Monday, March 24, 2014

2013 Running Recap Part 1: Jakarta Festival City Marathon 2013


JAKARTA MARATHON, 27 OKTOBER 2013 @ Lapangan MONAS

Mandiri Run Oktober 2013 adalah posting terakhir saya ttg lari. Setelah itu masih ada beberapa event di 2013 yang belum sempat saya tulis. Supaya story-nya tidak hilang begitu aja, akhirnya saya sempatkan recap sekarang. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Benang merahnya masih sama: struggling till the end, feeling down, but somehow we just let it go then ran all over again. Tapi lumayan lah, bisa mejeng di gambar headline Kompas. Untung pake kaos BI Runners yang ijo genjreng jadi gampang ngenalinnya. Thanks juga to Teteh Eneng's blog yang nampilin foto headline tersebut. Saya ada di mana yaaa???
Sumber : blog seru The Hilmi's

Cerita sendu tentang pendaftaran, rusuh pengambilan race pack, berbagai review buruk ttg pelaksanaan (tidak tersedianya makanan/minuman untuk pelari dan sterilisasi jalur yang kurang disosialisasikan) sampai pengumuman hasil race Jakarta Marathon 2013 yang kacau sudah banyak dibahas di blog atau forum lain. Salah satu review Jakmar 2013 dan saran untuk Jakmar 2014 ada di sini. Hiks. Prihatin dan sedih juga sih, diantara semua hal-hal payah di negeri ini....kok ya Jakmar 2013 –yang notabene event pertama di Indonesia sejak tahun 1980an– juga ikutan payah.  

Berhubung kami sekeluarga hanya ikut 5K, mungkin imbasnya nggak begitu kerasa. Saya daftar di periode early bird  (biar murah, hehe) jadi email konfirmasi sudah saya terima jauh hari. Saya ambil race pack hari Sabtu pagi karena Jumat malamnya masih ada kerjaan di Makassar dan lupa nitip sama teman kantor di Jakarta. Mengantisipasi berita kekacauan pengambilan race pack Jumat malam, saya ajak Bang Korak, ojek terpercaya untuk ikut antriin karena race pack Maratoonz untuk Miss K memang beda meja antrian. 

Saya udah siap-siap bawa makanan/minuman, alas koran, buku bacaan, dan payung kalau-kalau antri seperti malam sebelumnya. Namun pengambilan race pack di Sabtu pagi itu lumayan lancar dan saya hanya mengantri sekitar 20 menit saja. Sisi negatifnya, bisa dipastikan nama pada bib bukan nama kita. Peserta 5K dan Maratoonz  juga nggak dapet timing chip. Hehehe...percuma juga sih punya timing chip karena kabarnya nama dan record pelari pada ketuker-tuker. Udah capek-capek lari 21 km atau 42 km lebih ehh time record-nya salah... whoaaa, nggak sopan banget kan?

Keesokan harinya saya, Babe, Miss K, Ihsan dan Dike berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00. Kami parkir mobil dan sholat Subuh dahulu di Mesjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia. Sebenernya udah janjian ketemuan sama temans BI Runners sebelum start untuk serah terima banner supaya yang finish duluan bisa foto-foto pake banner. Tapi karena rempong dengan rombongan masing-masing, akhirnya ngga sempat ketemu.

Suasana di Monas subuh itu sungguh luar biasa. Monas disinari lampu yang berganti warna setiap beberapa saat. Beberapa wajah yang familiar sekilas terlihat di sana-sini. Teman kantor, teman di POMG JISc (papa-nya Daffa), teman kampus (anak TI’92 yang hampir selalu ketemu pas running event Bank Mandiri) sampe beberapa artis ibukota. Semua kelihatan exciting, semangat, dan pengen tau rasanya berpartisipasi di acara ini.
The purple-lighted monument on the back
Setelah menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan mendengar sambutan dari Bu Mari Elka Pangestu, jam 5.00 pelari FM (bib oranye) dan HM berangkat (bib hijau) diberangkatkan. Babe, Ihsan dan saya (bib merah) bersama pelari 10K (bib biru) mulai lari jam 5.15 WIB.  Kami bertiga janjian berlari dengan pace masing-masing, jadi setelah start biasanya kami terpisah dengan sendirinya. Saya titipkan Kay pada Mbak Yeni untuk menunggu di dekat tenda refreshment (meeting point paling gampang tuh, asal jangan ngalangin jalan pelari yang baru finish).

Di gerbang Monas, kami sudah disemangati oleh musik tanjidor dan rampak rebana. Di KM 1 sekitar Plaza Sinarmas, kita juga sudah mulai dihibur dengan ....  check sound panggung, hehe.. crew band-nya baru bangun ‘kali.  Di Bundaran HI para pelari kemudian disambut ondel-ondel Betawi dan barisan anak sekolahan bertepuk tangan. Seru bingit!!! Ketika peserta 10K meneruskan ke tanjakan Dukuh Atas menuju Jembatan Semanggi, peserta 5K mengambil jalur kiri turun memutar di Stasiun Dukuh Atas, Sudirman. Saya lupa lokasi water station karena saya sendiri nggak berhenti untuk minum (berhenti karena hal lain...hiks). Yang pasti peserta 5K nggak semenderita peserta HM apalagi FM dalam hal dukungan minuman/makanan. 

Setelah itu kami menuju kembali ke arah Monas. Sesuai janji panitia, panggung musik sudah diisi oleh band-band yang memeriahkan acara ini sepanjang Jalan MH Thamrin. Photo booth dari panitia tersedia di KM 4 di sisi kiri jalan. Beberapa pelari 5K dan 10K sempat berpose gaya sebelum melanjutkan ke garis finish yang sudah di depan mata. Saya sih udah ngga napsu :(.

Meski udah mulai lari-lari cantik (lambat) selama 1 tahun pada saat itu, tapi saya masih juga mengalami kesulitan ketika berlari bersama-sama ratusan orang lain. Nafas dan detak jantung saya menjadi tidak teratur, kaki terasa makin berat, dan pikiran (negatif) mulai melancong ke mana-mana. Saya mengungkit target waktu yang tidak pernah terpenuhi lalu mulai meragukan diri sendiri. Mungkin saya terpengaruh dengan suasana yang heboh dan ramai karena biasanya ketika saya lari sendiri, rasanya baik-baik aja. 

