Thursday, March 14, 2013

Does my face need make up? What happens to inner beauty?

Sometimes boredom could be a good trigger to think about something (hopefully) more energizing and productive. So when I am feeling a bit low, I decide to give myself a second thought about what might be important in my daily routine other than being grumpy at the office about my kryptonite and catching up the commuter line to/from work.
And I find one of them. The make up. I never realized that just thinking about me, in prettier and better look, has lifted my mood most of the time as high as 1000%.
Back then when I was a teenager, I always thought it was not cool to wear make up; it was like a scary mask that cover up the truth. Kinda distrusted the most important part of yourself. Nay. Not me. When I was in my 20s, I never thought that I needed to wear it. Light-colored lipstick did fine for me to go around the campus; of course, totally unnoticed by every cool guys there. When I was in my 30s, my eyes couldn’t be fooled anymore: women do look better when they are wearing suitable and decent make up, no matter what lies inside (we’re not talking about kindness and compassion and good heart, as well as intelligence). But with the baby coming out, back to school matters, and more works at the office, I barely had time to learn and practice it properly.
Then, my 40s will come pretty soon, just in couple of years. And when I looked at the mirror, I couldn’t help raising my eye brows, asking “What have (not) I done to my face?”. I surely do put some items on my face but I still have no idea about make up. I bought some make up then threw them away untouched.
Now I finally consider it important… and urgent. Not because I don’t believe in inner beauty anymore, or because I was intimidated by glamour (a.k.a. threatening) beauty around me, or because I have lost my self-confidence in going natural (the term ‘natural’ has changed, by the way. It now means wearing make up but succesfully “look stunning without too much effort”). Definitely not because I'm going into the 40s tick-box.
The reasons are so simple, at least for me. It’s been 6 months since the first time I walked and started running on treadmill; it was 2 months ago that I developed fondness of running outdoor. And despite the challenges to take off my butt from the bed early in the morning, it was all fun. No pressure. Targets are made to be broken occassionally when things went so wrong after I started. So why not try on something new, something definitely as fun, something that make you see and feel better about life?
Wearing or not wearing make up could be a way to respect and live your own values. Mine are not clearly defined, but I’m a big fans of equality and acceptance, and I believe in hard work (smart work is already included). So when I popped out from ‘make-over box’, I want to feel the same comfort and confidence as while I’m not wearing make up at all. I am not in the effortlessly beautiful crowds. Just like any other things in my life that I have to do or give up something to get something, beauty surely costs me many things. But I’m ready to get more serious in that field (although I won’t make the make up essentials as my staples).
Lastly, I already have some basic items that I rarely use. It would be such a waste if I don't use it. Anything under our control that has already cost you but not generating any benefit is considered liabilities. So, let's turn my limited collections into assets!
The point is, I want to have more fun. There are a lot of other things in life considered uncontrollable, messy and pathetic. I could deal with some, but some were not that easy or they are beyond my power. So even if people don't see me the same way, just let me feel  beautiful and gorgeous!
I wouldn’t ask for more.
Except Naked pallete from Urban Decay, Orgasm Blush from Nars, Mary Loumanizer from theBalm, Sigma brush set, and maybe couple of lipsticks and lip gloss. LOL.

Monday, January 21, 2013

Gadget-free or Gadget-freak?

Salah satu hal paling besar yang ingin saya perbaiki segera di tahun 2013 adalah jalur dan pola komunikasi saya (lhaaa.. itu mah dua dong!? :p). Hehehe… tuh kan, terbukti cara saya berkomunikasi seringkali menimbulkan berbagai reaksi ke arah yang bertentangan dari tujuannya. Itu baru satu masalah. Sometimes I could not say what I meant and other times I did not mean what I said. I was afraid that I might hurt someone. Padahal ujungnya kita nggak mungkin selalu menjadi orang yang disukai, karena meskipun kita menyampaikan hal yang benar dengan cara terbaik tetap saja persepsi, pola pikir, dan kondisi penerima informasi itu amat menentukan reaksi atau hasil dari upaya komunikasi yang kita lakukan (hal ini dibahas lain kali aja yaa).

Masalah lain, saya rada malas mengikuti perkembangan gadget, mantengin media sosial, dan membiarkan diri berada dalam kutukan blackberry yang selalu eror. Karena komunikasi zaman sekarang juga banyak difasilitasi oleh kecanggihan teknologi dengan berbagai macam media dan beragam gadget, tentunya saya nggak bisa bertahan hidup tanpa alat-alat tersebut, atau tanpa mengenal media komunikasi beserta kelebihan dan kekurangannya.

Gadget-hassle free
Kendala jalur komunikasi yang saya maksud adalah betapa lambat dan leletnya respon saya terhadap pesan yang dikomunikasikan pihak lain gara-gara hambatan infrastruktur. Blackberry saya memang tergolong generasi tua dan sudah mengalami banyak ‘penganiayaan’ karena jatuh, terbanting, dll. BB itu jadi sering mati sebelum waktunya dan boros batere. Solusinya mungkin ganti batere atau BB. Selain itu sinyal kartu XL ternyata kurang bersahabat di kantor saya di Thamrin. BBM lambat, mau telpon langsung juga putus-putus, bikin stres. Saya sudah membandingkan, BB dengan kondisi sama tapi menggunakan kartu Simpati ternyata masih mendingan (bukan iklan berbayar lhoo..). Solusinya ganti mungkin kartu. Di gedung saya sebenarnya sudah ada WiFi tapi entah bagaimana di spot tempat saya bekerja kok ya nggak begitu hot… byar-pet gitu deh. Yang satu ini saya nyerah. Masa solusinya ganti gedung sih?

Akibat dari hambatan infrastruktur komunikasi ini cukup parah. Beberapa kali, saya tidak ter-update info dari sekolah Miss K, misalnya tentang kegiatan sekolah atau keputusan libur karena ada kejadian darurat. Walhasil beberapa kali Miss K muncul di sekolah yang kosong melompong atau tidak membawa item yang dibutuhkan untuk pelajaran tertentu. Sahabat-sahabat saya selalu menyindir tenggapan saya yang selalu terlambat disertai kalimat pembuka “Maaf ya, baru bisa bales…”. Mereka biasanya meradang, “Udah basi kali, Buuuu… Bosen deh, apalagi alesannya? Biasanya kalo pagi pake alesan lagi meeting, siang alasannya sinyal jelek, sore lagi nyetir, eh malem-malem lu suka ketiduran. Kapan lu idupnya sih?”.

