikan harta dalam bentuk hibah, wasiat, dan warisan? Gimana caranya supaya harta tsb ngga memancing pertikaian dalam keluarga karena rebutan atau hanya karena beda pendapat ttg cara pengurusannya.

Ngurusin surat-surat dan dokumen administrasi harta warisannya ke mana ya? Salah satu sahabat yang baru ditinggal ibunda tercinta, kecipratan rezeki untuk mengurus dokumen harta warisan kedua orangtuanya yang telah meninggal. Urusannya ternyata ngga gampang. Cerita sahabat saya itu yang panjang kali lebar ttg pertemuan dengan Ketua RT, RW, Pak Lurah, dll --dibumbui komentar ttg betapa absurd-nya proses birokrasi di negeri ini-- membuat kami tergelak-gelak dalam kepedihan. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan segala urusannya. Amiin YRA.

Nah ini nih, saya belum yakin banget mengenai acara pengajian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari yang menurut sebagian orang lumrah (baca: nyaris wajib) dilaksanakan karena sudah tradisi dan sebagai bentuk penghormatan kepada yang meninggal dunia. Sebagian orang meyakini bahwa hal tsb termasuk bid’ah dan mengada-ada karena sesungguhnya yang masih berpengaruh terhadap orang yang meninggal hanyalah amal ibadahnya, ilmu, dan doa anak yang sholeh/sholehah. Jadi sakleknya: nggak perlu acara tahlilan. Kalo ada dissenting opinion, gimana menyelesaikannya? Jangan sampe setelah ditinggal meninggal, keluarga malah berantem.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan benda peninggalan yang lebih bersifat historis, romantis, dan sentimental dibanding nilai ekonomisnya? Disimpan, disumbangkan, atau dibagikan ke beberapa anggota keluarga, atau gimana? Bingung, kan.

Saya baca-baca, di Amerika dan beberapa negara lain sudah ada penyedia jasa yang mengkhususkan diri dalam memberikan dukungan moral dan teknis bagi para calon ibu, para penderita sakit berat dan/atau keluarganya dalam mempersiapkan tahapan penting dalam hidup mereka right at the begining and the end. Istilahnya “birth and death doula”.  Kalo dilihat deretan jasa yang mereka tawarkan melalui situs internetnya, sebagian besar hal-hal yang kita pertanyakan di atas dapat mereka selesaikan.  

Bukannya dalam masyarakat kita layanan tersebut ngga ada, tapi mungkin belum terintegrasi dari satu penyedia dan yang jelas belum dijadikan komoditas komersial yang ditawarkan dengan harga tertentu (some packages can be as high as tens of thousand dollar). Lebih jauh lagi di masyarakat kita, institusi keluarga masih memiliki nilai yang sangat tinggi dan dianggap dapat menyediakan dukungan penuh kepada anggotanya yang dalam kesusahan. Adapun bantuan dari institusi kesehatan atau agama atau lainnya merupakan bagian dari partisipasi anggota keluarga secara tidak langsung. Saat ini, keluarga bisa ‘dikutuk’ abis dan dianggap menelantarkan kalo sampe menyerahkan nasib anggotanya ke lembaga jasa komersial. Nggak tau juga ya 10-20 tahun ke depan.

So, barang kali udah waktunya buat saya agar --seiring waktu dan semakin ‘dewasa’nya saya-- mulai memikirkan dan mempersiapkan diri. Tentunya bukan untuk menyuburkan sikap paranoid dan pesimisme, tapi untuk memaknai dan merayakan kehidupan itu sendiri. Mau ngapain lagi sih, selain menikmati hidup dengan benar dan bijaksana. #jiah.

Remember, the real life begins at 40! Let’s embrace it happily.

Starting with the End (Part I)



Saya tidak pernah terlalu memikirkan tentang kematian sampai setahun terakhir. Beberapa kejadian pada saya dan orang-orang yang saya sayangi menuntun saya untuk mulai mengenal kematian sebagai keniscayaan yang layak untuk dipikirkan dan dibicarakan.
Mulai dari ibu saya sakit karena kondisi gusi buruk, gizi kurang memadai (bayangkan anaknya ‘sukses’ begini, kok orang tuanya bisa nggak makan?), dan diperparah dengan penyakit diabetes serta darah tinggi yang tidak dikelola dengan baik.

