Wednesday, October 29, 2014

#JakartaMarathon2014: My first Half Marathon

What's so special about this event?

1. I shared the excitement with my BFF from college: Joe who just recently ran and joined the 5K for the first time.

Setelah mengajak dan merayu-rayu (baca: maksa) Joe untuk mulai berolahraga, akhirnya si Bunda satu itu lari juga. Awalnya 4x400 meter, lama-lama pengen nambah. 

Di awal Oktober 2014 lalu saya janjian ketemu ama dia untuk lari Minggu pagi di GOR Saparua. Saya meluncur dari Hotel Padma, muter-muter di taman Balai Kota Bandung dan akhirnya mendarat di GOR Saparua. Joe sendiri lumayan larinya, dapet 2,6 km. Perjuangan kami pun langsung dibayar tuntas dengan sarapan di Kedai Kupat Tahu Sukabumi di sebelah GOR hehehe... Mak nyuss deh. 

Saya pun maksa-maksa dia ikutan 5K #Jakmar2014 pake race pack cadangan atas nama si Mbak yang emang saya siapin buat keluarga/temen yang ujug-ujug pingin ikutan. Voilaaa... datanglah Mrs. Joe sekeluarga ke Jakarta. Asiiikk, akhirnya ada juga calon running buddy yang naga-naganya cucok dengan pace rata-rata 9.3min/km..wkwkwkw...
Dike, me, Kay, and Joe before Subuh prayer at Baitul Ihsan

2. I enjoyed the race as much as I could, embraced the feeling and just kept going

Meskipun persiapannya ngga heboh-heboh amat dibanding orang lain, beberapa minggu sebelum Jakmar 2014 saya sempat LDR-an Minggu pagi sampe 19 KM-an. Saya juga berusaha rajin stretching setelah lari, trus nyoba latian plank dan lunges untuk sedikit memperkuat otot yang letoy. Hal itu saya tempuh supaya bisa lari dengan PD dan finish dengan gembira. Saya memutuskan untuk be at peace with my pace (sebelumnya udah sukses berdamai dengan my face). Maksudnya  alon alone asal kelakon. Perkiraan waktu tempuh emang di atas 3 jam. 

Saya start terlambat 8 menit setelah kick off, akibat nggak memperhitungkan penutupan area start bagi para pelari. Kami harus lari tergopoh-gopoh dari gerbang Monas di depan patung kuda ke gerbang depan Istana Negara. Itu aja udah bikin ngos-ngosan.  

Kirain cuman yang HM aja yang telat, ternyata masih ada beberapa orang dengan kaos Jakmar bergaris biru (FM) yang berlari di rombongan belakang bareng saya. Berlari sejajar dengan mereka membuat saya membatin, "Hebat banget ni orang-orang. Untung gw cuman HM doang."  Pas di KM6 saya sempat melewati dua orang pacer FM 7:59 yang keliatan banget berusaha keras lari lambat-lambat hehe... (sayang, ngga sempet fotoin). 

Saya menikmati banget lari di Kawasan Wisata Kota Tua karena ngga pernah jalan kaki di sana.

Sejenak ber-selfie di depan Stasiun Jakarta Kota sekitar KM7.
Pelari Jakmar2014 juga dihibur tarian Barongsai (foto oleh Neng Yesi)

Lewat dari Stasiun Jakarta Kota, kami bertemu dengan rombongan pelari 10K yang udah muter balik. Saya sempet say hi sama Dike. Nggak lama kemudian saya ketemu sama seorang bapak-bapak berambut cepak yang lari ditemenin ajudan yang juga berambut cepak. Kok tau mana bos, mana ajudan? Beda ukuran perutnya... hihihi. Kayanya sih mereka bukan peserta Jakmar2014. Jangan-jangan salah satu anggota pengamanan soalnya dia bawa-bawa HT, gitu. 

Si Bapak ternyata narsis banget. Sang ajudan disuruh ngejepret si Bapak berlari di sebelah saya berkali-kali sampe yakin posenya woke. Mungkin si Bapak nggak ada pilihan pemeran pembantu lain. Mbak-mbak cantik yang seksi udah melesat jauh di depan, yang ada yaa emak-emak satu ini :p  

Kami berpisah dengan rombongan 10K di simpang Jl. Juanda. Kami belok kiri menuju depan Passer Baroe lalu belok kanan di depan Gedung Kesenian Jakarta. Di sana saya menyempatkan foto di depan panggung seni karawitan Sunda sebelum melanjutkan ke arah Masjid Istiqlal dan berbelok menuju Jl. Juanda kembali.
Di depan Gedung Kesenian Jakarta, hampir KM12
 3. I ran the longest distance ever. Time didn't matter. The 3h:17min was a good start

Saya berusaha menikmati pemandangan sekitar Jalan Medan Merdeka (kaya yang belum pernah liat Monas aja, hihi..) sampai akhirnya kami melewati gerbang Monas menuju Bunderan HI. Karena pace saya sekitar 9:15 menit/km maka waktu saya lewat gerbang Monas adalah sekitar 2 jam 15 menit sejak start. Huiksss... saat itu sebagian pelari sudah masuk ke garis finish, sementara saya masih harus muter 6 km lagi.  