Walhasil di KM 2,5 setelah melewati Stasiun Dukuh Atas, Sudirman saya berjalan sebentar untuk membenahi nafas. I still thought that walking was a sin (and thinking that way is still making me feel guilty, too. See where this negative thought will bring me?). Hehehe.. ngga usah diragukan deh ttg catatan waktu. Pastinya ngga jauh dari biasa. 

Selesai 5K saya ketemu dengan beberapa anggota BI Runners lain dan berfoto ria sambil menunggu teman-teman yang ikut 10K, HM, dan FM. Setelah ketemu Miss K, minum air, dan makan pisang... apalagi ditambah foto-foto, ilang deh rasa kecewa bahwa tadi sempat mencuri waktu untuk jalan kaki. Huahaha...cepet bener berubahnya.  
Three must-getir in running

How amazing the power of narcism, social acceptance, world acknowledgement for such a next to no-accomplishment thing in repairing my broken self-esteem :p Sebaiknya memang begitu kali rumusnya ya... Just run, forget it, then run again, again, and again. Never let anything stops you. Babe, Ihsan, dan Dike seemed happy with their own time and experience. Sayangnya, Babe ama Ihsan males difoto hehehe... Temans BI Runners meneruskan perjuangan mencari spot foto yang lebih mantap. Oh iya, untuk cerita 5K dari sisi lain... ini postingan Jeng Asti Amalya, monggo dibaca-baca.
The running girls: Witri, Fanny, Asti Amalya, aku dan Dike

Kemudian kami sekeluarga kumpul di Plaza Tenggara untuk nemenin Miss K ikutan Maratoonz bersama anak-anak usia 4-12 tahun. Jarak lomba adalah 1300 meter dan sebagian besar dilakukan di permukaan lapangan Monas yang berbatu. Anak-anak dibagi dalam kelompok A, B, dan C sesuai dengan usianya. Miss K masuk kelompok A untuk usia 9-12 tahun. Kelompok B adalah anak usia 6-9 tahun. Untuk anak di bawah 6 tahun, boleh berlari bersama orang tuanya. Sebagian anak-anak didampingi ortu yang juga peserta Jakmar 2013 (namanya usaha, biar anaknya ketularan lari juga). Ketika lomba akan dimulai sekitar jam 09.00, terjadi kehebohan ketika diumumkan bahwa Gubernur DKI Joko Widodo sedang berjalan menuju TKP. Sama seperti anak-anak lain, Miss K semangat banget karena akan bertemu langsung dengan Pak Jokowi. Soal lari mah, itu urusan belakangan...hehehe. 
Miss K masih seger dan semangat nungguin Maratoonz 2013
Sebelum start, anak-anak diperkenalkan kepada kakak-kakak pacers berbaju merah, yaitu para sukarelawan yang akan memimpin barisan lari. Tapi yang terjadi malah banyak anak-anak yang melesat mendahului kakak pacers :). Hadiah diberikan kepada 6 orang pemenang di masing-masing kelompok. Waaahhh, mereka lucu-lucu dan larinya cepet banget deh. Setelah finish, anak-anak dan ortu diajak Zumba Dance bersama Kak Alex yang juga mengisi acara di Kids Run 2013 di bulan September 2013.

Secara umum pelaksanaan kategori Maratoonz cukup lumayan. Hanya saja menurut kami sebagai ortu, waktu pelaksanaan Maratoonz terlalu siang. Anak-anak sudah banyak yang be-te dan kepanasan. Dugaannya memang karena panitia menunggu Jokowi untuk memulai Maratoonz. Mudah-mudahan pelaksanaan Maratoonz berikutnya bisa lebih baik lagi deh.

Harapan yang sama untuk pelaksanaan Jakarta Marathon yang akan datang. Seluruh masyarakat (baik pelari, penonton, dan pengguna jalan) benar-benar menunggu perbaikan nyata dari pihak EO dalam Jakarta Marathon 2014 yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2014 nanti.

Wednesday, January 29, 2014

New Things About Her

She has clear opinion
Miss K has a very strong opinion about the UN (Ujian Nasional), a final exam which make 60% of the total score to pass the Primary School level. She said too many things might happen in 2 days of the UN so that the exam result may hinder the true potential of the students. The scores may not show how much a students have learned and understood: one student can be too nervous so he can’t do the test well. Another student may be sick so she fails to reach certain marks. Or out of no where, a poor student could get higher score by luck.


The UN has also caused pressure over students from Year 6. She often overhears her 6th grader fellows complaining about the exam preps that demand so much of their time and energy.


One better way, Miss K was sure, is to look at the historical results of students in the last 2 years, starting from Grade 4, in 2nd semester. No UN, no depressing final test. When I ask “Would it make the sufferance of being 6th grader stay even longer by stretching it out earlier into 4th grade time?”. She claimed, “No, we just divide it up, so the same amount of total stress are handled in parts. That should make us less nervous, because we gradually succeed or gradually fail. No shocks”. Good point.

She found new opportunity (or not?)
Miss K was off her swimming training a lot this year. She came back later in November 2013 only to find she was waaaaay behind her peers in 25m and 50m, both in breast strokes and free strokes. We talk about local neighborhood club here –doing 2 sessions per week–  not the big national club with curriculum and medals target. So, basically it’s not about her winning or losing, but about swimming better.


One bright dim: eventhough she was still working on individual speed, her girl team made the silver medal on one of local race and she was proud that she –being the second swimmer– had ‘completed’ the team. “We couldn’t even be in the race with only 3 swimmers, Mom”. Another good point.


Based on her coach’s evaluation, she was lack in response on short distance challanges. The upside, though, her performance was a little better than girls in her team for middle and long distance (meaning going 20 to 30 laps of 40m pool). So adding the middle and long distance training would benefit her in stimulating the speed and hopefully in exploring a new opportunity for her to actually do middle distance (100m to 400m).


Her response? “Whooaaattttt? So I have to do more than others? I can say ‘No’, right, Mom?”  And I said, “Sure, honey...it’s up to you. And you can say it later, too, if you want. After you feel that it’s not worth the effort, maybe?”  


