Friday, July 5, 2013

Halo Fit Run Jakarta 2013: Our first 5K together


Dengan Mbak Siti setelah Halo Fit Run 2013, Jakarta
Masih tentang lari. Kali ini saya ajak-ajak keluarga. Meski gagal ngajak Babe, tapi akhirnya Miss K, Mbak Siti (kakak ipar saya yang kenes), dan Ade (temen kantor) berhasil saya komporin untuk ikut Halo Fit Run 2013 di Jakarta tanggal 9 Juni 2013. Rute 5K-nya adalah start di gerbang GBK, muter di Semanggi, trus menuju Patung Pemuda, muter di sana, masuk ke arah Hotel Atlet Century, muterin Masjid Al Bina, baru masuk Sudirman lagi dan finish di depan gerbang GBK.

5K lagi? Ya eya laah… Hati saya masih tertambat di 5K, belom berani untuk nyoba yang 10K. Next year my target would be hitting the 10K mark. Target tahun ini adalah tetap hidup, bernafas, dan sehat di garis finish 5K. Soal waktu nggak terlalu dipikirin deh. Miss K mulai saya ajak supaya dia dapat pengalaman mencoba berbagai jenis olahraga. Syukur-syukur dia menikmati lari jadi kami bisa berlari bersama. Sebelum latian renang sih biasanya dia lari 3 keliling kolam renang sambil becanda-canda dengan temennya. Di sekolah dia cerita, hobinya kejar-kejaran sama temen sekelas yang gokil-gokil. Jadi saya pikir, kenapa ngga sekalian aja lari bareng, hehehe…

Pagi itu kami pergi dari rumah jam 5 pagi. Udah siap dengan shirt, bib number, dan RIFD tag di sepatu. Sampai di seputar GBK sekitar jam 5.30, kami bertemu pemuda-pemudi ganteng dan cantik yang baru selesai dugem di parkiran. Ada anak muda ganteng sempoyongan, ada seorang gadis muda cantik berpakaian minim yang jalannya dipapah, ada yang teriak-teriak, ada yang baunya minta ampun. Waduuuhh, serem deh. Miss K nanya, “Mereka ini abis ngapain sih, Bu?”  Saya jawab aja, “Nah, itu dia, K... Mungkin mereka juga ngga tau abis ngapain atau diapain.” Miss K bengong dengan jawaban yang dipikirnya nggak nyambung itu.

Sampai di depan gerbang GBK ternyata udah banyak banget para pelari dan pelari wanna-be yang dengan bebasnya berkumpul dan berpendapat (ngobrol, maksudnya). Kebetulan saya juga ketemu sama Ade di sana. Bukannya siap-siap dengan pemanasan, kita malah asyik foto-foto.  Sementara Babe sibuk dititipin tas dan ini-itu.

Sebelum start saya udah bilang sama Miss K agar pelan-pelan aja larinya, kalau ngga kuat bisa bareng jalan kaki sama Mbak Siti. Mbak Siti juga menyambut baik ide itu, supaya ada alasan “Nemenin keponakan yang masih di bawah umur, jadinya ngga bisa cepet sampe finish deh”.

Ketika start, Miss K berlari bareng saya. Kelihatannya dia terpancing dengan laju pelari lain (termasuk anak-anak sesusianya) yang langsung melesat. Jadinya dia mau buru-buru aja, kaya kalo becandaan dengan temen-temennya. Setelah KM1, baru deh dia mulai ngos-ngosan. Saya tunjukin pesawat kecil yang dikendalikan jarak jauh di atas kepala kami, “Itu tuh ada kameranya lho, yuk kita senyum dan dadah-dadah…”.

Di tanjakan Semanggi, Miss K nyerah dan kami berjalan kaki sambil mengambil gelang di Panitia. Kami mencoba berlari lagi di turunan Semanggi. Pas di 2K, Miss K mulai mempertanyakan lokasi water station yang dia udah pelajari di peta brosur Halo Fit Run. “Di mana sih air minumnya? Janjinya ada setelah 2K lho, Bu” katanya sambil meringis. Ternyata jatah air minum ada di KM2,5-an dan setelah minum Miss K memutuskan mau jalan aja. Setelah beberapa ratus meter, Miss K melanjutkan lari bersama saya karena Mbak Siti, yang mau saya titipi Miss K, belum kelihatan posisinya di mana.

Kami memutari Patung Pemuda dan mulai berbicara tentang garis finish. Kebetulan ada seorang bapak dan 2 anak laki-lakinya yang berusia sedikit lebih tua dari Miss K berada di sebelah kami dalam status jalan-lari-jalan-jalan-jalan, gitu. “Look at us, K. We’re good. We can make it”.

Ketika melewati tanda 4K, saya genggam tangan dinginnya dan mencoba berlari lagi. Sama seperti saya dulu, cara berlarinya juga rada-rada memprihatinkan. Dia mendarat dengan jari dan kaki bagian depan. Nafasnya pendek-pendek. Tangannya keliatan berat menjuntai di samping badan. Jadi saya tau dia pasti merasa capek dan tersiksa. Apalagi dia belum terbiasa lari jauh seperti ini. Karena itu seringkali kami berjalan kaki diselingi dengan lari 100-200 meter.
Run, K, run !!!
Di depan Masjid Al Bina, Miss K terlihat udah ngga bisa senyum lagi. Saya sadar mungkin ini adalah kesalahan besar, mengajak Miss K ikutan 5K tanpa mengajaknya berlatih dan membiasakan diri sebelumnya. Mungkin memang dia senang lari-lari di sekolah, mungkin dia lari di kolam renang pada waktu pemanasan. Tapi untuk menaklukkan 5K? Waaaah, saya tega banget yaaaks?? Seharusnya saya lebih bersabar menunggu event lari yang ada Kids Race-nya (meski kayanya rada jarang di Indonesia). Mestinya saya ajak dia sejak jauh hari untuk mencoba jarak yang lebih pendek. Mestinya kan anak-anak lari dengan benar secara bertahap. Harusnya. Yah, sudah lah, sesal kemudian nggak berguna juga.

Menjelang garis finish saya bilang pada Miss K untuk bisa bertahan sedikiiiiit lebih lama lagi. “Tuuh, lihat… finish-nya udah deket banget. Kita coba lagi yuk larinya. Babe di sana, K..pasti Babe bangga lhoo kita bisa selesaikan sampai finish”.