Nah, di situlah saya mulai merasakan gerah dan panas. Jalanan juga penuh sesak. Karena jalur Jakmar2014 ngga sepenuhnya steril jadi kami tetap bergabung dengan para pejalan kaki, pesepeda, atau pelari bukan peserta Jakmar2014. Air... oh, di mana air? Kok nggak keliatan ada water station dari Monas sampai belok kiri ke arah Jl. Imam Bonjol. Untung ada tukang jualan di pinggir jalan, saya bisa beli sebotol Pocari Sweat untuk memenuhi dahaga di 4 km terakhir.
Di Jalan Imam Bonjol KM19
Di Jl. Imam Bonjol saya berpapasan dengan Babeh yang ternyata kena kram paha. Dia berjalan putar balik dan berjalan kembali menuju Bunderan HI sambil dadah-dadah. Saya berhenti sebentar di depan tanda KM19 dan mengabadikan momen bersejarah itu (halaaahhh...). Yee, namanya juga baru pertama HM, jadi pasti norak lah!!

Dua kilometer terakhir itu kerasa banget beratnya. Saya sampe sekarang belom ngerti konsep finish strong yang pake rada-rada sprint di 500 meter terakhir trus pelarinya ngeluarin banner atau bendera negara utk dikibarkan di garis finish. Pasti rasanya puassssss.

Yang ada biasanya saya udah loyo (liat aja foto-foto finish saya yang ancur). Sumpah, pas mau finish HM Jakmar2014 nggak cuma kaki yang kebas.... tangan saya juga rasanya pegellll banget. Udah nggak bisa ditaro di pinggir pinggang atau diayun ke depan. Saya akhirnya lari dengan tangan diangkat atau tangan dikaitkan di belakang punggung. Aneh ngga tuh. Cuek aja. Tokh ngga bakal ada fotografer yang motoin.

Alhamdulillah. Akhirnya finish juga. Timeboard menunjukkan waktu guntime 3:25:18, sedangkan Nike+ saya 3:15. Chiptime yang tertera di web ternyata 3:17. Beda 2 menit itu pasti waktu saya mematikan Nike+ untuk foto-foto di 3 tempat.

Overall, saya cukup puas dengan pengalaman lari HM pertama di #Jakmar2014 ini. Di mata saya pribadi, penyelenggaraan Jakmar tentunya harus diperbaiki di masa yang akan datang. Water and fruit stations harus sesuai dengan KM yang dijanjikan, jangan PHP sama pelari. Dosa tauk. Trus sosialisasi ke masyarakat yang sama-sama menggunakan jalur CFD dilakukan jauh-jauh hari biar pada tau dan ngasih jalan sehingga pelari HM dan FM yang udah sempoyongan ngga harus nyelip-nyelip di tengah genk ABG yang sibuk cekikikan melintang di tengah jalan.  

Oki doki, demikian sekilas HM pertama saya. Mudah-mudahan saya lebih siap dan lebih hepi lagi di Jakmar berikutnya. Till we run again!



BII Maybank Bali Marathon 2014 : One Different 10K

Liburan singkat kali ini dipas-pasin dengan waktu pelaksanaan #BMBM2014. Karena rasa-rasanya belom siap, jadi daftar yang 10K aja. Kata beberapa orang: rugi banget...udah jauh-jauh dan mahal-mahal ke Bali, larinya cuman 10 kilo doang. Itu kan bentar banget. Hahaha...bener banget. Anyway, untuk tahun ini kami ingin seneng-seneng aja di sana sambil menikmati ambience #BMBM yang katanya dahsyat.

Dari bandara Ngurah Rai kami langsung menuju lokasi race pack collection di Sofitel Nusa Dua. Waah, nggak  antri sama sekali. Mungkin karena masih rada pagi. Isi race pack-nya kaos kutung New Balance, voucher NB Rp500ribu, buku pedoman, gelang asuransi Avrist dan beberapa pernak-pernik lainnya.

Ngeliat peta jalur half marathon, hati ini langsung meleleh saking ngilernya. Kalo ngga bakat nekat, ngga usah coba-coba deh.... hehehe. Semua teman kantor ikut yang half marathon dengan pertimbangan itu tadi: larinya harus seimbang ama biayanya. Teman saya, Lisa, yang emang berjiwa sekokoh baja mengaku belom pernah lari 10 kilo. Tapi berhubung dapet slot half marathon yang menggiurkan, dia akhirnya memutuskan untuk ikut. Saya? Ihiks...nanti dulu deh.