She is getting bigger
Miss K gained weight by 15% during 2013. She became taller, too. She practically ate everything available when the hunger attacked. Her 3th grade class teacher told me to provide more healthy food for both at school and at home since she witnessed Miss K’s upsurging appetite during the last months of Grade 3.  She is growing really fast! She will be a pre-teen very soon. It means extra expenditures for clothes and shoes and bras..... so early this year. And if you think shopping on mini sets  and shoes is easy, try it with a pre-teen girl who only knows what she doesn’t like!

Her emoticons became real
Last year I saw a big change in Miss K’s emotion, well... I hope in good ways. She began sharing her feelings in a bit more specific fashion. She was more and more able to explain if she was tired, get bored, sad, happy, loved, felt rejected/accepted, even predicted how other kids/people might feel and think. Well uhm... sometimes she was not very clear in explaining... sometimes her flood of tears or her burst of laughters told me more.

It was still vivid to me, one night she sobbed terribly after her stage performance at Goethe Institut in July. The group she performed with was packed with teenagers, so she seemed to be one of few younger members. At first, I thought that wouldn’t be a problem as long as she could sing and dance along following the scenario of the musical. Singing and dancing thing was not the matter. After the show, some kids congratulated each other, then screamed and jumped in pride and joy for the the success of the show. They took their tongue-out pictures. They even made plan to spend the rest of the night hanging out in a big mall. She was not invited. She was left.

Tears silently went down her chubby cheeks as she watched those kids gathered (she didn’t look at other directions where some other kids were celebrating it with their families). She was hurt, thought that she didn’t belong to the group even after 2 weeks together on the musical camp. When I listened to her describing the situation,  I couldn’t help admitting to myself that once in a while the world can be a harsh,  unfair place, with few unfair people.

I couldn’t find the right words to console her as I held her tight, rubbing her back and  whispering that she actually had some best friends who love and care for her. Those kind of friends might not share the same interests (i.e. the musical) but they were the ones who really made her days fun. What I learned about friendship so far is that it can’t be forced. Once acquired, it even take a lot to work it out. I hoped she could understand.


Another important point: just don’t mix pre-teens with the real teens. The first bunch might not ready yet to adapt to the second, a more independent (a.k.a. insensitive) pack.



(hopefully) She becomes an active happy reader
As a little girl, books introduced me to the outside world. Rarely going out on tour or family holiday, books were my key to the window of bigger, brighter life. I wanted to share the same joy with Miss K. I provided her a  lot of books since she was able to grasp things with her tiny fingers. And by a lot, I mean A LOT. She started reading when she was 4, I was so thrilled that the earlier a child could read, the bigger chance she would be a passionate reader. That was not the case with THIS KID.

She loved to read books, only sporadically. She hopped from one book to another; most of the time she didn’t finish the books. Only one specific book that she really loved: 'Mencari Tujuh Saudara', one of Time Life for Children collection.

Time went by and she still had her own style in reading. I encouraged her to jot down the points of the story, to write her own synopsis, to have a ‘show and tell’ chats with me, her dad, or her friends every time she read an interesting book. She only half-heartedly followed the ideas. But every person has her/his own time for every thing. This ‘BANG’ moment for her was when she –out of the blue– laid her eyes on “5 cm” novel. “It was a gift from a friend,” I said to her. “So it must be good. Can I read it?” she asked while curiously looking at the novel’s back paper review. I replied, “Sure, K.”


Then she went on reading the book from that moment until the next three days. Until she finally finished with a big smile on her face. “How was it?” I asked. “It was coooool, Mom. I don’t really understand all parts because there are a lot of dialogues, but I enjoyed reading it”. Then she told me the detail of the story. The downside: she asked me about G-string (duhh?). The good side: she even recognized the big idea: “The story tells us about friendship and about to never give up, since our dreams are so close. It is only 5 cm in front of our eyes”.


It was a BANG news for me. I am so glad she started reading intensely, not as a chore, but for her own pleasure.


And to my surprise, one good book led a way to another great book. When she was reading a children book ‘Ten’, she asked me if 'To Kill a Mockingbird’ is a good book since the character in ‘Ten’ read it. I went bananas for a second. In my mental picture I was down on my knee and pled: Please God, tell me this is the sign of promising future of her being a life time happy reader.  Not wanting to press her under my glee, I calmly responded : “It is a great book. You can it find yourself someday when you ready to read it”.


Everyday, I have new surprises, new stories, new enchanment of being with her while she is growing. Very fast. TOO FAST. 

Friday, December 13, 2013

Parent with No Property (8 inspirasi dari Han Hee-Seok)

Mengubah diri sendiri menjadi orang tua yang lebih baik

Pak Han menemukan satu-satunya kebahagiaan hidup pada saat minum bir sampai mabuk. Namun ia memutuskan berhenti minum alkohol. Mengetahui bahwa kondisi kesehatan mentalnya bisa merusak cita-cita mereka, dia rajin menjalani pengobatan dan belajar mengendalikan emosinya yang meledak-ledak. Di tengah perasaan sebagai penulis yang gagal total, Pak Han bangkit dan merumuskan tujuan hidup yang jelas demi anak-anak. Dari tulisannya, terbaca Pak Han tetap memelihara rasa humornya, terutama dengan menertawakan diri sendiri.

 
Bersikap optimis dan berpikir positif karena anak akan meniru orang tua

Pak Han mengingatkan bahwa apapun pekerjaan, kebiasaan, gaya hidup, pandangan hidup, arti kesuksesan/kegagalan orang tua akan ditiru secara alamiah oleh anak-anaknya. Orang tua yang sukses dalam profesinya akan mendukung anaknya memilih profesi yang sama, sementara itu anaknya secara alami juga akan memandang profesi tersebut sebagai bukti keberhasilan hidup (jadi nggak heran ya, anak Presiden kepingin juga jadi presiden). Sedangkan orang tua yang merasa gagal dalam pekerjaannya akan melarang anaknya melakukan pekerjaan yang sama, karena secara umum orang tua tersebut merasa tidak mengetahui atau memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi sukses. Jadi sebaiknya orang tua harus berusaha menjadi representasi suatu keberhasilan atau kesuksesan hingga anak-anak punya keyakinan terhadap ortu dan dirinya sendiri.