Run like a celeb!
Akhirnya kami sampai juga di garis finish, disambut dengan lambaian tangan Babe di pinggir marka jalan, sambil merekam kami di beberapa meter terakhir (ternyata kemudian file rekamannya ngga sengaja keapus...grrgggh).

Supaya ngga kejadian lagi ada pose foto kayak di Mandiri Run Mei 2013, saya ngga lupa untuk memaksakan diri tersenyum lebar dan melambaikan tangan bak selebriti. As if 5K was a piece of cake.



Yeayy, we're finishers!

Meski kecapekan, Miss K --gadis kecil 9 tahun saya--  ternyata senang juga. Apalagi setelah menerima finisher medal. Kebetulan banget dia sedang keranjingan dan penasaran dengan medali, karena belum pernah punya. Sementara Miss K mengagumi medalinya, saya lirik timer di pinggir tiang finish. Ternyata lumayan juga. Miss K dan saya menyelesaikan 5K bersama kami yang pertama dengan waktu 46 menit 9 detik.


Pas Babe nanya gimana perasaannya bisa ngatasi rasa capek harus lari dan jalan kaki sepanjang 5K, dia menjawab enteng "Yah, lumayan seneng, tapi aku capek buangeeeeet, Be. Trus sekarang aku lapar, kita makan di mana nih?"  Hehehe..

Akhirnya pagi itu kami sempurnakan dengan sarapan Soto Mie di sebelahnya Giant - Pondok Bambu. What a day!


Wednesday, June 5, 2013

5K Mandiri Run 2013

Saya yang penakut ini akhirnya memberanikan diri mencoba Mandiri Run 5K tanggal 26 Mei 2013. Nggak terlalu banyak persiapan ini-itu sih, soalnya niatnya adalah merasakan nuansa race lari barengan ratusan bahkan ribuan orang lain. Saya yakin pasti ada sesuatu yang membuat orang melakukannya lagi dan lagi. Kalau cuma lari 5K barangkali nggak usah nunggu ada race, tapi there’s something about the race that keep and stick people together (atau lebih tepatnya sendiri dalam kebersamaan serta bersama dalam kemandirian, soalnya kan larinya sendiri-sendiri juga hehe…).

Ternyata dugaan saya benar. Yaitu ada beberapa “sesuatu”. Yang pertama, butuh niat yang lebih dari sekedar mendaftar online, bayar, dan ambil race pack-nya. Banyak banget deh godaannya pas hari H itu. Bangun aja rasanya berat, masih ngantuk dan nggak rela mesti melek lebih pagi. Saya paksain mandi kilat biar seger pagi itu. Trus urusan transportasi ke lokasi race juga kadang jadi masalah tuh, terutama kalo males bawa mobil sendiri dan harus pakai taksi. Kuatir juga si taksi belum datang pada waktunya. Senewen deh. Untungnya pas Mandiri Run itu taksinya tepat waktu. Belum lagi keraguan menentukan mesti diisi apa ya perutnya? Sarapan ngga mungkin, ntar side stiches-nya bisa parah. Kalo minum kebanyakan juga ujungnya suka kebelet di lokasi race (susah cari toiletnya). Akhirnya saya balik ke selera asal: setangkup peanut butter sandwich plus secangkir teh manis. Lumayan nendang buat 1-2 jam di pagi hari. Terakhir, pas mendekati lokasi… hati makin deg-degan…alias nggak pede. Bisa-bisa pulang lagi tuh kalo jiwa pengecutnya dipiara. Untungnya saya berhasil mengalahkan negativity  itu dan tiba dengan selamat di depan Senayan City. Itu aja udah boleh lho dianggap "kesuksesan" yang ingin diulang dan diulang lagi.

Kedua, seperti acara massal lainnya, acara lari ini juga ternyata jadi ajang bersosialisasi dan mejeng. Nggak seperti di Ragunan, kali ini saya berhasil ketemu beberapa orang teman kantor dan kenalan dengan teman baru. Seru deh…dengerin obrolan temen-temen ttg lari, lari, dan lari (3 orang pertama kenalan baru adalah peserta Bali Marathon kelas Half… jadi untuk 5K atau 10K mah mereka sangat “selektif”). Yang ngga kalah seru adalah sesi foto-fotonya sebelum race dimulai. Pada centil dan heboh deh.. hehehe.. terutama recreational runners. Apalagi dengan kostum dan aksesoris lari yang beragam dan keren. Alasan mereka “Soal lari belakangan, yang penting eksis dulu dooong”.

                                                           --Bareng Neng Yesi dan Ira--

Ketiga, pas lomba dimulai, dimulai juga tuh pelepasan dari segala kecamuk yang ada dalam pikiran saya. Ketidakyakinan bercampur keinginan. Hati panas didahului pelari lain versus kepala dingin untuk mempertahankan kecepatan lari yang stabil (alias alon-alon asal kelakon). Ambisi pribadi disandingkan dengan kenyataan. Waaahh pokoknya macem-macem deh. Makanya ada yang bilang bahwa sewaktu berlari, sesungguhnya mereka sedang berdialog dengan diri sendiri atau bermeditasi.
 
                                                         --mega-megap mau pengsan--

Keempat, sensasi ketika kita mencapai finish. Apalagi ini baru pertama kali saya nyoba 5K non stop. Sayangnya, kesuksesan mencapai finish nggak dibarengi dengan hasil dokumentasi yang mengesankan. Lihat aja ekspresi dan postur tubuh saya ketika menginjak garis finish, udah loyo dan sempoyongan kaya gitu. Enggak gaya sama sekali. Padahal konon salah satu tips mengikuti race dengan sukses adalah finish STRONG and WITH STYLE!

Nggak papa deh. Yang penting finish. Catatan waktu 5K saya kali ini 41 menit 13 detik sudah sangat menghibur dan sungguh memberikan angin segar. Lumayan banget, secara jarang-jarang sanggup lari segitu lama !!!!

Itulah pengalaman ikutan race (resmi) pertama. Next time ajak-ajak Miss K, Babe, temen-temen ahh... Biar lebih seru. Lagian kan ngajakinnya ke hal yang enak... hehehe. Terbukti kok, lari 5K nggak bikin pingsan, menyenangkan, dan layak untuk dicoba. Niiih, buktinya...