 
Rute 10K #BMBM2014

Hari Sabtu itu benar-benar saya, Babe dan Miss K manfaatkan untuk leyeh-leyeh, enjoying the art of doing nothing. Setelah makan siang, kami jalan-jalan di pantai seputar hotel di daerah Kuta lalu bobok. Sorenya, Miss K dan Babe ke pantai lagi, sedangkan saya beryoga-ria sendiri di kamar supaya badan ngga pegel. Malamnya kami jalan-jalan ke Discovery Mall, makan di Pizza Hut (ketemu dgn beberapa genk peserta HM dan FM #BMBM2014 yang sedang carbo-loading dan foto-foto). Babe berkali-kali mencoba mengontak temannya, Ari, yang juga ikut 10K tapi belom berhasil. Sedangkan teman-teman BI Runners sebagian besar menginap di Jalan Suli.

The race day. Kami pergi jam 3 dari hotel untuk mengantisipasi penutupan jalan di sekitar area start/finish di Bali Marine and Safari Park. Matahari belum muncul ketika race FM dimulai jam 5.00 pagi. Saat itu kami masih antri sholat Subuh di area yang disiapkan panitia dan sempat bertemu Lisa, Pipin, Sindy dan Bu Yuli sebelum mereka start HM. 15 menit setelah FM dmulai, peserta HM diberangkatkan. Sampai dimulainya 10 K jam 5.30 kami masih belum bertemu dengan Ari. Rada susah sih nyari orang di tengah keramaian dan gelap-gelap begitu. Selepas start, seperti biasa, saya dan Babe lari sendiri-sendiri. Miss K akan menanti kami di garis finish dengan tugas memotret emak-babenya.


At the start gate
Rute 10K di #BMBM2014 cukup berbeda dengan jalur CFD di Jakarta atau BSD yang udah biasa dilalui. Bakal banyak tanjakan (dan... logikanya bakal banyak turunan juga kan). Selain itu suasana daerah Ginyar (yang nggak desa-desa banget sih) juga memberikan nuansa yang lain dari biasanya. Kami berlari melewati sawah, perumahan penduduk, dan peternakan (ada sign board: "Menyediakan Bibit Babi"). Mulai KM3 kami disuguhi tanjakan demi tanjakan sampai sekitar KM6. Ngos-ngosan dan kaki berat melangkah, saya jadi sempat jalan sebentar di tanjakan ke sekian. Untungnya setiap KM sejak KM5 sampai sekitar KM8, kami dihibur oleh anak-anak dan remaja yang menyemangati para pelari dari pinggir jalan.  Teriakan dan tepukan tangan mereka rasanya cukup menghangatkan hati saya.

Sesungguhnya sesudah kesulitan, ada kemudahan. Itu bener banget. Setelah sekian banyak tanjakan, akhirnya para pelari 10K bisa bernapas lega menemui jalan yang menurun sampai KM9. Mungkin faktor tanjakan-turunan ini yang membuat beberapa teman saya yang HM berhasil mencetak new PB. Saya sendiri finish dalam 1:19:41. Buat saya itu udah PB tuh huehehe... Pas seneng-senengnya lari menjelang finish, saya celingukan mencari Miss K yang janji mau fotoin (soalnya ngga bisa ngarep ketangkep ama fotografer race, it's like I was always invisible to them :p). Tapi kok ngga ada, kemana ya dia? Beberapa detik kemudian di jalur samping kiri saya (FM) terdengar keributan... fotografer langsung meninggalkan jalur finish 10K dan mengerumuni sisi jalur finish FM. 

Ternyata pemenang full marathon akan memasuki garis finish membuat panitia sibuk menyiapkan pita dan penyambutan bagi sang juara. Jalur finish 10K sepi kering kerontang, kecuali saya dan beberapa gelintir pelari ngos-ngosan kepingin finish strong. Nasib...nasib. so it was how it went. My 10K victory moment was practically stolen by the FM winner. Semua orang (termasuk Miss K) seakan terbius dan mengikuti arus massa untuk menyambut dan mengelu-elukan jawara dari Kenya. Jadi, kata siapa olahraga lari bisa memuaskan dahaga narsisme? Huiks.... 

Di luar masalah narsis yang ngga kesampean, penyelenggaraan #BMBM2014 ini tertata rapi mulai RPC sampai setelah finish. Fasilitas utama semua tersedia. Water station untuk 10K juga memenuhi standar lah. Finisher medal-nya juga keren. Mungkin karena saya ikutan yang 10K jadi ngga begitu banyak pemandangan spektakuler yang dapat kami nikmati. Menurut teman yang tahun lalu ikutan, voucher dan FM finisher T-shirt tahun ini kurang najong. Tahun lalu dia dapat tiket Bali Safari and Marine Park gratis, tapi tahun ini beli 1 gratis satu...itupun kalo pake kartu kredit BII. Kaos penamat tahun lalu berwarna kuning terang jreng, sedangkan tahun ini putih.. pucat dan kayak kurang bergairah. Secara udah pada lari panas-panas 42KM gitu lho... 