Urusan BB lelet juga mengancam keharmonisan rumah tangga dan kelancaran pekerjaan saya. Suami sudah sering marah-marah karena informasi manajemen rumah tangga dan janjian pulang jadi kacau gara-gara saya nggak respon balik (padahal sering juga hal itu disebabkan pesannya memang tidak diterima HP saya). Suatu hari saya pernah pula mendapat teguran dari big boss mengenai tidak sampainya BBM beliau mengenai hal yang penting dan mendesak (ya iya lah, kalo nggak penting dan mendesak kan nggak mungkin iseng kirim BBM ke gue). Rekan kerja saya sebel karena saya sering melewatkan email-email penting yang berisi updating situasi dan solusi terkini.

Jangan tanya soal Facebook dan social media lain deh, bisa diitung dalam sebulan berapa kali saya akses ke Facebook (itu pun ucapan selamat ulang tahun dan kirim jempol doang!). Meskipun saya nggak berniat jadi social butterfly, tapi saya sudah terlalu lama membiarkan ketidakpedulian itu tumbuh membesar, bertentangan dengan apa yang selama ini saya anggap utama dalam hidup ini: hablum minna naas dengan keluarga, sahabat, teman, saudara sesama Muslim, masyarakat, orang, manusia di bumi ini.

Semua kritik itu bener banget. Kepasrahan saya terhadap kondisi infrastruktur teknologi yang tidak menguntungan itu memang menyebalkan dan merugikan serta membuat saya semakin jauh dari kepedulian terhadap lingkungan. Saya sendiri saja sering gemas dengan respons time orang lain yang terlalu lama, karena saya sebagai pihak yang berkepentingan pasti ingin cepat memperoleh informasi atau konfirmasi. Orang lain pasti sama juga, dong, kalau begitu. Jadi jangan salahkan orang lain kalau saya dinilai lambat, nggak responsif (jangan-jangan malah dianggap nggak responsible juga), nggak pedulian, dan nggak menghargai orang lain.

Cukup sudah BB Gemini generasi jebot itu mendampingi saya. Terima kasih XL, tapi saya harus berpisah denganmu sekarang. Saya ganti BB sekaligus ganti kartu. Suami saya juga membeli portable electricity charger, supaya nggak ada alasan lagi BB low bat atau mati. Alhamdulillah, sejauh ini ketiga benda tersebut ditambah HP Smart 299ribuan sebagai modem di rumah cukup membantu saya sehingga benda-benda itu layak untuk disebut aset (hehehe… perhitungan amat yak). 

Mind-hassle free
Tapi suami saya masih becandain, “Gadget udah ganti baru. Otak dan pikiran kamu perlu di-upgrade nggak tuh?” Benar juga. Gadget kan tergantung penggunanya, tergantung pada mind set dan sejauh mana komunikasi yang lancar menjadi nilai yang diusung pemilik gadget tersebut. Hal atau orang yang penting bagi seorang pengguna, mungkin nggak penting bagi orang lain. Kalau dalam pikiran saya membaca email, sms, BBM, atau pesan lain itu bisa diundur-undur, maka itu lah yang terjadi… Bacanya aja telat, tentunya menjawabnya lebih lama lagi. Padahal sekarang ini adalah zamannya informasi mengalir super cepat.

Saya juga patut mempertimbangkan pendekatan berpikir saya yang selama ini cenderung terlalu fokus dan intensif pada yang kasat mata. Masih terpatri dalam benak saya bahwa orang di hadapanmu itulah yang saat itu harus diperhatikan 100%. Hal itu menahan saya dari membagi perhatian pada hal lain yang ternyata perlu perhatian yang sama intensitasnya. Multitasking, or multifocusing, for me is not about spreading the attention; it is purely about doubling the attention and intention. It’s either doing all faster or reducing some to get things better. Sometimes I failed to have the choice because I wanted it all.

Kalau dalam pikiran saya, hablum minna naas itu hanya dengan orang yang berhadapan dengan saya (face-to-face) maka semua jenis komunikasi lain yang tidak langsung akan selalu saya nomorduakan, bahkan saya lupakan dengan alasan saat itu sedang meeting, nggak ada sinyal, HP low bat, sedang sibuk, nggak sempat, dan sebagainya. Padahal, jumlah orang yang langsung berhadapan dengan saya dan berkomunikasi intensif sehari-hari paling banyak 5-10 orang, orang yang itu-itu juga. Sedangkan seluruh sisa orang lain yang saya kenal di dunia ini hanya bisa terhubung dengan saya secara tidak langsung lewat gadget dan teknologi. It’s a new way of communication that I just couldn’t escape.

Beberapa tips yang saya dapatkan dari sana-sini, artikel atau blog ini-itu semuanya mendukung penggunaan teknologi dan media komunikasi yang beragam. You can reach higher aims, get larger influence, or even feel more satisfy and be happier by using more than single old media/method of communication. Saya hanya perlu membuat proses itu menyatu dengan keseharian saya, sehingga lama-lama segala macam alasan untuk tidak menanggapi tepat waktu akan terkikis. Niat saya bukan untuk selalu tampil prima di percaturan sosial, pekerjaan, atau pergaulan … tapi berusaha untuk lebih mampu ‘hadir’ dalam semua sisi kehidupan secara lebih proporsional.