Thursday, May 30, 2013

My First (unofficial) 5K at JFS Run

It was more than a month ago that I finally got myself in a race. I consider it was historical. It was almost 8 months since my first attempt to run and I still belong to the Turtoise Club. Keeping my 8-minutes a kilo only succeeded for the first 2K, after that I began slowing down to 9, then 10 and finally ended up walking in the last kilo in my 5K training. So I signed up for 2.5K at Wintermar Jakarta Free Spirit Run at Ragunan Zoo, much with confidence that I would do it right.

So, this was what happen on the race day. May 5, 2013.
I arrived at 5.30 in the morning. Alone. My buddy was not able to show up because her son was sick. So, like a perfect stranger, I followed the crowd and began queueing behind the “FUN RUN” sign to pick up my race pack. All other people were busy in their lines. They lined up at ‘Under 12’ (mostly kids with their parents), 12-19 (fresh teenager looking for both fun and more fun), 19-40 (most determined and rigorous participants were there), and 40+ (from their appearances, this group was for kinda more experienced runners). After some time, say about 30 minutes, there was still no one else in my line. The organizer said that there were not many people signed up for this category. There was also no timing chip and bib with number for the fun runners. “You just go ahead when you hear the gunshot,” said the organizer lady.
What?
Always expect the unexpected. That’s the mantra for any first time event. Turned out the Fun Run was no fun at all. What’s the point of running in a race if we couldn’t show off the picture of us (with the bib showing our race numbers) passing the finish line with big smiles and strong up-punching hands?

I couldn’t believe it. However, amid my dissapointment, I decided to run along the race path for approximately 2.5K before the gunshot, just to get the feeling that if I didn’t do the Fun Run race on schedule, I wouldn’t judge myself as a deserter. I could then walk out and went home.

I finished the 2.5K when other runners were warming up with Zumba Dance. Ten minutes later, they prepared themselves in the start position. Every runner looked very eager, enthusiastic and high-spirited. The youngs and the olders. The Indonesians and the foreigners. Both the bigger and slimmer, though-like ones.

Then an idea came up. Why wouldn’t I  run again? The race seemed to be a rather open event anyway and many people bring their family (without the number). Hell with the timing chip. I didn’t care about the race number not shown anywhere in my shirt. I didn’t care that I haven’t prepared to run 5K nonstop. I could always walk, right? After all, it was about trying out and having fun.

So I started to run, long after the sub 20-minutes runners roared. It was a moment of doubt. Mostly because I never thought I could do it, because I wasn’t well trained for it, because I was there as alone as I could be. The zoo terrain was also hilly and a little bit wet after heavy rain the night before. I kept running with that hopeless thoughts and of course I began to slow down after the 2K sign, knowing that I was almost hit my limit. The 3rdK was hard. I could barely run. It was harder in the 4th. I ran, I walked, I dragged, I jumped, anything I could do to make one of my feet move in front of another. People passed me by in the last kilo. They wanted to finish strong. I wanted it, too, but my limbs just couldn’t do my brain’s recommendation to go faster. The Marshalls shouted loud cheers and clapped their hands. “Just few hundreds more. Come on!” they cried.

And there it was. Standing strong and tall and graceful. Full of crowds, of course. It must be the finish gate. Yes! I did make it! For some seconds, it felt like all people along the finish line shared my victory. I didn’t know them. They didn’t know me. But we had something in common. We were finishers. Run or walk. Jog or drag. Alone or with the clubs. We were still the finishers. My first record of 5K then was 47:26. And it was more than satisfying at that time. I danced inside, celebrating this little triumph.

Then another day, another week after the moment passed by so fast. So, what’s left from the race? What’s make that 47 minutes something joyful? Well, I don’t know. One thing I know, I would keep running because another run could means another race. Another chance. Another dance. Or else, I’d be happy with just doing it with no stress.

Thursday, March 14, 2013

My Last Decade Make Up Essentials

In the last 2 weeks it seems that I’m having “make up” fever. Kalo lagi iseng, browsing-nya ttg make up melulu. Feel lucky that some of my co-workers are really into it. Apalagi yang muda-muda dan bergaya, hebring deh mereka pokoknya. As a forever newbie, I believe I need them more this time. They share their vision, knowledge, and even skill... (we will have a make-over class with the most prominent make up expert in our building as our instructor). Tapi kudu tahan-tahan aja dihina-dina ama instrukturnya yang berselera tinggi (katanya sih harga dan mutu itu nggak boong! Worth invested, gitu)
So here are my daily (or not) make up essentials. Dipakenya sekali-kali doang, kalo lagi insyaf. Jadi kok rasanya saya kurang mensyukuri nikmat ya… Udah dikasih rezeki lebih biar bisa beli, dikasih sehat biar bisa beraktifitas, dikasih suami untuk dibahagiain, dikasih waktu luang untuk belajar…tapi kok ngga dimanfaatin.
Nah, mulai sekarang deh, dikit-dikit dioptimalkan barang-barang berikut ini:
Cleansing series : Aloe Vera Cream Cleanser from Skinfood $$, erha ACS-BP $, erha 1 Facial Wash (Normal to Dry Skin) $, Make up Remover from Maybelline $. Ini cleanser series top abis deh. Cocok banget buat saya. Apalagi cream cleanser Skinfood, enak banget buat bersihin make up di wajah dan nggak bikin kering. Tp ada satu ganjelan, cream cleanser Skin Food lumayan mahal, sekitar 200ribuan untuk 130 ml saja. Hiks. Coba-coba pake cleanser lain dari Viva, waduuuh..panas banget di kulit muka. Belum sempat nyoba Nivea atau brand lain yang kira-kira cocok dan harganya lebih masuk akal. ACS-BP dari erha juga andalan saya untuk scrub muka setiap pulang kantor (kan mukanya abis nampung debu jalanan selama perjalanan pulang naik kereta). Saya juga cocok pakai make up remover Maybelline karena ringan dan lembut. Saya pernah coba Revlon, tp terlalu berminyak dan bikin mata perih kalo kapasnya ngga sengaja masuk mata.