Setelah foto dengan teman-teman kantor yang puas dengan PB barunya, kami menuju Bali Bird Park yang sudah dijanjikan ke Miss K. Rencana kami hari itu setelah #BMBM2014 memang hanya ke Bird Park supaya dia puas di sana, ngga terlalu dibatasi waktu karena jadwal pesawat pulang ke Jakarta tokh jam 8.50 malam. Kelihatan banget Miss K suka dengan wisata non-mall  seperti ke Bird Park ini. Diajak ke TMII, museum, Ragunan Zoo, Taman Hutan Rakyat Juanda Bandung, taman kota, pantai aja dia udah hepi kok. Itu kalo emak-babenya lagi beres, telaten ngajak, dan rela berpanas ria nemenin Miss K jalan. Tapi biasanya kami yang "menyerah" kecapean dan mencari pelarian di mall-mall yang adem...heuheu. Emang kacaw...jangan ditiru yak.



In a nutshell, we were so happy with our quick productive get-away. We'll come back next year with wider smiles, bigger guts, and better prep. #BMBM Half marathon 2015 is on the list .... 

Oh iya.. ada apa dengan Ari? Ternyata dia kesiangan berangkat dan nggak bisa mencapai start karena jalanan yang ditutup di sana-sini. Pokoknya, gagal total deh story 10K-nya di BMBM2014 ini hehehe... Tapi teteup smile yaa, Om Ari ! Semangattttt....


Who could resist these kind of smiles?

Saturday, September 20, 2014

Independence Day Run 2014 : 17K


Gegara ragu-ragu antara mau ikut Independence Day Run 2014 #IDR2014 atau enggak, akhirnya saya dan Babe Aris keabisan slot. Halahhh... Keinginan membara untuk ikut serta dalam pesta lari kemerdekaan baru ada beberapa hari menjelang hari H tanggal 31 Agustus 2014.   

Kenapa kami jadi tertarik? #IDR2014 adalah kedua kalinya Istana Presiden dan GarudaFinishers-nya Mas Agus Yudhoyono (ehm) menyelenggarakan event lari. Seluruh persiapan dan pelaksanaannya dalam rangka memperingati kemerdekaan RI. Angka keramat 17-8-45 dituangkan dalam bentuk race lari 17K dan 8K yang diikuti 45.000 peserta. Udah gitu, acaranya gratis bagi peserta. Hari Jumat, gate sudah dipasang di Monas, mengundang banget deh. Pesawat-pesawat tempur udah lalu lalang sepanjang pagi di langit Jakarta. Kayanya bakal seru. Babe bilang, kapan lagi ikutan acara lari 8K dan bergembira sebagai bangsa Indonesia. Yeee, kenapa ngga dari kemarin-kemarin atuh....

Untungnya, Om @vindras baik hati membantu kami memperoleh 2 race pack dari pasangan Oche dan Icha yang batal ikutan karena ada acara lain. Alhamdulillah, rezeki mah nggak kemana. Tapi kami serasa dapet durian rontok ni, karena Ochie dan Icha daftar untuk 17K. Ih, berani ngga ya? 17K kan jauh, man.... ntar pingsan, gimana?

Tapi ketika Babe pulang membawa race pack pada hari Jumat H-2, keraguan itu sedikit terkikis. Dapet race pack-nya aja bisa, masa larinya ngga bisa sih. Kami berdua melakukan persiapan yang diperlukan. Saya memutuskan bawa waist pocket yang agak gedean untuk tempat HP, air minum, pisang, potongan gula merah, anduk mini, minyak oles, dan tissue. Busyet, banyak banget bawaannya. Macam mau kemping aja...hahaha. Ngga lupa saya pake gelang Road-ID yang ada info nama, no telpon Babe, dan golongan darah, supaya gampang ditolongin kalo-kalo pingsan di jalan.
Gerbang finish 17K yang menggoda & peralatan tempur

Biarin ah.. yang penting merasa aman udah bawa barang yang kira-kira diperluin sepanjang perjalanan dari Istana Negara sampai putaran di Al Azhar, Kebayoran dan kembali ke arah Monas. Saya perkirakan bakalan run out of fuel pas KM8, secara itu belom setengahnya. Kalo untuk 10K masih bisa tahan 2 km lagi dengan minum saja. Jadi saya siapin pisang Sunpride ukuran kecil untuk dimakan di KM7. Potongan gula rencananya kalo diperluin setelah KM12. Saya ngga berani makan energy bar atau sport gel; pertama, karena belum yakin halal atau enggak dan kedua, karena takut muntah karena ngunyahnya pasti buru-buru. Minyak oles kalo-kalo terasa ada nyeri (selama ini sih ngga pernah kerasa ada nyeri di kaki).

Pagi-pagi setelah sholat Subuh di hari H, kami meluncur menuju Istana Negara. Kami berhenti di Stasiun Gambir dan berjalan kaki bersama ribuan peserta lainnya. Widih, 45ribu kan banyak banget. 45ribu peserta itu dicapai dengan pengerahan massa pelari dari berbagai kesatuan di TNI, perusahaan, sponsor, sekolah, dan peserta umum kaya kita-kita. Pantesan aja banyak. 