Jadi, inilah janji sederhana saya. Nge-charge HP setiap hari wajib saya lakukan di rumah supaya tidak ada alasan low bat. Saya juga berjanji untuk cek email kantor setiap muncul pop-up dan segera putuskan apa yang akan dilakukan terhadap email itu (hapus, teruskan kepada yang lebih berhak, jawab, atau simpan dalam folder tersendiri sementara menunggu penyelesaian). By the way, saya masih punya PR menyortir 11.744 email dalam mailbox saya… hiks. Itu hasil kemalasan saya selama 2 tahun, gila nggak tuh….! Saya berniat mengaktifkan nada getar atau tengok-tengok Blackberry setiap 5 menit sekali, lalu langsung jawab begitu selesai baca pesan di Line, WhatsApp, sms atau BBM (jangan pernah menunda jawab pesan yang telah berstatus “Read”, hal tersebut konon bertentangan dengan etika…wiiih…). Buka Facebook minimal 2 kali sehari, langsung beri tanggapan yang diinginkan. Langsung posting di blog atau Twitter begitu ide itu datang (you can never be perfect by postponing or waiting for the ‘right time’, so just do it right away!). Saya mewajibkan diri menelpon kembali atau minimal sms setiap kali ada panggilan masuk yang tak terjawab.

Tahun 2013 baru berlangsung 3 minggu. Dari sekian banyak janji saya, masih banyak yang belum bisa konsisten saya lakoni. Tapi secara prinsip saya paham dan yakin bahwa jantung dari hidup yang bahagia adalah komunikasi yang baik. Bahwa gadget yang memadai akan membantu, saya setuju. Tapi yang lebih penting untuk saya perhatikan adalah niat baik dan perhatian yang tulus dalam setiap bentuk komunikasi dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun. Meski tidak ada batasan mengenai definisi cepat atau lambat, tapi hati kita tahu mana saja hal yang bisa kita lakukan dengan lebih baik. Your gadgets can be your assets, but your relationships are the true wealth you can get.