Night Cream : erha Evalen $ + erha 6 $

Moisturizer : Lettuce Cucumber Emulsion from Skinfood $$. Saya masih taraf coba-coba pake moisturizer ini karena tergoda bahan dasarnya yang konon membuat kulit adem tanpa berminyak. Saya lumayan suka karena ringan dan wangi, meskipun kurang melembabkan karena berbahan dasar air. Biasanya saya males pake pelembab karena bikin lengket dan berminyak, tapi emulsion ini bikin daya disiplin pakai moisturizer walaupun di rumah. Harganya sekitar 130ribuan untuk 135 ml.

Sunscreen : erha Sun Block Perfect Shield UVA+UVB Gel $. Alhamdulillah dapet sunscreen yang cocok di kulit. Lumayan mantep untuk penggunaan sehari-hari dan asal saya rajin bersihin muka setiap malam, ngga bakal ada masalah dengan jerawat atau komedo. Nah, masalahnya saya suka males. Kurang joss untuk penggunaan di udara terbuka dalam waktu yang lama, spt utk berenang, olahraga > 1 jam. Tetep perlu sunblock yang lebih kuat.

BB Cream : Aloe Vera #2 from Skinfood $$. Saya mulai ikutan demam BB Cream di Des tahun 2011, trus mampir di SkinFood Store di PvJ Bandung. BB Cream berfungsi sebagai pelembab, foundation, dan concealer. Wiih, lengkap yah. Dengan mengucapkan bismillah, saya memutuskan mencoba varian Aloe Vera ini karena diformulasikan untuk kulit sensitif dan mengandung SPF 20. Shade #2 dipilih karena merupakan pilihan yang lebih gelap (cuman ada #1 ama #2) dan sekilas ada nuansa pink-nya. Harga sekitar 130ribuan untuk 50ml yang bisa awet sampe 1 tahun jika dipakai sedang-sedang saja 1x sehari. So far, saya cocok pakai BB Cream ini karena masuk ke golongan light shg cocok utk penggunaan sehari-hari (asal dibersihin pake cream cleanser biar ngga komedo-an). Nih, ada review dari penggemar BB Cream SkinFood http://joveetalee-art.blogspot.com/2012/08/skinfood-aloe-sun-bb-cream-spf20-pa.html

Face Powder : erha Translucent $. Sebenernya saya beli bedak tabur ini untuk syarat aja supaya saya punya bedak. Kurang bagus karena nempel sama sekali di kulit saya, tapi yah sudah lah…yang penting bisa buat final touch, ngga menimbulkan jerawat dan ngga bikin kayak topeng di muka. Kalo ada produk lain yang bisa cocok di muka saya sih, mungkin saya bakal pindah ke lain hati.

Eye Concealer : Bio Detox Organic from Bourjois $$. Ternyata concealer ini ngga cocok buat saya yang kulit kelopak matanya tergolong normal, akibatnya jadi mudah kering dan tidak bisa menyatu di kulit. Produk ini cocoknya buat yang kelopak matanya berminyak. Saya salah beli nih. Biasanya pakai Healthy Mix Correcting Concealer dari Bourjois juga, tp saat itu stok-nya habis. Harga Bio Detox atau Healthy Mix concealer sekitar 150ribuan.

Eye Shadow : #5 Rose Vintage + #12 Gris Lilac + #5 Mordore Chic (all from Bourjois $$)  and #465 Moonshine Meadows from Max Factor $. Produknya lumayan bagus (taunya dari online review sih), tapi entah mengapa… eye shadow trio saya jadi mengeras dan sulit diaplikasikan. Kata mbak-mbak di counter Bourjois sih, itu karena pallete-nya berada di udara lembab atau terkena air. Jadinya setiap mau make, kudu dikerok dulu supaya dapet lapisan yang bisa nempel di kelopak mata dengan baik. Ujungnya boros ya, jeuuung! Trus, saya kan makenya pakai gagang aplikator pendek dari Bourjois, jadi rada susah tuh untuk blending warna. Berhubung teknik menggunakan eye shadow belum saya kuasai, ya hasilnya begitu-begitu aja. Tapi kapan pinternya kalo nggak nyoba. Iya nggak? Apalagi harganya lumayan nohok juga, sekitar 150ribuan per set. Sayang kalo nggak dipake.

Blush : from Caring Colors $. Blush on ini light banget warnanya, tp lumayan bisa memberikan kesegaran tersamar di wajah saya (halahh…). Dulu beli ini karena harganya murah dan warnanya natural. Tapi ya gitu deh, nggak ada efek shimmering-nya dan paling sejam doang bertahan di pipi.

Lipstick : C11, B23 and B43 all from Maybelline $. Saya kurang konsentrasi pada lipstick nih, padahal it will make a big difference once kita dapet yang cocok dengan kulit bibir, tone wajah, baju, dan suasana. I’m still in process in finding my true-lipstick-mate.

Lip Gloss : SpiceBerry from Smashbox (oleh-oleh dari Dike) and #13 from Body Shop. Dipakenya kalo inget aja, padahal lip gloss itu penting banget untuk kasih sheer dan volume pada bibir kita. Dasar saya pemalesan sih!

Eyebrow pencil : Black from Viva 20ribuan. Juara banget. Murah, warnanya mantep. Sayangnya udah murah begitu, masih juga ada yang malsuin. BT juga kalo dapet yang palsu, gampang patah dan susah diserut.

Eyeliner : Black Eyeliner Pencil from Oriflame. Hmm, gimana yah? Berhubung saya newbie, jadi beli yang pensil. Waktu itu sempet dibeliin My Darling liquid eyeliner (bagus dan murmer sekitar 15ribuan) sama kakak ipar, tp selalu gagal make-nya so saya jd males deh. Ntar mau nyoba eye liner yang direkomendasiin Dike, yaitu Maybelline Eye Liner Pencil. Murah, meriah dan hasilnya wah, gitu katanya.

Mascara : Volume Express Turbo Boost from Maybelline $. Direkomendasiin temen2 yang rajin pake mascara ke kantor. Lumayan nambah volume tp ngga menggumpal dan cukup terasa ringan di pelupuk mata saya. Harga bersahabat. Mungkin teknik mengaplikasikannya aja yang perlu saya asah supaya optimal.

Brushes : Masami Shouko and Guardian drug-store blush brush. Nyoba yang murah dulu ah, sambil mikir dan ngerasanin diri sendiri “Am I really into it?”. Hasilnya yaaah, lumayan aja lah. Saya bakal kena kritik abis-abisan dari sang instruktur hehehe. Menurut sang instruktur tsb, rahasia make up ada pada kuas. “Beli deh kuas yang bagus, nggak papa mahal. Bisa awet dan bbrp malah bisa multi purpose. Nggak rugi deh!”. Harga kuas yang dia maksud ternyata selangit!