Pelari dengan T-shirt merah berjumlah kira-kira 5ribu akan berlari 17K memperebutkan 1000 medali untuk 1000 pelari pertama di garis finish. T-shirt putih dipakai sekitar 40ribu peserta yang berebut 10.000 medali finishers 8K. Udah tau sih, ngga bakalan saya dapet medali.... :p
One of Red Warriors before the race
Setelah upacara pengibaran bendera Merah Putih, Presiden SBY membuka acara dan memberangkatkan pelari 17K. Nah, dimulailah petualangan 17K saya yang pertama. Saya udah menetapkan bahwa jalan kaki 10-20 detik itu ngga dosa, bahkan diperlukan supaya bisa mencapai finish dengan selamat dan sehat. Nggak usah dipaksain, yang tau kondisi kita kan diri kita sendiri. 

Berlari pelan dengan istirahat 10-20 detik setiap KM untuk minum dan makan bekal saya ternyata strategi yang cukup tokcer. Apalagi sepanjang jalan saya inget nasihat Mbak Ika yang rajin Tai-Chi agar selama berlari saya menegakkan badan, menahan (maaf) anus masuk sehingga pantat+pinggul stabil. Konon katanya itu akan membuat kita lebih kuat berlari. Ya udah saya ikutin sarannya, kalo pas inget ... hihihi. Sumpah, kalo dah lari... suka lupa hal-hal yang penting dan mikirin hal ngga penting.

Di sepanjang jalan setelah KM5 bisa terlihat peer  saya tuh, yang beberapa diantaranya terus bersama sampe finish. Dari cara lari dan pace-nya kita bisa tau that we were belong to the same coral  (i.e. around 8,5-9 min/km) heu3x. Di KM7 saya maem pisangnya, walopun rasanya itu pisang ngga abis-abis saya kunyah. Di KM8 depan Ratu Plaza, saya papasan sama Rahmat dan Indro yang running like gazelles. Mereka udah muter balik (jelas banget saya ama mereka beda kasta). Pas muter balik di depan Mesjid Al Azhar, kita mendapat tali berwarna orange untuk menggantung medali. 

Saya melewati KM13 dengan selamat. Tapi kok mulai terasa sesuatu ya di lutut kanan? Sedikit nyeri, gitu. Saya coba mengurangi landing time kaki kanan, lumayan mengurangi nyerinya. Rasa-rasanya sih bener kata Bu Yuli, tokoh lari dari kantor saya bahwa berlari terlalu lambat juga ada risikonya, yaitu kelelahan berlebihan pada kaki karena bebannya ditanggung dalam waktu yang lebih lama.

Melewati KM14 lutut saya terasa mendingan. Lalu kira-kira 20 meter di depan, saya lihat ada Babe yang sedang berlari lebih pelan dari biasanya. Dia kan udah jauh duluan di depan saya tadi. Berarti ada sesuatu nih. Ketika saya jejeri, saya tanya ada apa. Katanya jari kaki kelingking sakit dan kuku jempol kayanya copot. Whattt?? Ada-ada aja... pasti lupa ngga motong kuku nih. Dan emang sepatu Mizuno Babe udah terasa ngga nyaman kalo dibawa lari lebih dari 10K.

Setelah yakin dia ngga apa-apa, kita lanjut lari sendiri-sendiri dan janjian di KM16-an depan gedung BI-ESDM supaya bisa finish bareng-bareng. So sweeet...baru kali ini finish bareng. Karena terpaksa...hahaha...

Akhirnya, alhamdulillah kami bisa finish 17K dengan selamat. Waktu tempuhnya 2 jam 25 menit. Meskipun ngga dapet medali tapi kami puas memenuhi tantangan hari itu. Pelajaran yang didapat? There’s limit. But don’t limit yourself. Ternyata kami bisa lari 17K. Ternyata yang dadakan itu bagus juga, kita jadi ngga sempet ragu. Ternyata yang diperlukan hanya: just do it

#IDR2014 benar-benar jadi perayaan bagi kami berdua, sekaligus penguat hati untuk half marathon perdana kami di Jakarta Marathon bulan Oktober 2014.  
Nyengir setelah finish

Review seluruh acara #IDR2014 termasuk hebohnya airforce show dan Maudy Ayunda ada di Dunia Lari.

Friday, September 19, 2014

Running: activity or self actualization?



Saya tuh orang yang males banget foto-foto dan bikin collage. Padahal kan jaman sekarang pictures speak louder than words yaa...hehehe. Dianggapnya the action are best reflected on the pictures. Soalnya saya termasuk golongan orang-orang yang kadang punya pikiran sempit dan picik bahwa yang narsis itu pasti lebih banyak gayanya dibanding aksi dan esensinya. Hahaha, bayangin tuh piciknya kaya apa. Padahal kebanyakan karena saya ngga PD aja, selalu mematok standar tinggi yang tentunya ngga pernah bisa saya capai sendiri. Belum lagi foto saya lari kayanya menyedihkan semua, which is exactly makes the point that I ran incorrectly. Hahaha, ngaku nih. Banyak yang mesti dibenerin.