 
“Tak usah malu. Demi anakmu, banyaklah belajar dan bertanya kepada ahlinya”

Pak Han sadar, dia bukan orang tua yang tahu segalanya, terutama tentang pendidikan akademis. Karena itu ia tidak ragu menghubungi dan bertanya kepada berbagai pihak yang menurutnya bisa memberikan pencerahan. Dia terinspirasi para pelatih baseball dan berbesar hati karena para pelatih terbaik umumnya dahulu bukan merupakan pemain bintang. Dia banyak membaca mengenai apa yang harus dilakukan seorang pelatih olahraga. Kesimpulannya, untuk mencetak seorang pemain bintang maka dia harus berperan sebagai pelatih yang tegas, disiplin, dan obyektif; bukan sebagai orangtua yang sering dibiaskan oleh perasaan.

Ketika Pak Han bingung darimana harus memulai sebagai pelatih belajar bagi Geoul, dia menelpon keponakannya dan mendapat pencerahan: ingatkan anak untuk selalu menatap guru ketika guru menerangkan materi karena daya ingat anak akan lebih kuat ketika kenangannya diperkaya dengan intonasi, ekspresi dan gerakan tambahan dari sang guru. “Paman, dorong Geoul untuk bertanya langsung kepada guru di luar sesi pelajaran ketika mendapati kesulitan” demikian kira-kira saran berikutnya dari sang keponakan.

Selain itu, suruhlah anak membuat catatan pribadi pada buku pelajaran. Catatan pribadi itu bisa berupa coretan, singkatan, angka atau apapun yang membantu anak memahami serta mengingat kembali konsep yang diajarkan.

Geoul pernah diminta Pak Han untuk membandingkan buku teks pelajarannya dengan buku pelajaran siswa rangking 1 di sekolahnya. Perbedaannya nyata: buku teks anak rangking 1 dipenuhi berbagai tulisan, coretan, gambar, dan komik yang menunjukkan proses pengolahan dan penyimpanan informasi yang berlangsung dalam otak anak itu, sementara buku teks milik Geoul terlihat putih bersih, bagai belum pernah digunakan. Sejak Geoul belajar membuat catatan pribadi di buku teks, hasil ujiannya sedikit demi sedikit meningkat.

Pak Han juga meminta nasihat dari beberapa orang lainnya yang dianggap lebih paham mengenai daftar buku sastra yang direkomendasikan dan cara belajar bahasa Inggris yang efektif. Intinya, Pak Han tidak ragu dan malu untuk mencari bantuan serta menambah pengetahuannya sebagai orang tua.

 
Berusaha memahami anak-anak

Meskipun membuat kupingnya panas, Pak Han berusaha mengerti bahasa anak-anak dan berbicara dalam bahasa mereka  dengan cara menguping pembicaraan remaja di kendaraan umum, restoran, dll.  Pada dasarnya, remaja menggunakan kata-kata umpatan sebagai subyek, predikat, kata sifat dan sekaligus kata keterangan dalam kalimat mereka. Pak Han juga belajar menyukai makanan kesukaan anak agar anak merasa bahwa mereka bisa berteman. Ketika terjadi permasalahan yang pelik, Pak Han biasanya memancing solusi dari anak dengan cara bercerita kisahnya sendiri di masa kecilnya . Waktu yang pas untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengan anak adalah saat kedua pihak sedang tidak marah. Pak Han mengajak Geoul bersantai dengan berjalan-jalan dan hiking untuk berdiskusi.  

 
Jeli melihat peluang pembelajaran dan pengayaan pengalaman anak melalui fasilitas dan acara gratis

Ketika kita sudah kepepet, maka kita akan menjadi kreatif. Karena keterbatasan biaya, Pak Han dan anak-anak merencanakan acara liburan seru  berbiaya rendah. Pak Han memanfaatkan acara dokumenter di TV sebagai salah satu media belajar bagi anak-anaknya. Meskipun awalnya mengomel, tapi lama-kelamaan anak-anaknya menyukai acara tamasya mereka ke museum/galeri dan pertunjukan seni (musik, drama, instalasi, dll).  Pak Han juga rajin mengunjungi perpustakaan di kotanya untuk meminjam buku-buku pilihan yang berkualitas.


Mengajak anak suka membaca koran

Pak Han ingat bahwa meskipun ia sendiri tidak pandai, tapi sejak kecil ia suka membaca koran. Hal itulah yang menyelamatkannya dari jurang kebodohan dan memberikan bekal baginya sebagai seorang penulis. Karena itulah Pak Han menyuruh Geoul membaca kliping kolom dari 2 koran terbaik di kotanya. Selama 2 bulan Pak Han menyusun kliping itu dari hari ke hari, tapi Geoul tidak kunjung membaca satu halaman pun. Setelah pembicaraan yang serius dengan sang ayah, dengan enggan Geoul akhirnya mulai membaca kliping kolom koran tersebut hingga suatu saat ia bertanya pada Pak Han, “Ayah, apa pendapat Ayah tentang hukuman mati?” Berbagai materi kliping koran yang dipilih Pak Han menjadi pencetus diskusi hangat di antara mereka.  Geoul juga mulai gemar membaca setelah Pak Han membacakan sebuah buku yang sangat menarik setelah makan malam. Bahkan ketika Geoul tidak memiliki waktu untuk membaca sendiri, Pak Han membacakan buku selama Geoul makan.


Menumbuhkan empati dan dukungan untuk anggota keluarga

Sedemikian telaten dan konsistennya Pak Han dan keluarga dalam memastikan kesuksesan Geoul maka ketika musim ujian akan tiba, Pak Han memberlakukan masa reses selama 20 hari sebelum hari ujian (conditioning). Tidak ada TV bagi seluruh anggota keluarga dan tidak ada kegiatan lain selain belajar. “Umumnya anak-anak akan gelisah dan mondar-mandir tidak jelas selama beberapa hari pertama, tapi setelah mereka terbiasa mereka akan belajar dengan tekun dengan sendirinya. Saya melihat bahwa anak yang malas sekalipun, pada saat SMA kelas 3 akan terpaksa belajar karena tidak ada teman untuk diajak bermain,” demikian kutipan pernyataan Pak Han.  Di kala lain, ketika Pak Han sedang kecewa karena karyanya ditolak penerbit, Geoul lah yang menghibur dan menumbuhkan semangat untuk ayahnya.