Lalu saya sendiri sempat dig-dig-dug-deg-dor karena dokter pertama memberikan vonis yang menyeramkan atas kondisi tiroid saya. Alhamdulillah, menurut dokter yang memang ahlinya, kondisi tsb tidak membahayakan selama saya memperhatikan pengobatan dan menjaga kesehatan lahir batin agar hormon bisa seimbang. Setiap bertemu teman atau keluarga, pasti saya menerima komentar “Kok sekarang kurus sekali dan kuyu? Sakit apa? Jangan kurus-kurus ah, ngga bagus keliatannya. Makan yang banyak, biar seger”. Hehehe... alhamdulillah masih ada yang merhatiin.

Tidak lama, ayah saya harus operasi hernia. Meskipun hitungannya bukan operasi besar, faktor usia yang sudah lanjut menyumbang risiko tersendiri. Selama 4 siang-malam saya menemani ayah agar beliau tenang karena tau saya yang mengurusnya di rumah sakit.

Baru minggu lalu ibu mertua saya menjalani biopsi di leher, setelah sebelumnya kami berobat ke ahli gastro karena masalah pencernaannya dan shock atas diagnosis awal yang menakutkan berdasarkan hasil CT Scan. Alhamdulillah, hasil biopsi menyatakan beliau tidak terkena kanker.
Ayah dari beberapa sahabat saya juga terserang penyakit berat dan membuat sahabat saya mulai berpikir hal terburuk yang dapat terjadi ketika kita atau orang yang kita sayangi berada dalam kondisi kesehatan gawat.

Tahun lalu saya juga kebetulan menjalani umur yang kata orang waktunya memulai kehidupan. Isn’t it ironic? Kalau dipikir lagi, enggak juga. Ketika katanya saya seharusnya memulai hidup,  ternyata yang dimaksud adalah seharusnya kesadaran saya akan kehidupan mulai muncul (andai sebelumnya belum :p). Tapi apakah kehidupan itu sesuatu yang terlepas dari kematian? Justru titik tolaknya di situ. Hidup dan mati adalah dua sisi dari satu mata uang, tidak bisa dipisahkan begitu saja. So when life begins at 40, it is actually an alarm of how I perceived the chance of how it ends someday.

Tapi orang-orang lebih suka bicara tentang kehidupan daripada kematian. Dalam budaya kita, katanya “pamali” atau nggak baik ngomong tentang kematian. Kita juga takut setengah mati untuk memikirkan kematian kita sendiri. Merasa tidak siap, banyak dosa, belom berbakti, takut neraka, dll. Jadi kita lebih suka menghindar dari topik tersebut, seolah hal tsb adalah hal yang sangat jauh dan penuh misteri (mungkin lebih nyaman ngegossip tentang hal yang “jauh” lainnya seperti beda harga LV di Hongkong dibanding Milan, atau nebakin Syaiful Jamil akhirnya merit sama siapa). Akhirnya pembicaraan tentang kematian terbatas pada majelis ilmu di mesjid, kajian muslimah, atau ceramah agama karena di situ ada orang yang kita anggap berilmu (sang ustadz atau ustadzah) sehingga berhak memulai pembicaraan sulit tsb.

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Itu saja patokan saya untuk memberanikan diri membicarakan hal ini, setidaknya di sini, dengan diri saya sendiri.

Seperti yang saya bilang tadi, topiknya susah karena ngga ada pelaku sejarah dan saksi hidup yang  bisa berbagi pengalaman gimana sebenernya kondisi di “alam sana”. Meskipun ada yang pernah mengalami keajaiban tidak jadi meninggal dunia dan bisa menceritakan hal-hal luar biasa, tapi nyatanya ya belom bisa dibilang meninggal beneran.

Apalagi nyariin ahlinya, itu lebih susah. Manusia belom adil nih. Kan katanya lahir, rejeki, jodoh, dan mati adalah ketetapan Allah SWT. Nyariin organizer untuk menyambut kelahiran bayi udah banyak, mulai dari paket pemeriksaan, senam hamil, neonatal home care, dokumentasi, sampe pengelolaan tali pusar. Bisnis mak comblang juga terus marak karena manusia selalu ingin bisa ketemu jodohnya. Apalagi wedding organizer...mau mahal atau murah semua tersedia, mempelai tinggal duduk manis. Yang seret rezekinya masih bisa cari kerjaan baru, nyari konsultan bisnis, dukun, atau hynotherapist supaya pikiran bisa fresh, kinerja naik, rezeki berpihak ke kita. 