Running fever masih melanda Jakarta dan seluruh Indonesia sampe 2014 ini. Amazing sih.. masih awet. Hot trend? Gaya hidup modern? Agama baru? Urban style? Banyak teman-teman saya yang langsung jatuh cinta sama lari dan investasi gede-gedean: niat bulet, waktu berlatih dan metode latihan yang serius (it really takes a considerable chunk of your week end and week day time to do tempo run, strength training, hill work, and long run), gear lari yang nyaman dan gaya (sepatu, compression, kaos kaki, sport bra, visor, kaca mata, jam tangan mahal yang bagi mereka ngga masalah), gadget dan keanggotaan training/challenge program secara online, makanan pilihan buat refueling, dan rencana perjalanan ikut race event di berbagai kota dan negara (marathon/half marathon seri dunia bakal dikejar, andai bisa masuk kualifikasi). 

Hasilnya? Posting di media sosial, foto-foto berkegiatan yang bikin ngiler, pemecahan rekor/catatan waktu pribadi, kumpul-kumpul teman sehati, persahabatan (friends who run together, stay together  katanya), dan rasa puas telah menaklukan tantangan di luar pekerjaan dan tuntutan jenis lainnya (everybody  picks her/his own battle, one after another). If I suck or I am stuck with other things in life, then maybe running could save me. Mungkin ada juga yang berpikiran begitu.

Nike We Run, Dec 2013 #BajakJkt (review asik ada jg di http://www.rezafaisal.net/?p=891)

Ada lagi teman-teman anti mainstream: semakin sesuatu hal menjadi tren dan jadi komoditi, semakin nggak mau ikutan. Anget-anget tai ayam, ntar juga berlalu dengan sendirinya. Di Indonesia ini apa sih hal baru yang ngga laku? Sepeda lipet. Sepeda gunung. Zumba. Futsal. Food combining. OCD. Diet a la Dr. Grace (saya juga baru tau hari ini ternyata sebagian besar ibu-ibu kantor adalah pasien sang Dokter dalam rangka penurunan berat badan). Wisata kuliner. SK-II skin treatment. Foto pake bibir monyong. Selfie dan tongsis. Dll. Jadi wajar aja para anti mainstream itu ngga terlalu excited dengan tren yang satu ini. Salah satu kisah ttg pelaku anti-#etapi-pro mainstream olahraga lari yang kocak banget ada di sini nih. Ngakak berats deh.

Saya sih ngeliat kegiatan lari seperti olah raga lainnya sebagai cara untuk mengolah badan dan memperoleh manfaat terbaik. Sama kaya berenang, main tenis, yoga, senam aerobik, zumba, dan lain-lain. Kebetulan aja di Oktober 2012 saat saya ingin mencoba hal yang baru, saya pilih sesuatu yang sebelumnya saya nggak suka. Biasanya saya olahraga voli, basket dan yoga karena olahraga lain saya anggap susah dan saya males beradaptasi (baca: usaha). Apalagi udah merasa ngga sejago orang lain.

Mindset kaya gitu lama-lama jadi halangan karena saya semakin nggak PD mencoba hal baru yang positif. Saya menyadari bahwa ternyata saya sendiri yang membatasi my own possibilities.  Olahraga lari saya pilih karena murah, bisa dilaksanakan, udah lama kepikiran (sejak liat bodi keren pelari cewek bule di Boulder,CO  dan Bloomington, IN) tapi ngga berani mulai, membuat saya senang, dan saat itu lari memang mulai jadi tren di Indonesia.

Murah karena modalnya cuman celana training dan kaos biasa serta sepatu Nike warisan dari Amerika seharga $40. Untuk sepatu cadangan, saya beli New Balance W480 di SportStation yang diskon 70% jadi cuman Rp177.000. Baru setahun kemudian saya beli Brooks GTS12 yang diskon 50% juga, jadi Rp665.000. Alhamdulillah 2 sepatu itu cocok dan nyaman dipakai. Pokoknya saya perhitungan banget. Ngga rela belanja mahal kalo ngga yakin bakalan berguna dalam jangka waktu lama. Saya tes diri saya dulu, kalo setaun masih betah lari baru boleh ngintip-ngintip barang lain. Long sleeve shirt paling nyaman dan saya suka adalah pink shirt-nya The Urban Mama yang saya beli di event Running Coach bareng Brett Money dan Alan Walker pada bulan Mei 2013. Rada mahal sih Rp269.000 tapi Rp40.000 diantaranya untuk nyumbang yayasan amal. Sayang ngga sekalian beli yang warna turqouise dan lime sekalian, soalnya stock cepet abis.