Wednesday, January 16, 2013

Lethal Affection

Beberapa kisah dan cerita membuka mata saya tentang sisi lain dari kasih ibu yang tak lekang di sepanjang hayat. Buku-buku menarik yang menceritakan hubungan ibu dan anak (terutama anak perempuannya) telah mendorong saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih jujur mengenai hubungan saya dengan Miss K, buah hati saya yang tengah beranjak besar. Semua ibu pasti mencintai dan menyayangi anak-anaknya, rela berkorban dan selalu menginginkan yang terbaik bagi mereka.  Saya tidak pernah mengira bahwa cinta dan kasih sayang bisa menjadi posesif, mengurung, dan mengerdilkan. Ketika kesalahan itu berlebihan maka cinta bisa mematikan, dalam arti sebenarnya maupun dalam arti kiasan.
The Piano Teacher karya Elfriede Jelinek – Di balik kisah cinta terlarangnya, Erika -sang guru piano- menyimpan duka dan lukanya akibat perlakuan ibunya yang  mendominasi, kejam, dan “tidak masuk akal”. Novel ini dipenuhi oleh bayangan kekejian dan tindakan kejam yang diam-diam telah menyusup dalam batin Erika sebagai hasil dari penganiayaan batin yang dilakukan ibunya. Saya mempertanyakan mengapa cinta seorang ibu bisa jadi demikian mengikat, mengatur, dan melukai. Semua dilakukan atas nama melindungi, mengasihi dan mengupayakan ‘kebaikan untuk Erika’.
Akhir yang tragis untuk Erika karena sebagai korban dan pelaku dia menjebak dirinya dan mengizinkan lahirnya penganiaya baru. Buat saya novel ini termasuk kategori ‘horor’ sehingga sulit meyakinkan diri sendiri untuk membaca buku ini yang kedua kalinya. Terus terang saya sudah lupa dengan detail novel ini. Hanya kesan mengerikan yang digambarkan dengan sangat baik oleh penulisnya lah yang tetap tinggal dalam kenangan.
Bumi Manusia karya Pramoedia Ananta Toer – Cinta seorang perempuan agung dan cerdas melebihi zamannya belum tentu mampu mengantarkan sang anak menuju kemandirian dan kebahagiaannya sendiri. Saya trenyuh dengan Annelies, dia memperoleh seluruh limpahan kasih sayang Nyai Ontosoroh. Tidak diragukan lagi cinta, dedikasi, ketulusan dan perjuangan sang Nyai untuk membela kepentingan anak gadisnya itu. Tapi sekali lagi, dominasi dan penguasaan sang Mama telah melemahkan jiwa Annelis dan menggagalkannya menemukan jati diri serta kekuatannya sendiri.
Nyai Ontosoroh berpandangan jauh tentang bangsanya dan menolak untuk pasrah pada penguasaan penjajah. Sesungguhnya batin Nyai juga dipenuhi dendam terhadap orangtuanya yang telah menjualnya kepada seorang Belanda ketika ia berumur 14 tahun. Nyai tidak bisa memaafkan ibunya karena ‘berdiam diri dan tak berdaya’ sebagai perempuan Jawa atas keputusan ayahnya untuk menjual Nyai.
Keinginan Nyai untuk tidak pernah berdiam diri dan upayanya melepaskan diri dari ketidakberdayaan perempuan terbaca oleh Annelies sebagai standar yang tak akan pernah bisa ia capai. Mamanya terlalu agung, terlalu tinggi menjulang kualitasnya untuk ditiru dan dicintai apa adanya. Ia hanya mampu menuruti sang Mama, sebagai bukti cinta dan kasih sayang sang anak yang terpendam. Perjuangan cinta Nyai untuk ‘anak bangsanya’, untuk hal yang lebih besar dari dirinya sendiri, tanpa sadar telah membuatnya lupa untuk mencintai Annelies sebagai seorang anak.
Secara tidak langsung, Nyai pun telah menjual Annelies kepada 'bangsa'nya, dengan harapan bahwa dengan menikahi seorang calon pemimpin bangsa ini maka Annelies akan otomatis menjadi bagian dari perjuangan itu,menjadi bagian dari kebangkitan yang Nyai impikan. Sayangnya Annelies meninggal; penyakit fisik Annelies hanya memperkuat kesakitan yang ada dalam batinnya yang tidak mampu menerima hentakan dan gonjang-ganjing kehidupan. Benteng sang Nyai tidak mampu melindungi Annelies dari kerapuhannya sendiri.
The Battle Hymn of The Tiger Mother karya Amy Chua – Cinta dalam perjuangan mempertahankan standar hidup serta mengejar standar kualitas, etos, dan mimpi besar keluarga Amerika keturunan Cina. Dibanding dua novel di atas, buku yang ditulis Amy Chua di tengah krisis dirinya sebagai seorang ibu dari 2 anak perempuan ini memberikan banyak pandangan nyata mengenai pengasuhan anak. Dari sudut pandang dan budaya Cina (dan Asia umumnya), pola pengasuhan yang baik berarti orang tua mati-matian melaksanakan kewajibannya dan anak-anak mati-matian melaksanakan kewajibannya pula.
Prestasi akademik tak bercacat dan deretan medali ekstra kurikuler yang tak berujung dinilai sebagai hasil dari sikap hormat dan patuh pada orang tua serta disiplin diri yang luar biasa. Sebagian besar uraian Amy Chua mengenai alasan mengapa  dia melakukan hal-hal yang “luar biasa kejam” terhadap anak-anaknya sepenuhnya saya pahami dan setujui. Siapa yang tidak ingin anaknya siap hidup di masa depan yang kian tak menentu? Siapa yang mau anaknya menjadi pecundang, tidak percaya diri, tidak mandiri, dan menjadi beban masyarakat?
Tapi pilihan tindakan yang dia lakukan sungguh-sungguh di luar kemampuan saya untuk mengerti dan memahaminya. Kok seorang ibu bisa begitu ya? Tidak adakah cara lain? Mungkin saya perencana yang idealis, termasuk dalam 'merencanakan' masa depan anak saya. Tapi untuk benar-benar 'membayar' rencana dan impian saya itu dengan hilangnya kenyamanan dan kebahagiaan kami? Saya pasti menyerah. Saya memilih jalan lain yang lebih mudah, lebih tidak menantang (Papa Panda pun mungkin tak setuju betapa mudahnya saya mengibarkan bendera putih).
Saya sering disebut sebagai ‘macan malas’ oleh Miss K karena meskipun mata, telinga dan otak saya tampak sedang berproses mengenai sesuatu :p (kalau saya macan beneran, pasti saat itu saya sedang mikirin besok makan hewan buruan apa lagi yaaaa, yang sehat dan lezat buat anak-anak macan), saya tetap macan yang senang leyeh-leyeh, santai-santai di depan TV, dan took this life for granted. Sebagai macan malas, saya benar-benar terkesima dengan apa yang Amy Chua lakukan terhadap Sophia dan Lulu. Determinasi tinggi dan disiplin yang kuat itu saya rasakan laksana awan yang menghalangi cinta matahari untuk menerangi dan menghangatkan saya.
Tak urung akhirnya saya (juga Amy Chua) jadi bertanya-tanya: bahagiakah Sophia dan Lulu? Bahagiakah Miss K? Setelah apa yang kami lakukan terhadap mereka atas nama cinta, kasih sayang, perlindungan terbaik, dan cita-cita mulia menjadi warga produktif dan bahagia? Amy Chua telah menjawab di bagian akhir bukunya: Ya, mereka bilang mereka bahagia. Dia juga bilang bahwa pola pengasuhan yang ia yakini adalah about believing in your child more than anyone else – more than they believe in themselves – and helping them realize their potential, whatever it may be.
Saya? Belum ada jawaban pasti. Saya masih mencari dan mencari di tengah rentetan topik yang jadi PR saya: kegilaan pagi hari untuk berangkat sekolah dan ngantor, ulangan dan ujian sekolah, 'seabrek' ekskul (sesungguhnya Miss K hanya ikut menyanyi, berenang, bahasa Inggris, dan Kumon; yang mungkin masih di persneling 1 dibanding anak-anak Indonesia lainnya yang lebih beruntung... atau malah 'tidak beruntung' ya?), pendidikan agama dan akhlak, kemandirian, pergaulan anak dan remaja masa kini (6 deadly challenge for kids and teenagers today: smoking, alcohol and drugs as well as bullying, pornography and sex), dll... dll... Ya Allah, bless us and give me the STRENGTH so I can pass it on to her to live her own life.
Mengasuh dan mendidik sekaligus mendampingi dan menginspirasi anak bukan hal yang mudah. Terutama bagi saya yang sangat kekiri-kirian (otaknya) dan sangat percaya pada motivasi internal. Ketika menyusui dan menggendong bayi mungkin merupakan hal yang naluriah bagi sebagian besar ibu, saya perlu memastikan dgn melihat serangkaian indikator untuk tahu bahwa saya melakukannya dengan benar (bayangkan saja, contohnya saya memarkir mobil bukan dengan perasaan tapi dengan perhitungan berupa bayangan sudut sekian derajat, kecepatan sekian, jarak sekian meter dan putaran stir sekian kali… di dalam kepala saya). Ketika anak saya tidak mau makan, saya kebingungan karena seingat saya, sejak saya TK saya jarang sulit makan karena sudah paham bahwa makanan yang baik diperlukan bagi tubuh untuk tumbuh dan berkembang (sejak kecil saya serius dan sedikit membosankan...:p). Ibu dan bapak saya tidak sempat panjang lebar menasehati ini-itu karena sebagian besar hal-hal mendasar sudah sejak kecil saya lakukan sendiri.
Tapi Miss K bukan saya. Saya yang sekarang pun bukan saya yang dulu. Saya bersyukur saya memiliki kesempatan untuk terlahir kembali (dengan harapan sebagai 'saya' versi yang lebih baik) ketika Miss K hadir ke dunia ini hampir 9 tahun yang lalu. Sosok mungilnya telah mengubah hidup saya sejak saat itu. Banyak hal yang telah kami lakukan bersama, atau tidak bersama (karena saya tidak selalu ada untuknya). Semoga cinta dan kasih sayang saya mampu menggapai hatinya yang terdalam, dan membopongnya untuk berani hidup dengan keyakinannya, dengan bahagia. Jangan sampai ketulusan saya sebagai orang tua menjadi berlebihan, mematikan dan mengecilkan semangatnya untuk menghadapi dan menghiasi dunia.
Saya berdoa agar cinta saya kepadanya tidak menghancurkan diri saya juga. Di atas segala-galanya saya lah yang sebenarnya membutuhkan cinta, pengakuan, kesabaran, dan pengertiannya. Ketika suatu saat nanti saya berhenti ‘tumbuh dewasa’, saya ingin dia memaafkan, memaklumi dan menerima saya apa adanya.