Memastikan anak-anak cukup istirahat dan mengenali cara terbaik mengatasi tekanan

Meski terlihat keras dan disiplin, Pak Han selalu memastikan anak-anak memperoleh jam tidur yang memadai. Rata-rata anak SMA di Korea Selatan baru sampai di rumah jam 10 malam setelah mengikuti les atau belajar di perpustakaan. Setelah itu mereka masih harus menyelesaikan PR sekolah sehingga umumnya mereka tidur lewat tengah malam. Untungnya, anak-anak Korea Selatan masih bisa tidur sekitar 7 jam 32 menit karena nggak masuk jam 06.30 pagi seperti anak sekolah negeri di Indonesia, hehe..

 
Tips yang tidak biasa dari Pak Han untuk Geoul adalah ketika Geoul merasa tertekan dan terbebani dengan kesibukan belajar di sekolah, justru kurangilah kegiatan di sekolah. “Ketika sibuk, pulanglah ke rumah,” katanya.  Tips lainnya, “Tidak apa-apa anak kita hanya peringkat 2 atau 3 atau 4, asalkan dia pernah menjadi peringkat 1 agar dia bisa memahami apa yang diperlukan untuk menjadi yang terbaik”.

Parent with No Property (Kisah Nyata Han Hee-Seok)


 
Pak Han Hee-Seok, seorang ayah di Korea Selatan, meyakini bahwa jika terjerat dalam kemiskinan adalah takdir baginya, maka mungkin tak akan ada yang bisa merubah hal itu selamanya. Tapi sebagai seorang ayah, Pak Han tidak ingin mewariskan hal yang sama kepada ketiga anaknya. Di Korea Selatan ada pepatah bahwa anak terlahir pasti membawa piring nasinya sendiri (pepatah versi Indonesianya: setiap anak punya rejekinya masing-masing). Pak Han tidak percaya itu. Anak harus belajar untuk memiliki piring nasinya sendiri.

 
Kisah dimulai ketika Pak Han pusing bukan main, memutar otak mencari cara mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Biaya tertinggi bagi keluarga di Korea Selatan adalah biaya tempat tinggal dan biaya pendidikan. Bukan hanya pendidikan formal di sekolah, tapi juga pendidikan tambahan di tempat kursus dan kegiatan ekstra kurikuler di luar sekolah.  Hampir semua keluarga di Korea Selatan berlomba untuk memasukkan anak-anak mereka ke berbagai tempat kursus agar anak mereka lebih unggul dari anak lainnya. Kondisi ini sesuai dengan hasil survey Costumer Purchasing Priority – Education oleh MasterCard  tahun 2013 yang menunjukkan bahwa 67% orang tua di Asia Pasific menghabiskan rata-rata 14% dari biaya rumah tangganya untuk membayar biaya kursus anak. Berdasarkan survey tersebut, 33% anak-anak Korea Selatan mengikuti kursus pelajaran tambahan di luar sekolah dan 50% mengikuti kursus bahasa asing. Di Thailand, Malaysia, dan Singapura rata-rata 45%-52% anak-anak ikut kursus pelajaran tambahan. Sebagai perbandingan, di Indonesia hanya 17% anak Indonesia yang ikut kursus pelajaran tambahan dan 16% yang ikut kursus bahasa asing.  

 
Pak Han yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan dan istrinya yang berjualan asuransi tentu tidak mampu membiayai kursus tambahan bagi Geoul, Jeoul, dan Dan Jong. Ketika mengetahui bahwa raport Geoul kebakaran dan menduduki peringkat 27 dari 36 murid di kelas 1 SMP, Pak Han tersentak dan sadar bahwa ada sesuatu yang harus berubah agar kutukan kemiskinan tidak menghantui anak-anaknya. Jalan yang ia pilih adalah mendorong anak-anaknya untuk memiliki keunggulan akademik di sekolah, tanpa mengikuti shadow education berupa kursus atau les tambahan di luar sekolah.

 
Pak Han bukannya tanpa alasan. Mereka hidup di Korea Selatan, salah satu negara di mana anak-anak harus bersaing keras memenuhistandar akademis untuk bisa sukses dalam kehidupan. Sebenarnya hal itu lumrah terjadi di negara-negara di kawasan Asia. Dalam buku memoar yang berjudul “After Orchard”,  Margareta Astaman juga menceritakan bahwa anak-anak di Singapura sejak dini sudah dibebani target prestasi akademik yang harus mereka capai di setiap jenjang pendidikan jika ingin memperoleh karir yang cemerlang setelah lulus kuliah. Segregasi nasib di mulai sejak berhasil atau tidaknya seorang anak masuk SD yang top. Kegagalan akademis di jenjang terendah berarti gagal masuk sekolah favorit di jenjang berkutnya, dan itu artinya terdapat penurunan probabilitas kesuksesan mereka di masa depan.  Tidak ada jalan lain. Geoul harus masuk universitas favorit di Korea, jika tidak maka Geoul tidak akan jadi apa-apa.

 
Hal itu yang terjadi pada Pak Han muda. Ia bukan murid yang pandai dan tidak menyukai belajar di sekolah. Tanpa keunggulan akademis, praktis ia tidak punya kesempatan karir. Sedangkan cita-citanya menjadi penulis juga kandas. Hingga menikah dan beranak 3, belum pernah ada satupun karyanya yang diterbitkan. Pilihan yang tersisa adalah sebagai pekerja bangunan.

 
Dalam buku memoar ini, Pak Han berbagi cerita mengenai hal-hal yang mereka lalui bersama sebagai suatu keluarga. Akhirnya Geoul, yang menjadi kelinci percobaan, berhasil diterima di Universitas Korea yang sangat prestisius di Korea Selatan.  Dengan keterbatasan kondisi ekonomi (miskin), kurangnya pemahaman materi akademis, dan ketidakstabilan secara emosional (Pak Han sering terkena serangan panik), ia berhasil menjadi orang tua yang mengembangkan potensi anak secara optimal.

 
Bagaimana Pak Han melakukannya? Seperti yang sempat diulas oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya “David  vs Goliath”, untuk bisa seperti David yang menang melawan Goliath, you have to be that desperate. Pak Han berada dalam posisi tidak punya pilihan, sehingga harus maju terus. Ia mencari cara-cara yang tidak lazim agar celah tipis itu bisa semakin terbuka dan mengantarkannya pada peluang yang lebih baik.