Nah, untuk yang kematian ini sepengetahuan saya yang tersedia adalah unit perawatan paliatif dan yayasan pengurusan jenazah.  Kedua jenis layanan itu juga kalo bisa ngga perlu kita bicarain deh. Ngeri. Kita menghindar sebisa mungkin.

Yang kebayang sama saya, pastinya ribet banget ya buat kita mempersiapkan kematian tersebut. Selain mempersiapkan diri pribadi untuk suatu kepastian yang saat ini masih abstrak, kita juga harus mempersiapkan orang lain dan hal-hal yang nggak pernah kepikiran sebelumnya. Bener kata orang. We’ll never be too prepared.

Friday, December 12, 2014

Anakku, Ibu rindu!



Malam semakin larut. Lebih dari jam 10. Anakku belum pulang. Dia sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Tapi aku masih merasa ingin menunggunya. Sekedar menyapanya, menanyakan kabarnya hari ini.

Anakku yang cantik. Anakku yang baik. Anakku yang mandiri karena keadaan. Kudidik dia dalam diamku. Dalam setiap sen yang aku khususkan untuk sekolahnya, kursusnya, buku-bukunya, latihan basketnya. Dalam soto ayam, nasi goreng bawang dan ketoprak kesukaannya. Dalam kesederhaan.

Aku bukan orang modern, aku orang kuno. Yang menganggap kerja lebih baik daripada kata-kata. Yang berprinsip tak perlu mimpi tinggi-tinggi, yang penting hidup mandiri. Yang merasa dosa jika jadi orang kaya. Tapi entah bagaimana (mungkin karena doaku juga), anakku tumbuh pesat, liar, dan bercabang ke mana-mana. Dia adalah anak pembelajar yang cerdas memahami keadaan, berdasarkan pengamatan dan pendengarannya sendiri karena tak pernah banyak aku jelaskan. Dia adalah anak peniru yang kreatif. Dia adalah anak penjelajah yang bermimpi jalan-jalan ke sudut dunia. Dia pemimpi yang pandai mengukur diri, sabar menenun dahulu sayap-sayapnya sampai siap terbang ke dirgantara.

40 tahun sudah usianya. Anakku yang cantik. Anakku yang baik. Anakku yang mandiri. Bukan anak-anak atau remaja lagi. Tapi aku masih ingin menunggunya pulang kantor malam ini. Tadi pagi dia pamit. Ada rapat sampai malam, katanya. Dia pamit seperti beberapa hari sebelumnya, “Maaf, Ibuk aku tinggal, aku ada kerjaan ke luar kota. Aku titip Lintang yo, Buk, dia sedang ujian.” Entah kemana lagi dia menuju pada esok hari. Mudah-mudahan kau bahagia, Nak, batinku.

Selama seminggu ini aku mengunjunginya di Ibukota, baru beberapa kali saja aku bisa berbincang dengannya. Pulang kantor, anakku terlihat capek. Setelah menyapaku beberapa kalimat standar, dia mengalihkan perhatian kepada Lintang lalu kepada suaminya. Lalu kepada si Mbok tentang detil rencana esok hari yang sibuk, perlu ini itu. Kemungkinan terbaik: aku hanya mendapatkan sisa dari harinya yang panjang dan melelahkan. Terburuk: dia duduk, diam menatap layar televisi tanpa berkata-kata membiarkanku menuju kamar untuk mendahuluinya tidur.

Aku lebih sering ngobrol dengan si Mbok. Atau dengan Lintang, sepulang dia sekolah. Atau besanku ketika mereka berkunjung. Atau si Emak penjual mainan di depan SD sebelah rumah anakku. Atau Bu Kardi, penjual gorengan di Gang IV. Aku bercakap dengan anakku melalui mata dan mulut mereka yang mengenalnya. Begitu juga sebaliknya, mereka mengenal anakku melalui aku saking jarangnya mereka bersua.