Friday, December 21, 2012

#Week14 : The 16 Minutes Running Chronicle

Minggu ini adalah minggu ke-14 acara lari+jalan (di treadmill :p). Sejauh ini saya bisa bertahan untuk mencoba berlari minimal 2x dalam seminggu. Tampaknya cita-cita mulia untuk exercise 4-5x belum bisa terlaksana. Tapi daripada menyesali yang sudah lewat, lebih baik saya mensyukuri pencapaian kecil ini dengan penuh perasaan suka cita.
Minggu ini saya berhasil berlari 16 menit non stop. Non stop. NON STOP. 3 menit pertama masih cincay. 5 menit berikutnya adalah menit-menit yang amat menentukan. Pada menit-menit itulah saya mencari ritme nafas yang paling nyaman lalu mencoba berdialog dengan diri sendiri mengenai apa yang sebaiknya saya pikirkan selama saya berlari. Setelah berpengalaman selama beberapa minggu, saya tahu bahwa urusan lari-berlari ini (untuk orang yang sehat dan segar bugar) sepenuhnya adalah urusan mind set dan kekuatan mental.
Selama 5 menit itu saya mencoba mengosongkan pikiran saya dari hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak berguna. Saya ciptakan gambaran kebahagiaan dan kepuasan di otak saya. Beberapa tempat favorit saya pada saat itu adalah pantai, Masjidil Haram, dan café di pinggir jalanan Paris. Ketika itu tangan saya mulai mendingin dan telapak kaki mulai terasa sakit. Perlu usaha ekstra untuk mengangkat kaki saya melangkah ke depan.
Setelah melewati 8 menit pertama, saya tiba pada tantangan yang sesungguhnya. Bahkan khayalan mengenai betapa sehat, bahagia, dan damainya saya bersama keluarga terkadang sudah tidak mempan lagi. Pada menit 9-13 inilah saya mengambil kebijaksanaan dari seekor hamster (seolah-olah ia memang memiliki kebijaksanaan itu). Saya mengosongkan pikiran dan mulai berpikir seperti hamster yang tidak pernah letih dengan roda mainannya. Roda itu adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dan kepuasan sang hamster. Karena seekor hamster kemungkinan tidak mengenal sistem pengukuran waktu, saya juga melarang keras diri saya untuk melirik timer di dashboard atau jam tangan saya. Biarkan waktu berlalu. Nikmati saja detik-detik itu. Rasakan setiap hirupan nafasmu. Suara sang hamster (kadang ia tampil dalam pikiran saya menggunakan jubah orang suci) itu terngiang-ngiang laksana seorang guru.
Terkadang saya tergoda juga dan melirik sedikit ke arah timer. Dan seringkali saya menyesalinya.
10 menit 23 detik.
Masih jauh panggang dari api. Shhh…. Tapi sang hamster menatap saya dengan bijaknya dan berkata, “Berlarilah terus, seperti kau biarkan pikiranmu berlari tanpa batas. Temui tujuanmu.”
Baiklah. Untungnya saya berhasil kembali ke ritme yang nyaman (meski buta musik, saya adalah mahluk ritme; saya manusia yang bergantung pada ketukan dan hitungan).
3 menit terakhir menuju 16 menit itu adalah menit-menit yang sangat menyenangkan. Minutes to win it!  Entah mengapa banner dengan kata-kata itu sepertinya melambai-lambai di depan mata saya seolah menyambut pemenang lomba marathon. If I could survive the 14th minute then I can do anything. If I could pass the 15th minute with the pace of 7,2 km/hour then I must be able to run 7,3 km/hour. Itu yang saya katakan kepada diri sendiri sebelum detik-detik kemenangan itu tiba.
And ….. I did it! I ran 1,8 km in 16 minutes, non stop. N-O-N  S-T-O-P.
Itu adalah kemenangan saya. Bersama suami dan anak yang mengizinkan saya berangkat kantor jauh lebih pagi untuk bisa berlari. Bersama kantor yang menyediakan treadmill dan kamar mandi. Bersama sang hamster yang menemani saya di saat-saat paling menantang. Bersama tayangan DIVA Universal atau StArWorld di gym. Bersama teman-teman saya yang juga menikmati kegiatan kebugaran mereka. Bersama kakak ipar saya yang menyeret saya ke gym. Bersama artikel-artikel tentang lari dan kesehatan.
CongratulateMe!  

Setelah minggu ini, saya mempertimbangkan untuk mulai berlari+jalan di luar ruangan. Saya masih cukup ingat betapa ngos-ngosan dan menderitanya saya ketika mencoba berlari di sepanjang Jalan Thamrin beberapa minggu lalu. Tapi sekarang mungkin akan lain lagi ceritanya. I will take it slowly and smartly. The transition from running on treadmill to running on road will be like forever for some people, maybe. But who cares? 

Thursday, December 20, 2012

Life as a Staff: The Golden Years of My Career

I had privilege to be a young staff, junior analyst, or had other titles reflected the near-bottom position for 9 years with two highly structured organizations. It might seem too long for some fast-track people, but I believe I gained some indirect career benefit from this long ‘golden’ period.
Beginner’s luck
The very profound side was that I was in balance of having my adrenalin high for cracking new challenges and having people more lenient on me because I was still in my learning curve. The statement “I’m still learning” was like a mojo to me. I could do things wrongly. I could make mistakes. And I did, a lot of times. Some were severe and cost of hours of desperation in fixing them. But that was the upper limit of my responsibilities at that time. As a staff, I always said to myself that if some fishy things came up later after my work was checked by my managers then it couldn’t be my fault. I might be wrong, but it must had been somebody else’s (a.k.a. my boss’) fault, too.
After some time, I realized that a team was just as strong as its weakest members. It was the essence of a supply chain, as I reckoned it from my 101 college subject. Slowly I changed my view and attittude toward the quality of my work; some changes were forced by situation and some because I felt that it was the right thing to do. I started figuring out any alternatives before I gave up and asked for more direction. I began to understand the needs by listening more actively. I was gaining confidence to take initiatives. Since I was not coming with IT background, I thought it might be better to also build my strength in other fields I'm more passionate about, while trying to keep up with the information system's fast development.