 
Pak Han dan keluarganya juga memiliki stamina yang luar biasa, karena Pak Han sadar kesuksesan tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Tidak kurang dari 2.000 hari yang mereka lalui dengan air mata suka dan duka hingga akhirnya Geoul memetik hasil yang memuaskan. Kasih sayang, kesabaran, dan kekompakan keluarga Han merupakan faktor yang menentukan keberhasilan mereka menjalani hari-hari yang berat dan penuh tekanan itu.

 
Buku ini bertujuan untuk menginsipirasi keluarga lain dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya dalam keterbatasan ekonomi. Saya menikmati membaca buku ini karena Pak Han cukup terbuka, jujur, dan lucu dalam mengungkapkan kondisi yang terjadi. Bisa jadi Pak Han merupakan gambaran para ayah yang terjerat dalam kekecewaan atas pencapaian dirinya sendiri dan ketidakmampuan mencukupi kebutuhan keluarga, namun kemudian bangkit untuk memperbaiki keadaan. That’s really inspiring.

 
Meskipun demikian, saya merasa bahwa Pak Han juga mewakili beribu orang tua lainnya yang terlalu fokus pada pencapaian akademis semata dan kurang menganggap penting faktor lainnya. Anak meraih nilai ujian yang sempurna dan menduduki peringkat teratas menjadi satu-satunya tujuan hidup bagi orang tua seperti Pak Han. Pak Han bahkan membebaskan anak-anak dari melakukan hal lainnya –yang mungkin bermanfaat bagi perkembangan karakter anak, seperti membantu pekerjaan di rumah–  agar anak-anak bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar. Sounds like my old-school parents :p. Sebagai orang tua jaman sekarang, saya menekankan pentingnya belajar dan hal-hal lainnya...heuheuheu (lebih parah ya?).

 
Saya juga kurang sependapat dengan cara Pak Han yang selalu berusaha membangkitkan rasa bersalah dalam diri anak-anak jika mereka tidak menuruti arahannya. Pak Han tanpa bosan selalu mengingatkan anak-anak bahwa sebagai orang tua mereka telah melakukan banyak hal dan berkorban demi anak. Pasti berat untuk anak-anak, karena pada dasarnya semua anak ingin menyenangkan dan memenuhi harapan orang tuanya. Mami Feti bilang, “Meskipun inspiratif, kayanya nggak ada sisi fun-nya untuk anak-anak.”

 
Begitulah, seperti juga saya, Pak Han bukan orang tua yang sempurna. But who is?  Perjalanan sebagai orang tua adalah perjalanan panjang tanpa peta. Pengalaman Pak Han dan keluarganya dalam menempuh jalur yang mereka pilih akan memperkaya wawasan kita sebagai orang tua untuk memilih jalur terbaik bagi anak-anak kita, sampai mereka siap memilih bagi diri mereka sendiri.

PS: terima kasih, Mami Feti, buat kado bukunya !!!  Thanks for  showing me the way so I can be a better parent.

Monday, December 9, 2013

Dream Job (Bagian 2)


So what am I doing? I’m doing numbers and texts. My business is to add values by turning numbers and texts into information and statistics. That’s it. Ohh wait, pardon me... by information and statistics, we mean comprehensive, realible, accurrate, timely, and accessibble information and statistics. Here we go.

Nampaknya udah cukup serius tuh pernyataan saya (nyontek dari dokumen resmi sih). Tapi apa sih artinya bagi saya? Saya mencoba lihat lagi diri saya dan bertanya sendiri. Apa yang saya percayai? Apa tujuan saya dalam hidup ini? Nilai-nilai apa yang saya pegang dengan sepenuh hati?

Apa yang saya percayai sebagai turunan dari anugerah Allah SWT bagi manusia dan kehidupan di dunia ini? Dalam hidup ini, saya percaya (1) semua orang (seharusnya)memiliki kesempatan untuk memutuskan yang terbaik bagi dirinya. Kunci pertama untuk memperoleh kesempatan itu adalah akses terhadap informasi. Informasi diperlukan agar orang bisa terus belajar dan mempertimbangkan banyak sisi untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Saya juga percaya (2) hampir semua hal di dunia ini adalah relatif dan cara mengukur sesuatu terhadap sesuatu yang lainnya adalah melalui data. Data diperlukan untuk menguji suatu perkiraan atau sangkaan atau perasaan melalui suatu perbandingan dengan suatu standar yang dapat dijadikan acuan.

Kedua hal yang saya percayai tersebut dan dunia yang saya lakoni sampai sekarang ternyata amat dekat hubungannya. Sejak dulu saya suka dengan angka. Saya menjadi asisten Laboratorium Statistik sejak tahun kedua kuliah. Saya mengajar les matematika anak SD dan SMP. Meskipun tidak termasuk brilian selama program MBA, saya cukup terkenal sebagai the numbers cruncherdalam tim. Nah sekarang, saya mengolah dan menyajikan data, menyediakan informasi dan mempublikasikan statistik. Bukan sembarang informasi dan statistik, tapi informasi dan statistik yang lengkap, akurat, handal, tepat waktu dan mudah diperoleh.

Seluruh level pengguna bisa memanfaatkan informasi dan statistik itu dalam riset, formulasi kebijakan sektoral, pengambilan keputusan bisnis dan inovasi, bahkan mendukung pembangunan nasional. The universe has lead me closer to one thing I like.
 
Contohnya hari ini. Saya berada di Bandung, diundang dalam suatu pertemuan mengenai riset ekonomi dan perbankan Indonesia. Berada di tengah para peneliti ekonomi serasa berada di planet lain. Mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. But I still like the sound of their language because I know they talked about something worth the time, knowledge, skill, and cost. They talked about our country. That’s at least the common thing amongst us.

That sounds very fascinating and promising, doesn’t it? Somehow it is also in line with what all Indonesian people always quoted as “berguna bagi nusa, bangsa, dan agama”. Adakah tujuan lain yang lebih mulia dari pernyataan itu? Hahaha.... Semua anak Indonesia jadul pasti pernah mendengar atau mengucapkan cita-cita itu. As abstract as it seems, I do my job now with this kind of blinded proud and dreamy spirit that I ‘maybe doin’ something good for the country.

 I hold deeply in heart fairness, equal opportunity, and human’s ability to adapt and develop himself. No matter what’s happening on the work place, I believe those values are worth to embrace and pass on to people around me.
 