50rb-100rb $
100rb-200rb $$
200rb-300rb $$$

Nah, itulah daftar aset (atau kewajiban?) saya. Wiih, banyak juga kan? (kuantitas, my friend… belom ke kualitas heuheu…karena koleksi saya soooo last decade alias jadul!). Semoga semangat baru ini nggak cepet luntur, ditelan kesibukan dan kemalasan.

Does my face need make up? What happens to inner beauty?

Sometimes boredom could be a good trigger to think about something (hopefully) more energizing and productive. So when I am feeling a bit low, I decide to give myself a second thought about what might be important in my daily routine other than being grumpy at the office about my kryptonite and catching up the commuter line to/from work.
And I find one of them. The make up. I never realized that just thinking about me, in prettier and better look, has lifted my mood most of the time as high as 1000%.
Back then when I was a teenager, I always thought it was not cool to wear make up; it was like a scary mask that cover up the truth. Kinda distrusted the most important part of yourself. Nay. Not me. When I was in my 20s, I never thought that I needed to wear it. Light-colored lipstick did fine for me to go around the campus; of course, totally unnoticed by every cool guys there. When I was in my 30s, my eyes couldn’t be fooled anymore: women do look better when they are wearing suitable and decent make up, no matter what lies inside (we’re not talking about kindness and compassion and good heart, as well as intelligence). But with the baby coming out, back to school matters, and more works at the office, I barely had time to learn and practice it properly.
Then, my 40s will come pretty soon, just in couple of years. And when I looked at the mirror, I couldn’t help raising my eye brows, asking “What have (not) I done to my face?”. I surely do put some items on my face but I still have no idea about make up. I bought some make up then threw them away untouched.
Now I finally consider it important… and urgent. Not because I don’t believe in inner beauty anymore, or because I was intimidated by glamour (a.k.a. threatening) beauty around me, or because I have lost my self-confidence in going natural (the term ‘natural’ has changed, by the way. It now means wearing make up but succesfully “look stunning without too much effort”). Definitely not because I'm going into the 40s tick-box.
The reasons are so simple, at least for me. It’s been 6 months since the first time I walked and started running on treadmill; it was 2 months ago that I developed fondness of running outdoor. And despite the challenges to take off my butt from the bed early in the morning, it was all fun. No pressure. Targets are made to be broken occassionally when things went so wrong after I started. So why not try on something new, something definitely as fun, something that make you see and feel better about life?
Wearing or not wearing make up could be a way to respect and live your own values. Mine are not clearly defined, but I’m a big fans of equality and acceptance, and I believe in hard work (smart work is already included). So when I popped out from ‘make-over box’, I want to feel the same comfort and confidence as while I’m not wearing make up at all. I am not in the effortlessly beautiful crowds. Just like any other things in my life that I have to do or give up something to get something, beauty surely costs me many things. But I’m ready to get more serious in that field (although I won’t make the make up essentials as my staples).
Lastly, I already have some basic items that I rarely use. It would be such a waste if I don't use it. Anything under our control that has already cost you but not generating any benefit is considered liabilities. So, let's turn my limited collections into assets!
The point is, I want to have more fun. There are a lot of other things in life considered uncontrollable, messy and pathetic. I could deal with some, but some were not that easy or they are beyond my power. So even if people don't see me the same way, just let me feel  beautiful and gorgeous!
I wouldn’t ask for more.
Except Naked pallete from Urban Decay, Orgasm Blush from Nars, Mary Loumanizer from theBalm, Sigma brush set, and maybe couple of lipsticks and lip gloss. LOL.

Monday, January 21, 2013

Gadget-free or Gadget-freak?

Salah satu hal paling besar yang ingin saya perbaiki segera di tahun 2013 adalah jalur dan pola komunikasi saya (lhaaa.. itu mah dua dong!? :p). Hehehe… tuh kan, terbukti cara saya berkomunikasi seringkali menimbulkan berbagai reaksi ke arah yang bertentangan dari tujuannya. Itu baru satu masalah. Sometimes I could not say what I meant and other times I did not mean what I said. I was afraid that I might hurt someone. Padahal ujungnya kita nggak mungkin selalu menjadi orang yang disukai, karena meskipun kita menyampaikan hal yang benar dengan cara terbaik tetap saja persepsi, pola pikir, dan kondisi penerima informasi itu amat menentukan reaksi atau hasil dari upaya komunikasi yang kita lakukan (hal ini dibahas lain kali aja yaa).

Masalah lain, saya rada malas mengikuti perkembangan gadget, mantengin media sosial, dan membiarkan diri berada dalam kutukan blackberry yang selalu eror. Karena komunikasi zaman sekarang juga banyak difasilitasi oleh kecanggihan teknologi dengan berbagai macam media dan beragam gadget, tentunya saya nggak bisa bertahan hidup tanpa alat-alat tersebut, atau tanpa mengenal media komunikasi beserta kelebihan dan kekurangannya.

Gadget-hassle free
Kendala jalur komunikasi yang saya maksud adalah betapa lambat dan leletnya respon saya terhadap pesan yang dikomunikasikan pihak lain gara-gara hambatan infrastruktur. Blackberry saya memang tergolong generasi tua dan sudah mengalami banyak ‘penganiayaan’ karena jatuh, terbanting, dll. BB itu jadi sering mati sebelum waktunya dan boros batere. Solusinya mungkin ganti batere atau BB. Selain itu sinyal kartu XL ternyata kurang bersahabat di kantor saya di Thamrin. BBM lambat, mau telpon langsung juga putus-putus, bikin stres. Saya sudah membandingkan, BB dengan kondisi sama tapi menggunakan kartu Simpati ternyata masih mendingan (bukan iklan berbayar lhoo..). Solusinya ganti mungkin kartu. Di gedung saya sebenarnya sudah ada WiFi tapi entah bagaimana di spot tempat saya bekerja kok ya nggak begitu hot… byar-pet gitu deh. Yang satu ini saya nyerah. Masa solusinya ganti gedung sih?