I want to keep the beginner's luck which proven to be in my favor during my early years. But like the old wise man said, luck should be welcomed when it knocks on our door. And since I am the very owner of the key to that door, I may have to open and lengthen my ears a little more.  
More focus
Most of the time I worked independently and happily under supervision of some bosses I liked during my junior staff years. Thanks to them, I was pretty much able to handle and organize my work. I could focus on project or tasks without extensive involvement in managerial and reporting issues. It was a relief that I didn’t have to attend long-hour meetings, supervise other people’s works, handling difficult people I, and deal with unclear situation or office’s politics.
This honeymoon period lasted only about 2 years before I was encouraged to stretch my focus on other things beyond operational level tasks. I had no idea how it started, it just happened. Maybe my curiousity and eagerness turned into an “I’m available” board sign, hanging on my forehead. To be honest, it was not always fun. I was a little bit shy-ish and silent person so it was against my nature that I jumped into several different working groups or led something. SOP reviewer, change management assistant, risk officer, staff-development planner, and document drafter were some of my ‘extracurriculer’, in addition to my daily responsibilities.
Years later, those extra miles came back to me with benefits: knowing (nice and awesome) people, gaining more understanding of what happening outside my small cubicle, building networks and partnerships, getting better perspectives, and getting inspired by many talented people. Those sometimes-painful situation (mostly out of my plans) had slowly helped me reinventing and shaping myself.
Judge for a Day
Just like my ex boss once said to me, early years in our career gave us some time to have a sneak peak on what makes a good boss, manager, or leader. In my sight, a leader should be someone always smarter than me, wiser, more objective and dilligent, always in good mood, a great motivator, negotiator and decision-maker. Almost sounds like an angel at work, a boss in my day-dream will always be there to take precaution and remedial action to save our butts. Any boss with less than those standards were considered bad.
I enjoyed being a mean and horrible judge on people above my structural level. Lunches with co-workers and friends were filled with hot topics and critics on our bosses. Almost always, we claimed to be right and they, the bosses, were undoubtfully wrong.
But when I was challenged to live up to such high standard of great leaders, I admitted that noticing the shortcomings of a leader was so much easier than recognizing and implementing the effective ways to avoid myself from doing the same things. We, the youngsters, were not even fair when we set the expectation on our bosses. We wanted our bosses not to get mad when we mistyped 1,7billion dollar for 17billion dollar money on our organization’s letter to the national press. We expected our manager to stay calm (and then fix the problem silently by her/himself) when we made some blunder to our stakeholders. We were not honestly openhearted to feedback, critics, or even new challenges. We demanded too much while giving maybe not even half of our potential, only enough to fulfil our obligation. I almost felt sorry for every boss in the world that they always seemed to be the culprit of our stress and unhappiness.
Lucky me, I met several great leaders from whom I learned so much –both directly and indirectly. Not only I learned from them about the organization and its dynamics, I also got some clues about their vision and life values. Appeared to me that a leader faced his/her own challenge, too, so many times along the road. I tried very hard to escape from perfection-trap because a perfect person doesn’t exist. I learned to accept that they are also exposed to mistakes, insecurity, self-interests, and other things I thought they wouldn’t have. They are also human beings, just like we are. With that in mind, I opened my heart to see them as they are, to believe that no (true) winner wants to stand alone.
Oh, those 9 amazing years. 
I was happy as a staff. At that time, promotion to managerial level seemed so far and unpredictable that I couldn't expect it. Once or twice I was thinking about impossible kinds of reward and appreciation to replace the promotion, such as getting a long paid-holiday to Europe or a grant for a master degree majoring in Education (preferably in US).

But then the promotion 'happened' to me. It marked the end of my golden full-of-freedom days. That was the path I had to take, no matter how seriously I doubted myself if I could do it right.

Tuesday, December 11, 2012

To Change, or Not To Change


Kebanyakan orang tidak senang dengan perubahan. Termasuk Mr. Corporate Star di kantor saya. Dedikasi dan prestasinya tidak diragukan lagi. Sederet pujian dan penghargaan atas kontribusi di kantor, di organisasi, dan di majalah bukan lagi hal baru baginya. Tak urung, dia berkata bahwa dia paling anti perubahan, tidak menyukai hal-hal yang baru, dan lebih percaya pada hal-hal yang telah teruji mampu menghadirkan keamanan dan kenyamanan.

 

Aha!

Ingin rasanya saya bersorak. Saya tidak sendiri. Saya juga tidak suka perubahan. Kalaupun ada perubahan, tentunya sudah saya rencanakan sematang mungkin supaya tidak terlalu menimbulkan gejolak dan ketidaknyamanan. 10 tahun lalu saya berani beralih kantor justru karena terpaksa; di kantor lama saya sudah sangat tidak merasa aman dan nyaman. Pilihan saya hanya bertahan atau pindahan.

 

5 tahun lalu saya berani sekolah lagi di negeri orang, juga karena saya jenuh melakukan pekerjaan berulang dan merasa perlu tantangan baru. Tantangan itu saya bayar mahal dengan kehilangan berat badan, mata cekung dengan lingkaran hitam ala panda, berpisah dengan suami, dan jadi ibu ‘ratu tega’. Jauh-jauh sang ilmu saya tuntut mati-matian, hasilnya ‘hanya’ perspektif baru dalam memandang pekerjaan saya yang lama. Ya. Pekerjaan yang lama, yang berulang-ulang dan membuat jenuh itu. Dengan cara melihat yang baru itulah (alasan klise untuk menghindar dari perubahan ekstrem yang saat itu sudah tak sanggup saya tanggung) saya kembali ke haribaan bangku saya yang lama, layar komputer yang sama, posisi yang sama.