Bisa dilaksanakan karena kebetulan di kantor ada gym yang menyediakan treadmill sehingga saya bisa latian dari NOL: mulai dari jalan kaki, jalan kaki + lari 2 menit sampe belajar lari konstan selama 20 menit. Akses ke Taman Monas di hari kerja dan Car Free Day Jakarta di hari Minggu terbuka lebar sehingga saya bisa mencoba lari outdoor. Selain itu flexi time di kantor memungkinkan saya ke Monas/gym dulu baru masuk kantor jam 08.30 pagi karena tokh ujungnya juga emang hampir setiap hari lembur sampai jam 19.00an. Hari Minggu kadang lari (beda jalur) sama Babe Aris di CFD (Kaylia seneng nongkrongnya aja di GBK). Jadi dari sisi waktu, sarana dan family time  bisa diatur. Kalo ikutan event, Babe ama Kay diajak juga biar sekalian piknik. Untung bisa kompak, kalo enggak kan rada nggak enak hati tuh lari sendirian, serasa bersenang-senang di atas penderitaan orang lain...
Samsung Runseries #1 Jakarta 10K, 2014

Seperti yang saya bilang tadi, udah lama saya kepikiran untuk mulai olahraga lagi. Olahraga yang saya pilih dan (mungkin akhirnya saya) sukai. Bukan olahraga pas HUT RI di kantor (saya dikejar-kejar untuk menggenapkan pemain di tim voli atau basket) atau  olahraga pas gathering dan senam pagi bersama. Saya ingin sesuatu yang personal, bisa dilakukan sendirian aja, nggak mesti barengan atau tergantung pada orang lain. Waktu itu saya sedang malas yoga, padahal istrukturnya udah didatangkan ke kantor. Padahal yoga udah menolong saya ngatasin migren dan pegal-pegal punggung. Padahal biaya lumayan terjangkau. Padahal...padahal... Dasar males aja sayanya.

Saya ngerasa masih sreg dengan olahraga lari ini sepanjang itu menyenangkan, ngga dijadikan ajang dengan agenda aneh-aneh. Dunia ini udah repot dengan segala macam persaingan, jadi pastinya saya males banget kalo lari jadi media untuk bersaing atau adu hebat (hahaha, itu khas banget ngeles-nya golongan yang kalah mulu). Jadi saingannya dengan diri sendiri aja. Kalo bisa bikin time record lebih baik ya syukur, kalo enggak yaa diterima aja dulu.. nanti-nanti baru usaha lagi, ngga usah terlalu dipikirin.

Jika lari merupakan trend, saya anggap sebagai hal yang menguntungkan karena semakin banyak orang yang melakukannya maka semakin banyak pengetahuan dan sharing pengalaman yang bisa kita manfaatkan. Temen kantor bikin running club yang terbuka dan supportive untuk semua orang termasuk forever newbie seperti saya yang selalu menempati urutan akhir-akhir ...hehe. Tentunya di dunia maya pengetahuan dan pengalaman itu lebih bebas dibagi dan dialirkan ke mana-mana. Group chat, website dan blog pribadi nggak cuman berisi foto narsis doang kok, banyak hal yang bisa saya pelajari dari orang-orang yang sebenernya ngga saya kenal sama sekali. 

Ujung-ujungnya saya simpulkan bahwa apapun pencapaian mereka –besar atau kecil– merupakan hasil dari mengelola kesehatan, waktu, energi, uang, dan kehidupan selain urusan lari. Perihal ada yang eksis lebay, big talker, egois, narsis, dll itu mah biasa. Orang kaya itu kan ada juga di olahraga atau kegiatan apapun di dunia ini, udah bawaaan orok masing-masing.

Beberapa website dan blog yang saya suka intip ttg olahraga lari adalah: Runner’s World, Singapore’s Running Society, dan Dunia Lari Indonesia.
 


Jadi, lari itu aktifitas atau salah satu cara aktualisasi diri nih?

Kesimpulannya: ngga bisa dipisah yaaa... sama deh dengan kegiatan lain. Dari sekedar beraktifitas, lama-lama serius dan bisa jadi cara untuk tetap sehat, cantik dan seksi :p. Lalu jadi lahan untuk eksis, untuk persahabatan, untuk berprestasi, untuk menorehkan personal legend, untuk mencari dan menjawab banyak pertanyaan di dalam diri masing-masing.

Di luar faktor tren dan narsisme, mungkin awalnya iseng atau pingin sehat aja,  lama-lama jadi ketagihan ‘feeling good’ from natural #endorphin, trus jadi antusias untuk terlibat lebih dalam karena manfaatnya ternyata seperti mendapatkan nafkah/kepuasan lahir batin (jiaahh...kaya perkawinan nih), dan akhirnya berkomitmen untuk menjadikannya life-time activity

Semoga saya dan keluarga tetep semangat untuk berusaha hidup sehat dengan berlari atau kegiatan lainnya. Suatu saat saya pasti bosan, frustasi, atau malas atau ngga mampu lari berlari... Dan hal itu mungkin harus diterima dengan lapang dada dan kesadaran bahwa we run to make our lives better, filled with good deeds and great actions. If it doesn't make it, maybe we should stop. Or wiser: maybe we should take a look back that we might not do it right all this time.