Akibat dari hambatan infrastruktur komunikasi ini cukup parah. Beberapa kali, saya tidak ter-update info dari sekolah Miss K, misalnya tentang kegiatan sekolah atau keputusan libur karena ada kejadian darurat. Walhasil beberapa kali Miss K muncul di sekolah yang kosong melompong atau tidak membawa item yang dibutuhkan untuk pelajaran tertentu. Sahabat-sahabat saya selalu menyindir tenggapan saya yang selalu terlambat disertai kalimat pembuka “Maaf ya, baru bisa bales…”. Mereka biasanya meradang, “Udah basi kali, Buuuu… Bosen deh, apalagi alesannya? Biasanya kalo pagi pake alesan lagi meeting, siang alasannya sinyal jelek, sore lagi nyetir, eh malem-malem lu suka ketiduran. Kapan lu idupnya sih?”.

Urusan BB lelet juga mengancam keharmonisan rumah tangga dan kelancaran pekerjaan saya. Suami sudah sering marah-marah karena informasi manajemen rumah tangga dan janjian pulang jadi kacau gara-gara saya nggak respon balik (padahal sering juga hal itu disebabkan pesannya memang tidak diterima HP saya). Suatu hari saya pernah pula mendapat teguran dari big boss mengenai tidak sampainya BBM beliau mengenai hal yang penting dan mendesak (ya iya lah, kalo nggak penting dan mendesak kan nggak mungkin iseng kirim BBM ke gue). Rekan kerja saya sebel karena saya sering melewatkan email-email penting yang berisi updating situasi dan solusi terkini.

Jangan tanya soal Facebook dan social media lain deh, bisa diitung dalam sebulan berapa kali saya akses ke Facebook (itu pun ucapan selamat ulang tahun dan kirim jempol doang!). Meskipun saya nggak berniat jadi social butterfly, tapi saya sudah terlalu lama membiarkan ketidakpedulian itu tumbuh membesar, bertentangan dengan apa yang selama ini saya anggap utama dalam hidup ini: hablum minna naas dengan keluarga, sahabat, teman, saudara sesama Muslim, masyarakat, orang, manusia di bumi ini.

Semua kritik itu bener banget. Kepasrahan saya terhadap kondisi infrastruktur teknologi yang tidak menguntungan itu memang menyebalkan dan merugikan serta membuat saya semakin jauh dari kepedulian terhadap lingkungan. Saya sendiri saja sering gemas dengan respons time orang lain yang terlalu lama, karena saya sebagai pihak yang berkepentingan pasti ingin cepat memperoleh informasi atau konfirmasi. Orang lain pasti sama juga, dong, kalau begitu. Jadi jangan salahkan orang lain kalau saya dinilai lambat, nggak responsif (jangan-jangan malah dianggap nggak responsible juga), nggak pedulian, dan nggak menghargai orang lain.

Cukup sudah BB Gemini generasi jebot itu mendampingi saya. Terima kasih XL, tapi saya harus berpisah denganmu sekarang. Saya ganti BB sekaligus ganti kartu. Suami saya juga membeli portable electricity charger, supaya nggak ada alasan lagi BB low bat atau mati. Alhamdulillah, sejauh ini ketiga benda tersebut ditambah HP Smart 299ribuan sebagai modem di rumah cukup membantu saya sehingga benda-benda itu layak untuk disebut aset (hehehe… perhitungan amat yak). 

Mind-hassle free
Tapi suami saya masih becandain, “Gadget udah ganti baru. Otak dan pikiran kamu perlu di-upgrade nggak tuh?” Benar juga. Gadget kan tergantung penggunanya, tergantung pada mind set dan sejauh mana komunikasi yang lancar menjadi nilai yang diusung pemilik gadget tersebut. Hal atau orang yang penting bagi seorang pengguna, mungkin nggak penting bagi orang lain. Kalau dalam pikiran saya membaca email, sms, BBM, atau pesan lain itu bisa diundur-undur, maka itu lah yang terjadi… Bacanya aja telat, tentunya menjawabnya lebih lama lagi. Padahal sekarang ini adalah zamannya informasi mengalir super cepat.

Saya juga patut mempertimbangkan pendekatan berpikir saya yang selama ini cenderung terlalu fokus dan intensif pada yang kasat mata. Masih terpatri dalam benak saya bahwa orang di hadapanmu itulah yang saat itu harus diperhatikan 100%. Hal itu menahan saya dari membagi perhatian pada hal lain yang ternyata perlu perhatian yang sama intensitasnya. Multitasking, or multifocusing, for me is not about spreading the attention; it is purely about doubling the attention and intention. It’s either doing all faster or reducing some to get things better. Sometimes I failed to have the choice because I wanted it all.

Kalau dalam pikiran saya, hablum minna naas itu hanya dengan orang yang berhadapan dengan saya (face-to-face) maka semua jenis komunikasi lain yang tidak langsung akan selalu saya nomorduakan, bahkan saya lupakan dengan alasan saat itu sedang meeting, nggak ada sinyal, HP low bat, sedang sibuk, nggak sempat, dan sebagainya. Padahal, jumlah orang yang langsung berhadapan dengan saya dan berkomunikasi intensif sehari-hari paling banyak 5-10 orang, orang yang itu-itu juga. Sedangkan seluruh sisa orang lain yang saya kenal di dunia ini hanya bisa terhubung dengan saya secara tidak langsung lewat gadget dan teknologi. It’s a new way of communication that I just couldn’t escape.

Beberapa tips yang saya dapatkan dari sana-sini, artikel atau blog ini-itu semuanya mendukung penggunaan teknologi dan media komunikasi yang beragam. You can reach higher aims, get larger influence, or even feel more satisfy and be happier by using more than single old media/method of communication. Saya hanya perlu membuat proses itu menyatu dengan keseharian saya, sehingga lama-lama segala macam alasan untuk tidak menanggapi tepat waktu akan terkikis. Niat saya bukan untuk selalu tampil prima di percaturan sosial, pekerjaan, atau pergaulan … tapi berusaha untuk lebih mampu ‘hadir’ dalam semua sisi kehidupan secara lebih proporsional.