Seperti ayam jantan yang selalu berkokok di jam yang sama, saya adalah mahluk ritual dan saya benci semua hal yang merusak itu. Saya ingin duduk di kursi yang sama di perpustakaan. Sepanjang masih tersisa, saya akan lari di threadmill yang sama. Dalam meeting, saya buru-buru duduk di sebelah orang yang pertama saya kenali. Sepatu baru saya kemungkinan baru akan dipakai 3 bulan dari tanggal pembeliannya. Saya ajak keluarga berlibur ke tempat yang sudah pernah saya atau suami datangi ketika acara kantor kami. Pendeknya, saking sulitnya berubah dan cintanya pada kebiasaan lama, saya menjadi agak membosankan.

Dan sekarang, kantor saya sedang dilanda demam perubahan. Banyak yang merasa takut, seperti saya. Memang belum seserius ancaman PHK. Tapi berbagai pikiran negatif langsung muncul seiring makin santernya berita perubahan itu. Saya merasa terusik, bagaimana nasib saya nanti? Apakah tuntutan dan tekanan pekerjaan akan lebih besar? Jam kerja lebih panjang? Akankah saya dikelilingi rekan-rekan kerja yang sekaligus sahabat saya seperti sekarang? Mampukah saya cepat beradaptasi dengan kondisi baru? Kalau kantor kami pindah lokasi, commuting time bisa makin panjang dong? Will I be happier? Will I be more fulfilled?

Mr. Corporate Star bilang bahwa salah satu cara menghadapi dan menjalani perubahan adalah dengan meyakini bahwa perubahan adalah keniscayaan dalam hidup ini. Ada perubahan yang bisa kita kendalikan, ada juga yang di luar kuasa manusia. Ketika kita menjadi bagian penting atau penggerak dari perubahan itu, kita sesungguhnya berusaha mengambil kendali atas perubahan tersebut sehingga manfaatnya akan terasa lebih besar dari mudharatnya. Ketika perubahan itu di luar kuasa manusia, resepnya hanya satu: ikhlas, katanya.

Keikhlasan merupakan bentuk yang abstrak buat saya. Mudah diucapkan, sulit untuk dilakukan. Tapi rupanya Allah SWT mencoba lagi menunjukkan pada saya. DIA mempertemukan saya dengan seseorang secara sepintas lalu dalam kursus manajemen yang saya ikuti minggu ini.

Ia adalah seorang penyiar radio di Belanda, membawakan siaran khusus tentang Indonesia. Hidupnya tenang dan damai sampai terjadinya krisis ekonomi di Eropa. Rasionalisasi stasiun radio di akhir tahun ini memaksanya untuk cepat berpikir mengenai kemungkinan yang bisa ia tempuh setelah berhenti bekerja. Ia memilih pulang ke Indonesia dan membuka biro jasa konsultan komunikasi proyek.

Kenapa jasa komunikasi? Karena itulah bidang keahliannya. Spesialisasi biro jasanya adalah proyek di Indonesia yang bekerja sama dengan konsultan dan penyedia jasa teknis dari Belanda. Kenapa proyek dan kenapa Belanda? Lama tinggal di Belanda, membuatnya mengenali karakteristik lansekap kota di Belanda yang mungkin berguna untuk penataan kota di Indonesia. Proyek pionirnya adalah mensukseskan pembangunan bendungan pantai utara Jakarta yang akan ditangani oleh ahli teknik bendungan dari Belanda. Voila. Semua itu terjadi padanya dalam waktu yang sangat singkat.

Keputusannya memang terkesan cepat. Tapi sesungguhnya saya yakin, ia telah bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang ia sendiri mungkin tidak pernah tahu ke arah mana. And one good thing leads to another. Kecintaan pada pekerjaannya, ketertarikannya pada lansekap kota, dan ingatannya pada tanah air secara sambung-menyambung telah berkonspirasi menjadikan dirinya seperti saat ini, dengan keputusan yang seperti sekarang.

 

Mungkin inilah yang disebut Mr. Corporate Star dengan ikhlas menerima perubahan sekaligus berperan aktif dalam mengarahkan perubahan itu menjadi (sedikitnya) sesuai keinginan kita, untuk keuntungan kita, demi kebahagiaan kita. Kenali diri kita, kenali kelebihan dan kekurangan kita, dan kenali apa yang bisa kita tawarkan pada dunia. Bahasa sederhananya: build your core competency.

 

Meski saya sudah bertemu dengan Mr. Corporate Star dan Pak Konsultan, saya masih merasa takut akan perubahan. Dan saya akan terus merasakan perasaan itu sampai akhirnya saya harus berhadapan dengannya. Tapi saya percaya pada perubahan karena perubahan adalah esensi dari kehidupan. Melarikan diri dari perubahan adalah sesuatu yang paradoksial, karena ternyata pelarian itu menuntut kita untuk juga berubah.

 

Saya harap ketika saya bertegur sapa dengan perubahan di kantor saya, saat itu saya akan menyambut perubahan sebagai suatu kesempatan dan suatu penyegaran, bukan ancaman. Sebagai satu lagi pintu yang terbuka untuk saya. Untuk bisa berbuat sesuatu yang bermakna.

 

Thursday, December 6, 2012

Ngomel Macetnya Jakarta? #BukanTrendingTopicLagi

Minggu ini kemacetan Jakarta, khususnya dari kantor saya ke rumah yang hanya berjarak 17 kilometer, sudah sangat ter...la...lu. Senin sore saya buru-buru pulang jam 5 menggunakan miss Livi agar bisa saya (sebagaimana puluhan ribu ibu-ibu di Jakarta yang punya anak usia SD) menemani Kaylia belajar menghadapi UAS. Ternyata perlu perjuangan selama 4 jam untuk sampai di rumah, gara-gara lampu merah di perempatan McD Duren Sawit gagal mengakomodir luar biasanya volume kendaraan dari arah Jatinegara (180 detik durasi lampu merah dan hanya 27 detik durasi lampu hijau). Hasilnya, tentu saja macet total mulai Pasar Prumpung.