To be fair, we need to have knowledge and wisdom, as well as compassion. That’s what Prophet Muhammad SAW meant by sinergizing faith and knowledge to be a muslim kaffah (well-rounded moslem).
 
To endorse equal opportunity, people need to understand others because what constitute good thing for one may not be true for the other. And for me, considering every one is unique, the word “equal” is easier said than done.
 
The last thing about people’s potential to be empowered and make themselves useful is  important to me. I see people are so drawned either in their comfort couches or in their uncomfort slumps, they refuse to change. I see this as “man-on-pause”, we’re not getting anywhere. Can’t go back, can’t move on. Trapped in a big time machine, until our time is up.

Jadi, setelah uraian panjang lebar di atas, bisakah sekarang saya menjawab pertanyaan teman saya mengenai apakah pekerjaan saya sudah sesuai dengan cita-cita atau kecintaan saya terhadap sesuatu? Despite all and all, I’d say “yes”. All the paths I took, all the routes I visited, and all small decisions I made along the way have guided me to be here now.

I accepted my job as it has accepted me for who I am.
We respect each other and only exchange the best of us.

Thursday, December 5, 2013

Dream Job (Bagian 1)

Salah satu sahabat saya pernah menanyakan apakah pekerjaan saya sudah sesuai dengan cita-cita atau kecintaan saya terhadap sesuatu. Hmm... pertanyaan yang menarik.  Tapi susah menjawabnya. Akhirnya saya jawab aja, “Gue belajar mencintai aja apa yang gue kerjain.” Seolah pekerjaan saya segitu mengerikannya (macam dijodohin aja), jadi saya harus belajar mencintainya. Mungkin sahabat saya sedang mencari jawaban untuk dirinya sendiri. Mungkin juga dia bertanya karena prihatin mendengar kabar saya sering lembur, overloaded and overheated.

Para pelaku seni dan atlit –tanpa diragukan lagi– tentu berkarya sesuai dengan passion mereka. Liat aja Yovie Widianto, Deddy Mizwar, Nungki Kusumastuti, Christian Hadinata, Siman Sudartawa, dll yang begitu semangat menjalani apa yang mereka percayai sebagai hal yang bermakna bagi diri sendiri, orang lain, dan negeri ini. Demikian juga dengan penulis, perencana keuangan, pengusaha, dan orang-orang yang bekerja secara mandiri. Lalu bagaimana dengan pegawai negeri, pegawai negara yang terikat dengan berbagai aturan, birokrasi, dan target ini-itu? Bagaimana dengan pekerja kantor swasta yang jam kerja-nya gila-gilaan, penuh dengan persaingan dan sikut kiri-kanan, dan ancaman pemecatan? Apa sih yang bisa diarepin dari kerja di lembaga publik yang kinerjanya ngga jelas atau kantor swasta yang kejam kaya gitu? Masih berartikah  passion bagi mereka?

Saya teringat pernyataan teman mengapa dia mau dan bertahan bekerja di lembaga  yang membawa-bawa nama negara. Teman saya dari bank sentral Mongolia mengatakan bahwa bekerja di bank sentral itu (1) berarti  turut berperan memajukan negaranya, (2) membanggakan karena bisa lulus  seleksi masuk yang sangat ketat, (3) gaji lumayan, meskipun ngga tinggi-tinggi amat, dan (4) bisa berhubungan dan bertukar pikiran dengan orang lain dari berbagai negara dengan passion yang sama: economics. Mulia banget yaaa... 

Saya pikir dia basa-basi aja, tapi ternyata Ika, sahabat saya yang telah beberapa kali nongkrong dengan para central bankers dari berbagai negara juga bilang hal yang sama. Salah satu temannya yang bekerja di bank sentral Jerman menganggap pekerjaannya sebagai (1) sesuatu yang serius, penting, dan bermanfaat buat negara. Sebagai warna negara Jerman, dia (2) bangga dan puas atas kinerja kantornya meskipun gaji yang diterima jauh lebih kecil dari para bankers di bank-bank swasta besar di sana. Dia percaya bahwa (3) apa yang dilakukannya, apa yang dicapai kantornya itu, merupakan hal yang  menyelamatkan negara dan membuat perubahan signifikan bagi kemaslahatan masyarakat. Wooww....semangat uber alles!

Lain lagi sahabat saya yang lain, yang bertahun-tahun membangun kepakaran dalam bidang spesifik yang kira-kira sebutannya seperti ini: marketing director of corporate transportation and logistics services. Widiiih, keren ya. Yang lebih keren adalah menurut saya dia seneng kerja di bidang itu karena (1) sesuai dengan kompetensi yang dikembangkannya selama ini. It feels great if you are excellent at something. (2) Gaji dan bonus kinerja yang woowww, juga (3) social environment  yang relatif cocok dengannya. Jadi soal jam kerja gila-gilaan, persaingan pake sikut kiri-kanan, dan ancaman pemecatan atau penurunan grade gaji udah pernah dia lewatin meski penuh dengan keringat dan darah. Setelah sekian lama, dia jenuh dengan kondisi itu dan mulai memandang penting (4) fleksibilitas dalam hal waktu kerja. Setelah jadi kutu loncat di berbagai perusahaan, beberapa bulan lalu akhirnya dia mendapatkan dream job-nya untuk saat ini: tetep kerja di perusahaan, tapi dah bisa berlaku seperti pengusaha tuh, yaitu 4 hari ngantor dari rumah dan cuman kerja di kantor seminggu sekali. Dengan begitu, dia lebih bisa leluasa nemenin anak-anaknya sebelum-sepulang sekolah dan bisa lebih bebas......jalan-jalan, hang out dan belanja, tentunya. Hahaha....

Suami saya dan saya sendiri lain lagi ceritanya. Singkat cerita, kami bekerja di sektor pelayanan (meskipun ngga langsung) untuk masyarakat dan negara karena nasiblah yang mempertemukan kami dengan pekerjaan itu. Suami saya pernah mencoba berwira usaha setelah beberapa tahun menjadi pegawai negeri. Beberapa bisnis yang pernah kami tempuh: usaha transportasi logistik, ternak domba, pemodal bibit ikan, dan investasi kayu sengon. Sadly, let’s say we didn’t make it.