Dari mereka itu aku tau anakku mestinya baik-baik saja, sehat, dan sukses-sukses saja. Syukurlah jika memang begitu karena tak pernah dia mengeluh atau menangis, kecuali 2 kali. Pernah dia menelpon, mengeluhkan kondisi kantor dan bosnya yang menyebalkan. Aku kaget, baru sekali itu dia punya masalah dan minta didengarkan. Ternyata aku masih berguna juga, meski hanya sebagai pendengar. Kali lain, dia menangis karena marah kepadaku. Dia merasa frustasi karena aku menolak bantuannya untuk bersih-bersih rumahku yang memang sudah reyot, kumuh tak terurus dan penuh oleh segala macam barang yang kukuh aku pertahankan.

Malam semakin larut. Surya, suami anakku dan Lintang, cucuku, sudah merapat ke kamar masing-masing. Tanpa dongeng sebelum tidur. Tapi anakku belum pulang juga. Inikah dunia baru itu? Dunia di mana waktu semakin tak bermakna. Siang dan malam tak lagi berganti-ganti karena selalu diisi kerja dan kerja. Inikah dunianya? Dunia di mana dia tidak sempat lagi memasak soto ayam, nasi goreng, atau ketoprak untuk anaknya. Ah, aku tidak tahu. Mungkin aku yang keliru. Dunia zaman sekarang tidak perlu lagi bukti cinta berupa soto ayam, nasi goreng, atau ketoprak. Mungkin aypon dan jalan-jalan ke luar negeri sudah menggantikan menu-menu kesayangan itu.

Wulan --anakku yang cantik, baik hati dan mandiri-- belum pulang. Aku masih menunggu. Aku ingin yakin bahwa ia baik-baik saja, sehat, dan sukses-sukses saja. Dengan demikian, dongeng sebelum tidur yang terlewat dan soto ayam yang belum sempat diracik itu sepadan dengan kebahagiaannya atas kehidupan yang penuh makna. Semakin dia bahagia, semakin aku lega bahwa telah kuwariskan sedikit kebaikan baginya. Bukan warisan (risiko) penyakit, postur, dan cara bertutur saja.

Malam ini aku akan tetap menunggu. Tak peduli berapa umur anakku, aku tetap merindu. Aku tahu dia akan lebih lelah dari biasanya. Tak apa, Nak. Senyum dan sapa singkatmu nanti akan cukup bagiku.

Ibu tunggu karena Ibu rindu.

Wawancara Kerja: Mencari Partner Terbaik



Beberapa waktu lalu, kantor gw membuka lowker setara management trainee (yang diharapkan bisa langsung terbang mengangkasa dan berbakti untuk negara) serta posisi general administrator (yang akan menjamin urusan internal organisasi tertata dengan baik sesuai standar nasional). Perekrutan tsb merupakan hajatan besar demi mendukung suksesnya pencapaian misi kantor gw yang berdiri 2 tahun lalu. Seluruh teman outsourcing di tim gw direkomendasikan untuk bisa mengikuti seleksi.

Pada tahap seleksi ke sekian, panitia seleksi memerlukan banyak pegawai minimal manajer untuk mewawancarai ratusan calon pegawai level general administrator itu. Di situ lah gw ikutan dicemplungin memeriahkan hajatan kantor. Gw sebelumnya udah pernah sih mewawancarai calon tenaga outsourcing yang akan bergabung di tim kami. Tapi gw tetep deg-degan pas diminta wawancara calon pegawai beneran. Urusannya serius nih.

Gw belom pernah dapet pelatihan atau training gimana jadi pewawancara yang baik dan benar. Selama ini pake feeling dan nalar aja sih hihihi. Untungnya ampir semua tenaga outsourcing rekrutan yg gw lulusin emang kerjanya bagus daaaaan....terbukti beberapa tahun kemudian dapet offering  sebagai pegawai tetap di kantor lain. Mereka resign dengan happy  karena dapet kesempatan lebih bagus. Tinggallah gw kudu wawancara lagi mencari penggantinya. Emang gampang cari gantinya? Hiks.

Sebenernya peran gw dalam wawancara calon GA itu adalah sebagai perwakilan user. Jadi masih legitimate lah ya, terlebih kami diberikan guide sheet mengenai apa aja yang mesti dinilai dari para calon. Standar sih. Integritas yang ditandai perilaku tertentu yang sesuai ama nilai strategis kantor (gw jadi ngapalin dulu dweh) dan kompetensi dari sisi administrasi. Setiap tim pewawancara dapat jatah 10 calon/hari, maksimal 40 menit untuk masing-masing calon.