Jadi, inilah janji sederhana saya. Nge-charge HP setiap hari wajib saya lakukan di rumah supaya tidak ada alasan low bat. Saya juga berjanji untuk cek email kantor setiap muncul pop-up dan segera putuskan apa yang akan dilakukan terhadap email itu (hapus, teruskan kepada yang lebih berhak, jawab, atau simpan dalam folder tersendiri sementara menunggu penyelesaian). By the way, saya masih punya PR menyortir 11.744 email dalam mailbox saya… hiks. Itu hasil kemalasan saya selama 2 tahun, gila nggak tuh….! Saya berniat mengaktifkan nada getar atau tengok-tengok Blackberry setiap 5 menit sekali, lalu langsung jawab begitu selesai baca pesan di Line, WhatsApp, sms atau BBM (jangan pernah menunda jawab pesan yang telah berstatus “Read”, hal tersebut konon bertentangan dengan etika…wiiih…). Buka Facebook minimal 2 kali sehari, langsung beri tanggapan yang diinginkan. Langsung posting di blog atau Twitter begitu ide itu datang (you can never be perfect by postponing or waiting for the ‘right time’, so just do it right away!). Saya mewajibkan diri menelpon kembali atau minimal sms setiap kali ada panggilan masuk yang tak terjawab.

Tahun 2013 baru berlangsung 3 minggu. Dari sekian banyak janji saya, masih banyak yang belum bisa konsisten saya lakoni. Tapi secara prinsip saya paham dan yakin bahwa jantung dari hidup yang bahagia adalah komunikasi yang baik. Bahwa gadget yang memadai akan membantu, saya setuju. Tapi yang lebih penting untuk saya perhatikan adalah niat baik dan perhatian yang tulus dalam setiap bentuk komunikasi dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun. Meski tidak ada batasan mengenai definisi cepat atau lambat, tapi hati kita tahu mana saja hal yang bisa kita lakukan dengan lebih baik. Your gadgets can be your assets, but your relationships are the true wealth you can get.