Banyak alasannya: kurang fokus (ngga bisa in charge langsung karena tetep sembari kerja kantoran yang menyita ‘energi’), kurang pengalaman dalam manajemen bisnisnya (termasuk memperoleh SDM pelaksana usaha yang terpercaya), dan kurang berani untuk meraih kesempatan yang lewat karena keterbatasan dalam dua hal sebelumnya. Kesimpulan kami, kalo mau bisnis mesti all out, ngga bisa sembari disambi dengan kegiatan lain, apalagi yang dibayarin ama negara. Nggak tega lah, ninggalin kewajiban dan tanggung jawab di kantor hanya demi kepentingan pribadi. Jadi, dia balik lagi ke idealisme: kerja bakti bagi negara. Cieee.... hehehe (*nge-lap keringet*).

Saya sendiri ngga pernah berani mencoba berwira usaha. Kalo aja saya berani buka praktek jadi dukun curhat sejak kuliah dulu, barangkali saya dah bisa mengembangkan grup usaha bernama “Harapan Jaya” yang bergerak di bidang personal empowerment, hehehe. Tapi saya tersanjung dan terharu juga bahwa saya yang ngga punya skill apa-apa ini masih berguna buat orang lain.

Rumah saya semasa kuliah, terutama saat menjelang ujian, selalu dipenuhi teman-teman yang semaput karena belum siap ujian dan mengharapkan ada wangsit tips and tricks dari saya (padahal menurut saya, mereka itu pinter-pinter, cuman suka ngga yakin aja. Jadi cuman butuh penguatan). Macem jimat aja, kalo udah liat fotokopian catetan saya, mereka udah ayem.  

Kalau lagi low season ujian, gantian masalah percintaan yang mengemuka (padahal tau apa sih saya ttg cinta? Saya lah satu-satunya yang ngga punya pacar selama kuliah  --well, masa jadian saya dengan Mr. X yang berumur 10 hari serta cinta-cinta saya yang bertepuk sebelah tangan itu ngga usah diitung lah yaa--). Walhasil kadang saya agak terbawa suasana saking menjiwai peran sebagai penasihat cinta dan sering berpikir “ Would it be better if they both do things differently? How different I would react in the same situation? Can this relationship survives and grows? So, what’s the cure for a brokenheart? etc”.

Bertahun-tahun kemudian, ketika kami telah terberai dengan hidup dan karir masing-masing, eh.. ujug-ujug ada pertanyaan via BBM saya “Haaiii, loe lagi sibuk ngga? Eh, gw boleh nanya ya... gimana menurut loe, gw ambil tawaran kerja di Bank P atau di Bank Q yaa?  Please jawab a.s.a.p. ya  karena loe kan terkenal lelet jawab BBM. Gw perlu banget nih jawabannya.”   Hehehe..... emangnya saya siapa, kok ya berani merasa lebih tau ttg bank-bank tsb? Akhirnya daripada salah memberi jawaban, saya cuma berani  mengajukan pertanyaan. A right question equals half of its right answer.

Belum lama ini, bos saya datang dengan tergopoh-gopoh ke meja saya. Waduuuh, ada kerjaan yang bermasalah nih kayanya. Ternyata: “Mbak, saya mau konsultasi nih, penting banget. Ada waktu kan? Ini lho..., saya kan mau jualan makanan. Kotak plastik packaging-nya yang cocok dan murah itu bisa saya beli di mana ya? “  OMG, really ????? 

Pffyuhh, saya emang ngga bakat jadi konsultan atau asisten pribadi :p. In conclusion, I stay and stick with the offices. No idea to build a business on my own. Soal bisnis yang jadi impian saya, ntar dibahas lain kali.

Kembali ke topik awal.  Am I happy with what I am doing now? What exactly am I doing now? What business am I in? That’s the purpose statement  I should formulate for myself.

Sambil mikirin purpose statement saya dalam bekerja, saya timbang-timbang lagi seberapa samanya saya dengan orang-orang yang saya ceritakan di atas. Pernyataan kolega dari bank sentral Mongolia dan Jerman membuat saya malu. Harusnya saya kan berpandangan seperti mereka ketika menjawab pertanyaan sahabat saya di paragraf pertama. Nikmat Allah SWT yang mana lagi yang saya mintakan?

Tanpa bermaksud menyombong, ortu saya parah banget bangganya terhadap institusi tempat saya bekerja yang mereka anggap sebagai lambang dari intelektualitas (ortu kan pasti berpendapat anaknya ‘pinter, cerdas, berbakat, dst’), kemapanan, dan kontribusi bagi Indonesia (you know, tentunya karena mereka adalah pensiunan pegawai negeri yang berdedikasi, kesannya we have something in common). They never complained about my long hour at work, maybe because I resemble themselves as a responsible person working for the society. #eaaa banget ngga tuh? Mereka kan ngga kenal konsep ‘work-life balance’; mereka kenalnya Nike : Just do it (yo wis, dijalani wae). Karena itu, kalau mereka bangga...ya sudahlah, memang jatahnya mereka untuk menikmati hasil 'panen'nya.

Lambang intelektualitas? Meski berada di lingkungan kerja yang semua orangnya pinter-pinter kadang bikin ciut nyali dan terseok-seok ngejarnya, tapi beliau-beliau yang pintar itu banyak menginsipirasi saya untuk berpikir lebih jauh dan berbuat lebih banyak. To do the extra mile. Dari sisi kemapanan, Alhamdulillah saya bersyukur imbalan yang saya peroleh bisa menunjang kemandirian ekonomi keluarga dan bantu orang lain dikit-dikit. 

Soal kontribusi, setidaknya hasil dari apa yang saya kerjakan bisa dimanfaatkan oleh orang lain di seluruh Indonesia. That’s the power of data, my friend. I am anonymous to just about every user of the data I worked on. Nonetheless, I’ve built strong virtual relationship with them. I feel their  passion and ambition for projects their are in. I sense their anxiety and anger when their work’s due dates were approaching yet they got nothing from me. So, some people saw me as a heroine. Some didn’t happy and blamed me for things they failed. Some --just like myself most of the time--  are wishing we can do more.

Mestinya sih , setelah menimbang faktor-faktor di atas, secara umum harusnya saya menjawab bahwa apa yang saya kerjakan adalah sesuatu yang saya minati dan cintai. Tapi saya penasaran untuk menggali semakin dalam, sebelum terlambat.... Apakah saya mengerjakan sesuatu yang bermakna? 

A right question equals half of its right answer.