Karena yang diwawancara adalah anak-anak muda minimal lulusan D3 s.d. 24 tahun, jadinya wawancaranya nggak perlu angker. Partner wawancara gw, Pak X, orangnya sih agak serius. Soalnya dia auditor, jadi bawaannya nyelidik melulu, hehehe. Temen gw, pewawancara di tim lain, emang rada-rada gokil. Pas satu kandidat menjawab bahwa hobinya adalah origami, langsung disuruh bikin origami sambil ditanya-tanya (jangan-jangan mau ngetes, bisa multitasking  ngga yaa).

Gokil atau serius, sebenernya tujuan dari wawancara adalah menggali lebih dalam mengenai sosok kandidat secara lebih menyeluruh untuk melengkapi hasil asesmen sebelumnya. Asesmen mencakup serangkaian tes psikologi dan tes pengetahuan. Caranya bisa dengan berbagai macam: pewawancara mengajukan pertanyaan, memancing cerita, menyediakan panggung untuk berekspresi, atau melontarkan masalah boongan untuk mereka pecahkan. Harapannya kantor kami akan didukung oleh para GA yang mumpuni, menguasai masalah operasional dan manajemen intern, serta bermotivasi tinggi. Kami juga ingin rekan-rekan GA menjadi pendukung misi kantor dengan personilnya yang tanggap, komunikatif, dan gampang bekerja sama. Plus enak diajak seneng-seneng atau susah-susah. Banyak ya maunya..? Iya, gw sih ngebayangin gw bakal seneng ngga kerja bareng sama dia di saat susah maupun senang.

Ternyata banyak calon pegawai yang sudah susah-susah lolos seluruh tahap tes, ehh.. ternyata dari wawancara ketauan profilnya kurang pas dengan apa yang diharapkan. 
Ada yang berdasarkan hasil psikotest dinyatakan pinter tapi keukeuh mengatakan bahwa “Saya memang seperti ini, Bu, sudah karakter saya” ketika ditanya tentang cara bergaulnya yang menurut ukuran kita-kita kurang luwes. Ada lagi kandidat yang kelihatannya belum mantap dalam berkomunikasi, jadi jawabannya belepetan. Ketika ditanya gimana caranya dia ngobrol atau ngerayu pacarnya, dia jawab “Nah, itu juga menjadi masalah bagi saya, Bu” hahaha..... Waduh, kalo jadi pegawai nanti jangan sampe deh masalahnya nular ke kita-kita. Maksud kita kepo mengenai hubungan mereka dengan keluarga, teman, dan rekan kerja adalah untuk tahu gimana mereka berinteraksi dan beradaptasi.

Ada yang biasa-biasa aja di atas kertas tapi menjawab pertanyaan teknis dengan menarik. Salah satunya kandidat yang pernah bekerja di distributor BH (iya, be ha yang underwear itu). Dia menceritakan pengalaman kerja dengan penuh semangat dan berapi-api. Dia kerja di bagian quality control. Pak X langsung tertarik, “Kalo produk BH, apanya yang di-QC?” Ya elah, Bapak... nggak perlu dicobain cup-nya satu-satu kali... dan yang pasti, nggak perlu ngecek isinya laaaa.

Satu kandidat lain cerita ttg kerjaannya di PT Ajinomoto yang dia bilang “hebat” karena jualan bumbu doang tapi bisa bertahan sekian lama dan ekspor pula. Gw nahan-nahan diri untuk gak keceplosan nanya “Apa pendapat kamu tentang MSG dan Ajinomoto?” hehehe, kuatir OOT.  Pada intinya sih, kita pengen denger gimana mereka mempersepsikan tempat bekerja dan peran dirinya dalam organisasi atau perusahaan itu. Mereka orang penting atau bukan. Berkontribusi apa enggak.

Ada yang lucu nih. Tebak deh apa jawaban calon pegawai ketika ditanya “Apa hobimu?”. Dari 10 orang di hari pertama, hanya 3 yang menjawab dengan jawaban nyata: main catur, bulu tangkis, baca buku. Sisanya? Browsing (is that really a hobby?). Main sama adik di rumah (she got to be kidding). Ngobrol (whaaattt?). Main game (so is my 10.5 year-old daughter’s hobby). Ngga ada waktu untuk melakukan hobi karena kuliah padat (parah!). Oh iya, ada satu yang kayaknya keberatan ditanya ttg hobi as if  we were crossing the line. Come on..... 