Pocari Sweat Run Indonesia 2014 – 11 Mei 2014



Hello there! Udah lama banget yaa event-nya, tp baru sempet sekarang nengokin blog ini lagi. Nggak papa deh, highlights-nya aja yang saya sharing. Mohon mangap fotonya seadanya.

Kenapa niat ikutan Pocari Sweat Run? Ini adalah pertama kali Pocari Sweat mengadakan event di Indonesia. Mungkin sebagai produsen minuman olahraga, mereka ngeliat pangsa pasar yang besar di negara kita, terlebih dengan adanya tren lari di Indonesia. Pocari Sweat mengambil moto #SAFERUNNING. Sebelumnya Pocari Sweat rajin menyelenggarakan event lari di Singapura sejak 2012. Pemenang race dan undian di Indonesia akan ikut serta di Pocari Sweat Run Singapore tgl 8 Juni 2014. Yang jelas sih saya tertarik karena kaosnya ada yang girl’s cut with V-neck, race pack OK, medalinya bagus serta penyelenggaraannya rapi. Ya iya sih, untuk ukuran race 10K biaya Rp250.000 termasuk ngga murah juga, jadi wajar untuk ngarep :p

Pocari Sweat Run (www.pocarisweat.co.id/run/info.php) adalah acara 10K pertama saya di tahun 2014, jadi pengennya saya sih saya bisa ngelakonin dg lebih baik dibanding Stanchard 10K dan Nike We Run 10K tahun lalu. Saya niatnya ngga pake jalan kaki sama sekali.

Proses pendaftaran berjalan mudah, ada diskon 10% buat group registration  temen-temen kantor jadi untuk 10K cuman bayar Rp225.000. Kaylia, Ihsan, dan Mba Siti ikut yang 5K. Race pack collection juga lancar. Pre-race entitlement  yang utama adalah T-Shirt Adidas warna biru (bagus deh kaosnya) dan waterbottle Pocari 1 liter. Yang lain saya dah lupa.

Pas hari H, jam 4-an pagi kita sekeluarga udah berangkat menuju Alam Sutera, Serpong. Kami disambut hujan yang cukup lebat. Setelah dapat parkir di basement mall Living World, kita sholat Subuh di mushola kecil di parkiran karena ikutan peserta lain. Padahal ada Executive Mushola  juga di lantai yang sama, yang lebih bersih dan nyaman. Ya sutra lah, namanya juga ngga tau karena ngga pernah ke mall tsb.

Race sempat ditunda sekitar 10-15 menit untuk menunggu peserta lainnya yang sempat terjebak hujan di perjalanan sekalian panitianya berusaha mengeringkan sebagian jalur awal supaya ngga licin. Akhirnya race 10K yang diikuti sekitar 2500an peserta dimulai jam 06.15. Kondisi sehabis hujan ternyata membawa berkah: udara lebih segar dan nggak terlalu panas.

Saya yang emang udah bawaannya lambat plus niat ngga pake jalan, ngambil posisi mojok aja di sisi kiri supaya ngga ngalangin jalan orang lain. Tapi lama-lama ngga enak juga ternyata, pandangan saya jadi kealingan orang di depan. Padahal saya seneng banget liat-liat pemandangan kompleks Alam Sutera yang rapi. Walhasil saya ambil jalur di tengah-tengah, orang yang mau nyalip bisa lari dari kiri atau kanan saya hehehe.


Water station (WS) menyediakan air mineral dan Pocari setiap 1,5 km. Biasanya kan di race lain minimal setiap 2,5 km. Wah hebat deh...namanya aja POCARI RUN, kita ngga bakal dehidrasi deh. Saya bawa botol minum sendiri dan baru berhenti di WS untuk isi ulang Pocari di KM7,5 dan minum.
Satu-satunya penampakan di Pocari Sweat Run 2014

Alhamdulillah, saya bisa finish urutan 1.838 dari 2.235 peserta 10K closed (hanya WNI) sesuai dengan target untuk tidak berjalan, kecuali minum beberapa detik. Catatan waktu chip 1 jam 30 menit. Saya udah pasrah, pasti ngga ada foto saya waktu finish karena biasanya fotografer race-nya udah bosen nungguin. Kelamaan sih... hahaha. Saya liat di photo gallery peserta yang difoto dengan tampang puas di finish line adalah yang finish time 10K-nya di bawah 1 jam (ada Rio Febrian juga lhoooo....*kedip-kedip*). Setelah finish, peserta mendapatkan medali finisher dan handuk dari Pocari (lagi-lagi warna biru). Senangnyaa....
 

Foto diambil dari website Pocari Sweat Run
Kombinasi antara cuaca yang bagus, hidrasi berlimpah, penyelenggaraan yang oke, jalur yang rata dan post-race entitlement yang menghibur itu menunjukkan kesuksesan Pocari Run di tahun 2014. All and all, kita sekeluarga happy deh.
Sekali keluar rumah, 2-3 acara dilakoni rombongan sirkus: lari, nengok keluarga di Tangerang, dan belanja bulanan.