Wednesday, January 16, 2013

Lethal Affection

Beberapa kisah dan cerita membuka mata saya tentang sisi lain dari kasih ibu yang tak lekang di sepanjang hayat. Buku-buku menarik yang menceritakan hubungan ibu dan anak (terutama anak perempuannya) telah mendorong saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih jujur mengenai hubungan saya dengan Miss K, buah hati saya yang tengah beranjak besar. Semua ibu pasti mencintai dan menyayangi anak-anaknya, rela berkorban dan selalu menginginkan yang terbaik bagi mereka.  Saya tidak pernah mengira bahwa cinta dan kasih sayang bisa menjadi posesif, mengurung, dan mengerdilkan. Ketika kesalahan itu berlebihan maka cinta bisa mematikan, dalam arti sebenarnya maupun dalam arti kiasan.
The Piano Teacher karya Elfriede Jelinek – Di balik kisah cinta terlarangnya, Erika -sang guru piano- menyimpan duka dan lukanya akibat perlakuan ibunya yang  mendominasi, kejam, dan “tidak masuk akal”. Novel ini dipenuhi oleh bayangan kekejian dan tindakan kejam yang diam-diam telah menyusup dalam batin Erika sebagai hasil dari penganiayaan batin yang dilakukan ibunya. Saya mempertanyakan mengapa cinta seorang ibu bisa jadi demikian mengikat, mengatur, dan melukai. Semua dilakukan atas nama melindungi, mengasihi dan mengupayakan ‘kebaikan untuk Erika’.
Akhir yang tragis untuk Erika karena sebagai korban dan pelaku dia menjebak dirinya dan mengizinkan lahirnya penganiaya baru. Buat saya novel ini termasuk kategori ‘horor’ sehingga sulit meyakinkan diri sendiri untuk membaca buku ini yang kedua kalinya. Terus terang saya sudah lupa dengan detail novel ini. Hanya kesan mengerikan yang digambarkan dengan sangat baik oleh penulisnya lah yang tetap tinggal dalam kenangan.
Bumi Manusia karya Pramoedia Ananta Toer – Cinta seorang perempuan agung dan cerdas melebihi zamannya belum tentu mampu mengantarkan sang anak menuju kemandirian dan kebahagiaannya sendiri. Saya trenyuh dengan Annelies, dia memperoleh seluruh limpahan kasih sayang Nyai Ontosoroh. Tidak diragukan lagi cinta, dedikasi, ketulusan dan perjuangan sang Nyai untuk membela kepentingan anak gadisnya itu. Tapi sekali lagi, dominasi dan penguasaan sang Mama telah melemahkan jiwa Annelis dan menggagalkannya menemukan jati diri serta kekuatannya sendiri.
Nyai Ontosoroh berpandangan jauh tentang bangsanya dan menolak untuk pasrah pada penguasaan penjajah. Sesungguhnya batin Nyai juga dipenuhi dendam terhadap orangtuanya yang telah menjualnya kepada seorang Belanda ketika ia berumur 14 tahun. Nyai tidak bisa memaafkan ibunya karena ‘berdiam diri dan tak berdaya’ sebagai perempuan Jawa atas keputusan ayahnya untuk menjual Nyai.
Keinginan Nyai untuk tidak pernah berdiam diri dan upayanya melepaskan diri dari ketidakberdayaan perempuan terbaca oleh Annelies sebagai standar yang tak akan pernah bisa ia capai. Mamanya terlalu agung, terlalu tinggi menjulang kualitasnya untuk ditiru dan dicintai apa adanya. Ia hanya mampu menuruti sang Mama, sebagai bukti cinta dan kasih sayang sang anak yang terpendam. Perjuangan cinta Nyai untuk ‘anak bangsanya’, untuk hal yang lebih besar dari dirinya sendiri, tanpa sadar telah membuatnya lupa untuk mencintai Annelies sebagai seorang anak.
Secara tidak langsung, Nyai pun telah menjual Annelies kepada 'bangsa'nya, dengan harapan bahwa dengan menikahi seorang calon pemimpin bangsa ini maka Annelies akan otomatis menjadi bagian dari perjuangan itu,menjadi bagian dari kebangkitan yang Nyai impikan. Sayangnya Annelies meninggal; penyakit fisik Annelies hanya memperkuat kesakitan yang ada dalam batinnya yang tidak mampu menerima hentakan dan gonjang-ganjing kehidupan. Benteng sang Nyai tidak mampu melindungi Annelies dari kerapuhannya sendiri.
The Battle Hymn of The Tiger Mother karya Amy Chua – Cinta dalam perjuangan mempertahankan standar hidup serta mengejar standar kualitas, etos, dan mimpi besar keluarga Amerika keturunan Cina. Dibanding dua novel di atas, buku yang ditulis Amy Chua di tengah krisis dirinya sebagai seorang ibu dari 2 anak perempuan ini memberikan banyak pandangan nyata mengenai pengasuhan anak. Dari sudut pandang dan budaya Cina (dan Asia umumnya), pola pengasuhan yang baik berarti orang tua mati-matian melaksanakan kewajibannya dan anak-anak mati-matian melaksanakan kewajibannya pula.
Prestasi akademik tak bercacat dan deretan medali ekstra kurikuler yang tak berujung dinilai sebagai hasil dari sikap hormat dan patuh pada orang tua serta disiplin diri yang luar biasa. Sebagian besar uraian Amy Chua mengenai alasan mengapa  dia melakukan hal-hal yang “luar biasa kejam” terhadap anak-anaknya sepenuhnya saya pahami dan setujui. Siapa yang tidak ingin anaknya siap hidup di masa depan yang kian tak menentu? Siapa yang mau anaknya menjadi pecundang, tidak percaya diri, tidak mandiri, dan menjadi beban masyarakat?
Tapi pilihan tindakan yang dia lakukan sungguh-sungguh di luar kemampuan saya untuk mengerti dan memahaminya. Kok seorang ibu bisa begitu ya? Tidak adakah cara lain? Mungkin saya perencana yang idealis, termasuk dalam 'merencanakan' masa depan anak saya. Tapi untuk benar-benar 'membayar' rencana dan impian saya itu dengan hilangnya kenyamanan dan kebahagiaan kami? Saya pasti menyerah. Saya memilih jalan lain yang lebih mudah, lebih tidak menantang (Papa Panda pun mungkin tak setuju betapa mudahnya saya mengibarkan bendera putih).
Saya sering disebut sebagai ‘macan malas’ oleh Miss K karena meskipun mata, telinga dan otak saya tampak sedang berproses mengenai sesuatu :p (kalau saya macan beneran, pasti saat itu saya sedang mikirin besok makan hewan buruan apa lagi yaaaa, yang sehat dan lezat buat anak-anak macan), saya tetap macan yang senang leyeh-leyeh, santai-santai di depan TV, dan took this life for granted. Sebagai macan malas, saya benar-benar terkesima dengan apa yang Amy Chua lakukan terhadap Sophia dan Lulu. Determinasi tinggi dan disiplin yang kuat itu saya rasakan laksana awan yang menghalangi cinta matahari untuk menerangi dan menghangatkan saya.
Tak urung akhirnya saya (juga Amy Chua) jadi bertanya-tanya: bahagiakah Sophia dan Lulu? Bahagiakah Miss K? Setelah apa yang kami lakukan terhadap mereka atas nama cinta, kasih sayang, perlindungan terbaik, dan cita-cita mulia menjadi warga produktif dan bahagia? Amy Chua telah menjawab di bagian akhir bukunya: Ya, mereka bilang mereka bahagia. Dia juga bilang bahwa pola pengasuhan yang ia yakini adalah about believing in your child more than anyone else – more than they believe in themselves – and helping them realize their potential, whatever it may be.
Saya? Belum ada jawaban pasti. Saya masih mencari dan mencari di tengah rentetan topik yang jadi PR saya: kegilaan pagi hari untuk berangkat sekolah dan ngantor, ulangan dan ujian sekolah, 'seabrek' ekskul (sesungguhnya Miss K hanya ikut menyanyi, berenang, bahasa Inggris, dan Kumon; yang mungkin masih di persneling 1 dibanding anak-anak Indonesia lainnya yang lebih beruntung... atau malah 'tidak beruntung' ya?), pendidikan agama dan akhlak, kemandirian, pergaulan anak dan remaja masa kini (6 deadly challenge for kids and teenagers today: smoking, alcohol and drugs as well as bullying, pornography and sex), dll... dll... Ya Allah, bless us and give me the STRENGTH so I can pass it on to her to live her own life.
Mengasuh dan mendidik sekaligus mendampingi dan menginspirasi anak bukan hal yang mudah. Terutama bagi saya yang sangat kekiri-kirian (otaknya) dan sangat percaya pada motivasi internal. Ketika menyusui dan menggendong bayi mungkin merupakan hal yang naluriah bagi sebagian besar ibu, saya perlu memastikan dgn melihat serangkaian indikator untuk tahu bahwa saya melakukannya dengan benar (bayangkan saja, contohnya saya memarkir mobil bukan dengan perasaan tapi dengan perhitungan berupa bayangan sudut sekian derajat, kecepatan sekian, jarak sekian meter dan putaran stir sekian kali… di dalam kepala saya). Ketika anak saya tidak mau makan, saya kebingungan karena seingat saya, sejak saya TK saya jarang sulit makan karena sudah paham bahwa makanan yang baik diperlukan bagi tubuh untuk tumbuh dan berkembang (sejak kecil saya serius dan sedikit membosankan...:p). Ibu dan bapak saya tidak sempat panjang lebar menasehati ini-itu karena sebagian besar hal-hal mendasar sudah sejak kecil saya lakukan sendiri.
Tapi Miss K bukan saya. Saya yang sekarang pun bukan saya yang dulu. Saya bersyukur saya memiliki kesempatan untuk terlahir kembali (dengan harapan sebagai 'saya' versi yang lebih baik) ketika Miss K hadir ke dunia ini hampir 9 tahun yang lalu. Sosok mungilnya telah mengubah hidup saya sejak saat itu. Banyak hal yang telah kami lakukan bersama, atau tidak bersama (karena saya tidak selalu ada untuknya). Semoga cinta dan kasih sayang saya mampu menggapai hatinya yang terdalam, dan membopongnya untuk berani hidup dengan keyakinannya, dengan bahagia. Jangan sampai ketulusan saya sebagai orang tua menjadi berlebihan, mematikan dan mengecilkan semangatnya untuk menghadapi dan menghiasi dunia.
Saya berdoa agar cinta saya kepadanya tidak menghancurkan diri saya juga. Di atas segala-galanya saya lah yang sebenarnya membutuhkan cinta, pengakuan, kesabaran, dan pengertiannya. Ketika suatu saat nanti saya berhenti ‘tumbuh dewasa’, saya ingin dia memaafkan, memaklumi dan menerima saya apa adanya.