Kita pengen ngintip kepribadian seseorang dari hobinya, apakah dia risk taker, apakah dia senang dalam kesendirian, apakah dia kreatif, dll. Yang jelas kita pengen tahu banget apakah mereka ‘memoles’ dan ‘memperkaya’ diri dengan kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.

Trus yang absurd adalah info dari tim pewawancara sebelah (oh yes, we shared information...! Believe me, most interviewers like us liked to compare notes) bahwa salah satu kandidat tercatat menganggur dalam 2 tahun setelah lulus D3. Ketika ditanya apa yang dilakukan selama 2 tahun itu, dia menjawab “Yah, saya ngelamar-lamar kerja aja sih, Bu”.  Dan dia nggak ngapa-ngapain lagi dong. 2 tahun, man!! Kacau tu anak. Sebenernya yang kita pengen denger adalah jawaban seorang juara, anak muda yang tidak gampang putus asa dan bermental baja. Nggak cuma nunggu diterima kerja.

“Selama saya menunggu respon atas lamaran pekerjaan yang saya cita-citakan, saya kerja part time di kampus/toko/perusahaan/lembaga kursus”.
Atau “Saya bantu orang tua dagang/jaga warung”.
Atau “Saya ikutan lembaga nir laba yang mendukung kesadaran terhadap AIDS/HIV/kanker/anti korupsi”.
Atau “Saya jadi kuli bangunan”. Atau “Saya narik becak di pasar”. Atau “Saya jualan gorengan”.
Atau "Saya kerja mandiin macan galak sampe 3x digigit".
Atau apa gitu, kek. Yang penting jangan NGANGGUR!

Mendengar jawaban itu, temen gw langsung nepsong mem-black list  kandidat tadi tanpa basa-basi.

Nah, beberapa kandidat aneh yang kami wawancarai itu termasuk Generation Y yang mbalelo (maksudnya, ngga sesuai dengan deskripsi Gen Y menurut Renee Suhardono, adalah generasi yang terkesan jauh lebih cepat,berdaya dan berani). Ya itu tadi. Motivasi rendah. Lebih menonjolkan ke-aku-an untuk dimengerti, tanpa mengerti orang lain. Pasif dan nggak kreatif. Waduuuh, gelo atiku....

Tapi Alhamdulillah, ada juga kandidat yang bagus. Salah satunya kandidat dari daerah yang nun jauh di barat Indonesia. Sejak SMA dia sudah membiayai sekolah sendiri dengan bekerja serabutan. Biaya kuliah ditanggung dengan bekerja sebagai operator dan admin generator listrik. Kecerdasannya juga lumayan. Saya kasih nilai tinggi, mudah-mudahan dia lolos. If I were to work a tough project with someone, I would like him to be my partner. Coba ada lebih banyak anak muda kayak dia.

Jadi selama 2 hari gw mewawancarai 13 orang calon pegawai, gw juga belajar banyak hal dari mereka. Gw belajar berempati standing on their shoes, gimana rasanya jadi mereka. Gw belajar untuk ngga jumawa, merasa diri lebih pinter (padahal kenyataannya yang lebih dari gw adalah cuman lebih tua doang :p). Gw belajar sabar menangkap informasi yang mereka sampaikan karena sesungguhnya banyak hal yang disampaikan itu ada di luar pengetahuan kita. Gw belajar memberikan pertanyaan yang tepat. Gw belajar mengasah feeling dan intuisi gw yang sebenernya parah banget (karena menurut gw semua orang itu pd dasarnya baik, pinter, jujur, dll). Gw belajar untuk bilang “tidak” terhadap kandidat yang memang nggak layak. Jujur aja... jadi pewawancara itu cukup menguras tenaga dan pikiran lho. Masalahnya, nasib orang dan nasib lembaga euy.

Saking deg-degan, setiap gw memulai, mengakhiri dan menandatangani berkas berita acara wawancara, gw nggak lupa mengucap “Bismillahirrahmanirrahiiim”. Semoga apa yang kami lakukan merupakan bagian dari ibadah yang diridhai Allah SWT. Mudah-mudahan hasil wawancara juga menjadi jalan kebaikan bersama: kebaikan buat kantor gw, buat calon pegawainya, buat semua pihak. Amiin YRA.