Hal yang semakin membuat saya  geram adalah ternyata Kaylia menunggu saya pulang untuk bersama-sama latihan hafalan surat Al Quran. Dia menangis. Saya kaget karena jarang-jarang Kaylia menangis. Dia menangis karena malam itu entah mengapa dia merasa kesulitan menghafalkan surat-surat Al Quran untuk tes esok harinya. Saya menyesal sekali, karena tidak di sana ketika dia sangat membutuhkan saya. Karena sudah hampir jam 9.30 malam dan keliahatannya dia sudah lelah, saya membujuknya untuk tidur saja dan tidak usah mengkhawatirkan tentang tes Tahfidz di sekolah. "Besok dicoba saja sebisanya, Kay... kalau ternyata belum berhasil, bilang pada Ustadz untuk meminta remedial. Nanti kita coba lagi."

Hari Selasa, saya coba pulang lebih awal lagi jam 4.40 sore dan mengambil jalur perjalanan lain, melewati Jalan Pramuka. Perjalanannya memakan waktu 2 jam, masih 'untung' saya bisa sholat Maghrib di rumah. Saya sempat belajar bareng Kaylia dan membacakan paragraf pilihan dari buku Life of Pi (Kaylia sedang senang sekali dengan kisah itu setelah nonton filmnya).

Hari Rabu, kebetulan saya lembur dan pulang jam 7 malam. Saking stress-nya, saya tinggalkan miss Livi di kantor dan ikut menumpang motor Temi, teman saya yang rumahnya searah. Alhamdulillah, naik motor bisa lebih cepat, 'hanya' sekitar 1 jam 10 menit. Tapi sayangnya, ketika saya pulang Kaylia sudah tidur karena kecapekan setelah belajar bareng Babe-nya. Satu lagi kesempatan yang terlewatkan.

Hari Kamis, tadi malam, saya terjebak kemacetan dengan judul "merayap" sepanjang 17 kilometer itu. Tidak kurang dari 3 jam saya dan Dike akhirnya ngobrol ngalor-ngidul demi membunuh waktu, kekesalan, dan kebosanan berada di jalanan.  Waktu 3 jam itu setara dengan membuat cake yang enak-enak di rumah, membahas 3 bab ttg science bersama Kaylia, menulis di blog, nge-gym membakar 350 kalori atau yoga (plus steam dan shower dan grooming berlama-lama), baca beberapa bab buku yang menarik, atau berbagai kegiatan produktif lain yang jauuuuuuh lebih menyenangkan.

Tapi ketika saya membuka Twitter dan berniat ngomel tentang lalu lintas Jakarta terkini, saya terhenyak membaca tweet orang lain: "Ngomel soal macetnya Jakarta? Lo baru ya di sini?".  Nah..... nggak cuma urusan rebutan jalan, urusan ngomel aja saya udah keduluan hehehe. Tapi tweet itu menyadarkan saya. Percuma ngomel, kayak orang baru aja. Itu nggak akan merubah apapun. Ayo, sudah tahu kondisi jalanan Jakarta  seperti itu, pikirin dong apa yang bisa diperbuat untuk membuat perjalanan saya lebih cepat.

Alternatif yang ada adalah naik angkutan umum (Kopaja dan disambung angkot), naik motor, naik sepeda atau naik kereta. 

Pilihan yang dangkal dan bisa ditebak. Saya belum pernah naik Kopaja disambung Metromini atau angkot dari kantor sampai rumah sebelumnya. Dan saya merasa ini bukan saatnya. Lha wong saya komplen soal jalanan yang macet, kok malah naik kendaraan juga. Mungkin ada bedanya dari sisi waktu tempuh. Tingkat keganasan Kopaja dan Metromini di jalanan (mungkin) membuat perjalanan saya lebih cepat. Tapi faktor risiko seperti keselamatan, kemungkinan ketiduran (kalau dapat tempat duduk), kecopetan, kerampokan, serta adanya ancaman para pengamen atau peminta-minta membuat saya bertahan untuk tidak memilih sarana transportasi ini.
Mau naik motor…waaah, jauh panggang dari api. Saya belum pernah mengendarai sepeda motor seumur hidup. Jadi pilihan ini juga saya coret dari daftar.
Bike to work? Hmmm… kayaknya juga enggak deh. Selain dari sisi jarak yang menurut saya lumayan jauh untuk ditempuh dengan bersepeda, saya juga kurang percaya diri di tengah kondisi jalanan Jakarta yang bak hutan belantara. Siapa yang kuat dan pe-de, dialah yang jalan duluan.
Akhirnya, kereta api CommuterLine tetap jadi pilihan saya. Sebelumnya saya juga pengguna on-off CommuterLine selama 2012 ini. Dilihat dari sisi jadwal keberangkatan (seandainya tepat waktu), CommuterLine yang berangkat setiap 30-40 menit sekali menawarkan fleksibilitas waktu. Dilihat dari harga tiket Rp8.500 (dan ojek Rp10.000) menurut saya masih setara dengan 2 liter bensin yang  saya gunakan untuk perjalanan one-way 17 kilometer dengan tingkat kemacetan ‘wajar’. Dilihat dari jarak rumah-stasiun dan kantor-stasiun, saya pikir tidak terlalu jauh (sekitar 1-2 kilometer) sehingga bisa ditempuh dengan bajaj, ojek, atau bahkan berjalan kaki. Dari sisi berjubelnya penumpang, kebetulan jalur CL ke arah rumah saya masih bisa dibilang nggak terlalu memprihatinkan seperti jalur lainnya ke arah Serpong, Bogor, dan Depok. Tahan-tahan sebentar deh, tokh dalam 30 menit saya sudah turun di stasiun dekat rumah.
Jadi, mulai hari ini… dengan hati yang bulat, saya niatkan untuk istiqomah memerangi kemacetan Jakarta dengan… naik CommuterLine. Semoga nggak terlalu banyak pekerjaan akhir tahun yang membuat saya harus lembur. Semoga musim hujan tidak menyebabkan banjir atau membuat rusaknya sentra CommuterLine. Semoga CommuterLine bisa tepat waktu. Semoga. Demi kualitas hidup yang lebih baik. Bismillah.